News / Nasional
Selasa, 21 Juli 2026 | 13:26 WIB
Ilustrasi siswa berada di depan gerbang SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi di Jakarta Selatan. Lima bangunan di sekolah tersebut ambruk sejak 2024. (Suara.com/Adiyoga)
Baca 10 detik
  • Gedung SDN 09 Kebayoran Lama Selatan roboh pada tahun 2024 dan hingga kini belum mendapatkan perbaikan renovasi total.
  • Siswa terpaksa bersekolah sore hari di gedung lain, yang berdampak negatif pada waktu belajar dan kegiatan keagamaan mereka.
  • Wali murid mendesak pemerintah DKI Jakarta segera memberikan kepastian jadwal pembangunan kembali sekolah agar kegiatan belajar normal kembali.

Ia menyebut, salah satu alasan yang pernah disampaikan kepada para wali murid adalah bahwa anggaran renovasi sedang dialihkan terlebih dahulu ke sekolah lain yang dianggap kondisinya "lebih parah."

Klaim itu memunculkan pertanyaan besar yang belum terjawab: sekolah mana yang dimaksud? Berdasarkan kriteria apa prioritas itu ditentukan?

Dan jika benar ada sistem antrean renovasi sekolah rusak di DKI Jakarta, di posisi ke berapa SDN 09 berada? Mengingat kerusakannya bukan sekadar retak atau bocor, melainkan ambruk total.

Sementara birokrasi berjalan tanpa kejelasan waktu, kehidupan ratusan anak-anak justru berubah drastis.

Evi (33), salah satu wali murid SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi di Jakarta Selatan. (Suara.com/Adiyoga)

Sekolah yang "Menumpang"

Sejak bangunan roboh, seluruh kegiatan belajar-mengajar SDN 09 dipindahkan ke SDN 11 yang berlokasi tak jauh dari sana. Konsekuensinya, siswa SDN 09 harus berbagi gedung, dan itu berarti berbagi jadwal.

Jika sebelumnya anak-anak masuk pagi dan pulang siang, kini mereka baru masuk sekolah pada siang hari dan baru pulang pukul lima sore.

Perubahan jadwal ini terdengar sepele di atas kertas. Namun bagi anak-anak dan keluarga mereka, dampaknya jauh lebih dalam.

Di lingkungan tempat SDN 09 berada, kebiasaan mengaji sore selepas Ashar adalah bagian yang tak terpisahkan dari keseharian anak-anak. Ketika jam pulang sekolah bergeser menjadi pukul lima sore, waktu untuk mengaji pun ikut hilang.

Baca Juga: Rehabilitasi SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Sudah Direncanakan, Tertunda Imbas Pemangkasan Anggaran

"Sudah dua tahun tidak ngaji lagi," kata Evi.

Ia menuturkan, beberapa anak bahkan secara terang-terangan menyampaikan kerinduannya kepada orang tua mereka.

"Ya Allah, kapan ya sekolah pagi lagi biar aku bisa ngaji?"

Bagi Evi dan wali murid lain, kalimat sesederhana itu menyimpan kesedihan yang tidak kecil.

"Yang kita korbankan agamanya," ujarnya lirih.

Situasi darurat ini bahkan memaksa sebagian siswa kelas 2 untuk belajar di musala, karena keterbatasan ruang kelas yang tersedia di SDN 11.

Sejumlah orang tua terpaksa "mengikhlaskan" anak mereka duduk di lantai musala, asalkan tetap bisa masuk pagi dan tak kehilangan waktu belajar agama di sore hari.

"Karena numpang, jadi sekolah sore. Anak-anak juga mungkin kurang nyaman, namanya kita menumpang," kata Evi.

Ketika Kepercayaan Mulai Runtuh Bersama Gedungnya

Ketidakpastian yang berlarut-larut ini pada akhirnya membawa konsekuensi yang lebih besar dari sekadar jadwal yang berantakan. Banyak orang tua memilih memindahkan anak mereka ke sekolah lain.

