News / Metropolitan
Senin, 20 Juli 2026 | 17:40 WIB
Muhammad Azzuhri Ramdhani, pencetus Smart Flood Warning System, alat pendeteksi banjir RT 01 dan RT 02 RW 10, Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Muhammad Azzuhri dan warga RT 02/RW 10 Pondok Labu menciptakan alat pendeteksi banjir swadaya untuk memberikan peringatan dini warga.
  • Sistem peringatan dini ini menggantikan metode tradisional yang tidak efektif agar warga dapat segera menyelamatkan diri saat banjir.
  • Keberhasilan alat tersebut kini didukung program CSR untuk memperluas cakupan deteksi banjir di wilayah rawan lainnya di Jakarta.

"Ada warga yang punya sirine bekas, ada yang punya panel bekas. Kami pinjam dulu untuk uji coba. Setelah terbukti berhasil, baru kami mengganti komponennya dengan yang lebih baru," jelasnya.

Sebuah proses coba-coba yang sarat semangat gotong royong, mengubah barang bekas menjadi penjaga keselamatan bersama.

Menunggu Sirene, Bukan Lagi Mengecek ke Luar Rumah

Perubahan yang dirasakan warga setelah alat ini terpasang cukup signifikan. Sebelum adanya alat ini, informasi ke warga itu hanya berupa kentongan, toa masjid, ataupun suara dari tiang listrik yang dipukul.

“Sekarang hanya menunggu sirine berbunyi saja," tutur Azzuhri.

Ia juga menjelaskan bagaimana intensitas hujan berkaitan langsung dengan ketinggian air yang mengancam permukiman.

Hujan deras selama sekitar 30 menit bisa memicu banjir setinggi 50 sentimeter, sementara hujan yang berlangsung 45 menit hingga satu jam berpotensi mendorong ketinggian air hingga sekitar satu meter.

Skala kebutuhan yang dilayani alat ini pun tidak kecil. Di RT 01 RW 10 saja terdapat 158 kepala keluarga dengan total 540 jiwa, sedangkan RT 02 RW 10 dihuni 120 KK dengan 386 warga. Total hampir seribu nyawa yang kini bergantung pada dengungan sirene sebagai penanda waktu.

Dari Swadaya ke Dukungan CSR

Baca Juga: Mengapa Desa Pulu Memilih Sereh Wangi untuk Memulihkan Lahan yang Rusak Akibat Banjir?

Setelah keberhasilan alat pertama di RT 02, langkah berikutnya datang lewat jalur berbeda.

"Kalau untuk yang di RT 01, kami difasilitasi, dikasih akses sama Kelurahan Pondok Labu untuk mengirim proposal ke CSR FIF Group. Jadi, kami sejauh ini ada 2 alat pendeteksi banjir," lanjut Azzuhri.

Smart Flood Warning System, alat pendeteksi banjir RT 01 dan RT 02 RW 10, Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. (Suara.com/Adiyoga)

Dua wilayah itu dipilih bukan tanpa alasan, karena keduanya merupakan kawasan paling sering terdampak luapan Kali Grogol, sekaligus kampung sang penggagas sendiri.

Namun, dua alat itu jelas belum cukup untuk kawasan seluas ini. Letak permukiman yang diapit oleh Kali Grogol dan Kali Krukut membuat ancaman banjir tersebar luas.

Setidaknya, enam rukun warga dengan sekitar 17 hingga 18 rukun tetangga berada dalam zona rawan. Kelurahan Pondok Labu pun telah mengancang-ancang untuk memperluas pemasangan alat serupa ke titik-titik rawan lainnya, dengan mengandalkan dukungan program CSR dan kolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan.

Peringatan yang Berhak Didapat Setiap Warga

Bagi Azzuhri, seluruh upaya ini berpijak pada satu keyakinan sederhana namun mendasar. "Alat ini dibuat supaya masyarakat mendapatkan informasi lebih awal. Karena banjir datang tanpa permisi, tetapi masyarakat berhak mendapatkan peringatan dini," tuturnya.

Dari alat seadanya yang dirakit dari barang bekas warga, kini lahir sebuah sistem yang mengubah cara satu kampung menghadapi ancaman tahunan mereka. Dari kepanikan mendadak di tengah malam, menjadi kesiapsiagaan yang tenang, cukup dengan menunggu bunyi sirene.

Kisah dari Pondok Labu ini menjadi bukti kecil namun nyata bahwa solusi atas persoalan besar tidak selalu harus menunggu proyek besar dari atas. Kadang, ia cukup dimulai dari niat baik segelintir pemuda, sedikit pengetahuan teknologi, dan kemauan untuk saling menjaga.

Load More