News / Internasional
Senin, 13 Juli 2026 | 07:57 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia meningkat. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • Serangan militer Amerika Serikat dan Iran memicu kenaikan harga minyak dunia di atas 3 persen.

  • Jaminan terbukanya Selat Hormuz oleh Presiden Trump berhasil meredam lonjakan harga yang lebih ekstrem.

  • Kenaikan harga minyak mentah ini diprediksi segera menaikkan harga BBM dan melemahkan bursa saham.

Suara.com - Harga minyak dunia langsung melonjak lebih dari 3 persen menyusul aksi saling serang antara militer Amerika Serikat dan Iran. Lonjakan ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global dan potensi kenaikan harga bahan bakar di tingkat konsumen.

Aksi saling serang yang terjadi sepanjang akhir pekan kemarin langsung memanaskan situasi di jalur perdagangan laut yang vital. Meskipun demikian, sejumlah analis menilai respons pasar sementera ini masih tergolong wajar dibandingkan gejolak pada awal konflik.

Dikutip dari CNN Internasional, eskalasi terbaru ini membuat minyak Brent merangkak naik ke level 78,99 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS menyentuh 73,87 dolar AS per barel. Pergerakan harga ini memutus tren penurunan yang sempat terjadi sejak menyentuh angka tertinggi beberapa bulan lalu.

Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].

Tren penurunan harga minyak sebelumnya terjadi karena adanya intervensi komunikasi politik dari Gedung Putih. Pihak otoritas Amerika Serikat berupaya keras meyakinkan pelaku pasar bahwa jalur logistik energi global akan tetap aman.

Pendiri sekaligus Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, memberikan analisisnya mengenai dinamika pergerakan harga komoditas strategis ini kepada CNN.

Bob McNally menambahkan bahwa koreksi harga yang terjadi belakangan ini dipicu oleh jaminan dari Presiden Donald Trump. Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas kapal tanker di kawasan Teluk.

Di sisi lain, pemerintah Iran memberikan peringatan keras kepada industri pelayaran internasional agar tidak menggunakan rute alternatif. Pihak Teheran melarang kapal-kapal logistik melintasi jalur perairan di sepanjang garis pantai Oman.

Namun, badan penasihat angkatan laut menyatakan bahwa jalur selatan Oman saat ini masih aman untuk dilewati kapal dagang. Ketegangan logistik ini diprediksi akan segera berdampak pada biaya energi masyarakat dalam waktu dekat.

Berdasarkan data terkini dari AAA, rata-rata harga bahan bakar minyak eceran per galon di Amerika Serikat kini telah mencapai 3,87 dolar AS. Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 30 persen sejak konflik bersenjata ini pecah pertama kali pada akhir Februari.

Baca Juga: Perang Terbuka AS-Iran! Selat Hormuz Resmi Ditutup, Harga Minyak Dunia Terancam Meroket

Harga bahan bakar sempat menyentuh rekor tertinggi pada momen libur nasional Memorial Day akibat tingginya aktivitas mobilitas warga. Penurunan yang terjadi setelah liburan tersebut tidak lepas dari meredanya sentimen perang di pasar minyak mentah.

Sementara pasar komoditas minyak mengalami lonjakan, sektor pasar saham justru menunjukkan respons yang berkebalikan. Indeks berjangka wall street mengalami tekanan tipis karena pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati.

Kontrak berjangka Dow Jones dan S&P kompak mengalami penurunan sebesar 0,2 persen pada perdagangan terbaru. Di saat yang sama, pergerakan indeks berjangka Nasdaq juga terkoreksi dengan penurunan sebesar 0,3 persen.

Kenaikan harga minyak dunia ini merupakan dampak langsung dari kerentanan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur sepertiga minyak dunia. Perseteruan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kerap kali langsung memicu kepanikan massal pada bursa perdagangan komoditas global.

Sejak konflik bersenjata ini pecah pada akhir Februari, pasar energi terus berfluktuasi tajam dengan puncaknya terjadi pada bulan April saat Brent menyentuh 115 dolar AS per barel. Intervensi verbal dari para pimpinan negara menjadi faktor krusial yang menahan agar harga minyak tidak melonjak tak terkendali dan memicu krisis finansial global.

Load More