Angkanya bicara sendiri. Jika sebelumnya SDN 09 memiliki total siswa mendekati 300 orang dari 10 rombongan belajar, kini jumlahnya tersisa sekitar 274 siswa.

Yang lebih memprihatinkan, penerimaan siswa baru tahun ajaran ini jauh dari kata ideal. Hanya terkumpul 38 siswa untuk dua kelas, jauh di bawah kapasitas normal 32 siswa per kelas.

"Bahkan yang kelas 5 saja, yang sudah mau setahun lagi lulus, ada yang mau pindah," kata Evi, menggambarkan betapa dalamnya erosi kepercayaan terhadap masa depan sekolah tersebut.

Momen yang paling menyentuh datang saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ini. Para orang tua yang hadir mendampingi anak-anak kelas satu, yang baru pertama kali mengenal bangku sekolah, tak bisa menyembunyikan keresahannya.

"Pada komplain lah. Pada sangat amat miris," ujar Evi.

Ia mengaku dirinya dan wali murid kelas atas sudah cukup terbiasa dengan kondisi ini, tapi bagi orang tua siswa baru, pemandangan gedung sekolah yang runtuh menjadi kejutan yang menyakitkan.

"Cuma dia minta, yang jelas ya bertanya-tanya: kenapa, kenapa, kenapa kok belum?"

Kondisi gedung SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi di Jakarta Selatan menjadi sorotan publik usai videonya viral di media sosial. (Suara.com/Adiyoga)

Harapan ke Pramono Anung

Ironisnya, bangunan SDN 09 roboh tepat pada hari libur Pilkada dua tahun lalu. Dan kini, laporan mengenai nasibnya yang terbengkalai kembali mengemuka. Bagi Evi, momentum ini bukan kebetulan yang ingin ia sia-siakan.

"Tolong, mungkin Bapak Gubernur terketuk hatinya untuk menindaklanjuti, segera cepat ditangani," ucapnya, penuh harap.

Permintaan mereka sebenarnya sederhana. Bukan kompensasi, bukan pula tuntutan berlebihan.

"Kami hanya butuh kepastian, ‘Oh, tahun sekian dibangun’, atau apa gitu aja. Besar harapan kami seperti itu aja," kata Evi.

Ia menambahkan, pihak sekolah maupun wali murid tidak pernah mencurigai adanya persoalan konstruksi yang disengaja atau kelalaian dalam perawatan. Bangunan itu memang sudah berusia lama, dan perbaikan terakhir yang dilakukan hanya sebatas penggantian genteng menggunakan baja ringan, bukan renovasi total.

Tidak ada tanda-tanda kerusakan struktural yang mencolok sebelum kejadian. Justru karena tak ada tanda peringatan itulah, keruntuhannya terasa semakin mengejutkan dan sulit diterima.

Bukan Sekadar Gedung yang Rusak

Dua tahun sudah berlalu sejak reruntuhan itu berdiri diam di tengah kompleks sekolah. Dibiarkan begitu saja, seperti monumen dari sebuah janji yang belum ditepati.

Bagi anak-anak SDN 09, ini bukan lagi sekadar cerita tentang bangunan yang butuh diperbaiki. Ini tentang jam mengaji yang hilang, tentang teman-teman sekelas yang satu per satu pindah sekolah, dan tentang pertanyaan polos yang terus diulang setiap hari, ‘Kapan kami bisa sekolah pagi lagi?’.

Evi, mewakili para wali murid lainnya, menutup ceritanya dengan permintaan yang sama sekali tidak muluk-muluk.

"Minta yang terbaik, sudah. Kasihan lah anak-anak kami."

Di Jakarta Selatan, salah satu kota administrasi DKI Jakarta selaku pemegang anggaran daerah terbesar di Indonesia, pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal ada tidaknya dana untuk membangun kembali lima ruang yang roboh. Pertanyaannya adalah, berapa lama lagi anak-anak ini harus menunggu?

Load More