- PAM Jaya melakukan perawatan Instalasi Pengolahan Air di Jakarta Barat dan Jakarta Utara pada 17 hingga 22 Juli 2026.
- Warga Kelurahan Pegadungan mengeluhkan minimnya sosialisasi terkait gangguan distribusi air serta buruknya kualitas air sejak beberapa bulan terakhir.
- Pelanggan tetap membayar beban bulanan meskipun layanan air bersih terhenti dan kualitasnya menurun drastis dalam jangka waktu lama.
Suara.com - Pengumuman PAM Jaya mengenai perawatan Instalasi Pengolahan Air (IPA) dinilai belum tersosialisasi secara optimal kepada masyarakat. Bahkan, sejumlah warga mengaku aliran air sudah bermasalah jauh sebelum pengumuman resmi disampaikan, seperti yang terjadi di Kampung Maja, Kelurahan Pegadungan, Jakarta Barat.
Kelurahan Pegadungan menjadi salah satu dari tujuh wilayah di Jakarta Barat dan Jakarta Utara yang terdampak pekerjaan perawatan IPA yang berlangsung pada 17–22 Juli 2026.
Ketua RT 04/RW 02 Kelurahan Pegadungan, Sanusi, mengatakan dirinya belum menerima informasi, baik dari pihak kelurahan maupun PAM Jaya, terkait potensi gangguan distribusi air akibat pekerjaan tersebut.
"Belum sampai sih info soal itu," kata Sanusi kepada Suara.com, Jumat (17/7/2026).
Sanusi bercerita, setelah Hari Raya Idulfitri 2026 sempat dilakukan penggalian di Jalan Peta Utara yang berada tidak jauh dari permukiman warga. Namun, sejak pekerjaan itu dilakukan, kualitas air yang mengalir justru memburuk dan kerap mengeluarkan bau tidak sedap.
Keluhan serupa disampaikan warga setempat, Jono (50). Menurutnya, air PAM Jaya di rumahnya sudah tidak mengalir normal sejak April 2026 atau sekitar tiga bulan terakhir.
Untuk membuktikannya, Jono mengajak Suara.com melihat meteran air milik tetangganya, Sumiati Kusum (60). Saat katup dibuka, air hanya mengalir sedikit sebelum akhirnya berhenti total dalam hitungan detik.
Padahal, saat pertama kali dipasang sekitar lima tahun lalu, layanan PAM Jaya dinilai sangat memuaskan. Air mengalir deras, jernih, dan terasa segar. Namun kondisi itu tidak berlangsung lama.
Seiring waktu, air yang keluar kerap berwarna keruh seperti air cucian beras, bahkan terkadang hitam atau kehijauan. Tak jarang pula mengeluarkan bau tak sedap dan berbusa, sehingga warga harus membuang air beberapa saat hingga kondisinya membaik.
Baca Juga: Air Bersih Belum Tentu Aman? Mengapa Keluarga Modern Kini Lebih Selektif Memilih Air Minum
"Kadang kayak air cucian beras, kadang hitam, kadang hijau. Warna-warni kayak kupu-kupu," ujar Jono.
Ironisnya, meski air sering tidak mengalir atau kualitasnya buruk, warga tetap dikenakan biaya beban bulanan sekitar Rp85 ribu hingga Rp100 ribu.
Karena tidak lagi bisa mengandalkan air PAM, Jono kembali menggunakan air tanah yang dipompa dengan mesin sumur. Namun kualitas air tanah di wilayah tersebut juga kurang baik karena berwarna kecokelatan dan terasa lengket. Saat musim kemarau, ia pun khawatir pasokan air tanah akan semakin menipis.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Jono kini harus mengeluarkan sekitar Rp300 ribu per bulan untuk mendapatkan pasokan air dari jaringan perumahan di sekitar tempat tinggalnya, di samping tetap mengandalkan air sumur.
Sumiati juga mengalami kondisi serupa. Kini ia hanya mengandalkan air tanah setelah air PAM tak lagi bisa diandalkan.
Ia mengenang, pada awal pemasangan, kualitas air PAM sangat baik dan rutin dipantau oleh petugas Dinas Sumber Daya Air. Namun pengawasan itu, menurutnya, tidak pernah lagi dilakukan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Air PAM Macet Berbulan-bulan, Warga Pegadungan Rogoh Kocek Dua Kali demi Air Bersih
-
Mengapa Kita Begitu Bergantung pada Terigu yang Tidak Bisa Kita Tanam?
-
PFII Jangan Sampai Jadikan Bali Surga Para Penghindar Pajak
-
Bukan Jay Idzes, Rekannya di Sassuolo Resmi Direkrut Leeds United
-
Lewat Kerja Sama LoI Dengan KDEI, BRI Taipei Dorong Literasi Keuangan Pekerja Migran
-
Sinergi Dalam LoI, BRI Taipei dan KDEI Tingkatkan Akses Keuangan Pekerja Migran Indonesia
-
It Ends With Us, Novel yang Membuka Mata tentang Toxic Relationship
-
LoI Sinergi BRI Taipei Dengan KDEI: Berikan Literasi Keuangan Bagi Pekerja Migran Indonesia
-
BRI Taipei Tingkatkan Edukasi Keuangan dan Layanan Bagi Diaspora Indonesia
-
Ini Cara Rahasia Membuat Ombre Lips Natural Awet 20 Jam ala MUA, Anti Ribet Re-apply!