News / Nasional
Kamis, 16 Juli 2026 | 13:47 WIB
Pekerja kebersihan menyapu lantai sekolah pascaledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, Selasa (14/7/2026). [ANTARA FOTO/Fitra Yogi/agr]
Baca 10 detik
  • Polda Sumatera Barat mendalami motif perundungan sebagai pemicu RGJ merakit serta meledakkan bom di MAN 3 Padang.
  • Penyidik telah memeriksa 12 saksi.
  • Densus 88 menyita barang bukti perakitan bom yang dipelajari RGJ secara mandiri melalui internet dan grup daring.

Suara.com - Polisi mulai mendalami dugaan perundungan atau bullying yang dialami pelajar berinisial RGJ (17), terduga perakit bom rakitan di MAN 3 Padang, Sumatera Barat. Pendalaman dilakukan setelah muncul pengakuan awal RGJ yang menyebut perundungan sebagai pemicu dirinya nekat meledakan bom di sekolah.

Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Susmelawati Rosya memastikan selain mengusut penyebab ledakan, penyidik kini menelusuri kemungkinan adanya faktor perundungan yang menjadi latar belakang kasus tersebut.

Dari pemeriksaan awal, RGJ mengaku menjadi korban bullying sejak duduk di kelas II. Ia bahkan menyebut ada seorang teman yang diduga menjadi pelaku perundungan.

"Bentuk perundungannya masih kami dalami," kata Susmelawati kepada wartawan, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, penyidik masih mendalami bentuk perundungan yang dimaksud, apakah berupa ejekan, kekerasan fisik, atau bentuk intimidasi lainnya. Seluruh pengakuan tersebut masih diverifikasi melalui pemeriksaan para saksi.

Hingga kini, penyelidikan terkait dugaan bullying berjalan bersamaan dengan pengusutan kasus ledakan. Jumlah saksi yang telah dimintai keterangan pun terus bertambah.

Pada hari pertama penyelidikan, polisi memeriksa tujuh orang yang terdiri atas guru, petugas keamanan sekolah, dan RGJ. Hingga Kamis, total saksi yang telah diperiksa meningkat menjadi 12 orang.

Meski proses penyidikan masih berlangsung, polisi memastikan aktivitas belajar mengajar di MAN 3 Padang telah kembali normal.

Ia menambahkan, fokus utama saat ini bukan hanya mengungkap rangkaian peristiwa, tetapi juga memastikan pemulihan kondisi psikologis pelajar yang bersangkutan.

Baca Juga: Bom Rakitan Siswa MAN 3 Padang Jadi Alarm, Sosiolog UGM Soroti Bahaya Copycat Crime

"Yang paling terpenting itu masalah rehabilitasi pelaku," katanya.

Suasana di MAN 3 Padang usai ledakan bom rakitan. [Suara.com / B.Rahmat]

Barang Berbahaya Disita, Motif Masih Didalami

Sebelumnya, Densus 88 Antiteror Polri mengungkap sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan perakitan bom rakitan milik RGJ.

Dari penggeledahan, petugas menyita kotak hitam, tas, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, baut, serta sejumlah barang lain yang diduga digunakan untuk merakit bahan peledak.

Penyelidikan sementara menunjukkan RGJ diduga merakit bom secara mandiri di rumah menggunakan bahan-bahan yang dibeli melalui internet tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Ia juga mengaku mempelajari cara merakit bahan peledak secara daring dan terinspirasi dari kasus bom di sebuah SMA di Jakarta pada 2025.

Meski demikian, Densus 88 menegaskan motif pasti, target yang diduga menjadi sasaran, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain masih terus didalami.

Penyidik juga sedang memverifikasi pengakuan RGJ yang mengaku mengikuti sejumlah grup daring yang membahas pembuatan bahan peledak.

Dalam insiden tersebut, bom rakitan sempat meledak satu kali di area samping ruang kelas. Ledakan tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka, namun menjadi perhatian serius aparat karena melibatkan seorang pelajar.

Load More