News / Internasional
Rabu, 22 Juli 2026 | 12:08 WIB
AS menggempur fasilitas militer Iran dan mengancam sasaran situs nuklir bawah tanah Natanz. (US Army)
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat menggempur sasaran militer Iran selama 11 malam berturut-turut.

  • Trump mengancam akan menyerang fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Natanz.

  • Konflik memanas merusak jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz dan Laut Merah.

Gangguan lalu lintas laut ini memicu lonjakan fluktuasi harga bahan bakar global secara signifikan. Ketidakpastian keamanan maritim membuat para pelaku usaha pelayaran internasional harus menanggung risiko biaya ekstra.

Eskalasi pertempuran ini juga membakar anggaran pertahanan Amerika Serikat dalam jumlah besar. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengungkapkan biaya perang dengan Iran telah membengkak hingga 37,5 miliar dolar AS.

Hegseth memperingatkan Senat AS bahwa latihan militer domestik terpaksa dipangkas jika anggaran tambahan tidak segera disetujui. Lonjakan biaya ini naik hampir 8 miliar dolar AS dibanding perkiraan pada Mei lalu.

Hubungan Washington dan Tehran sebenarnya sempat mereda lewat kesepakatan gencatan senjata pada April. Kedua pihak bahkan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pada Juni untuk menghentikan operasi militer selama 60 hari.

Namun, kesepakatan damai itu hancur hanya dalam waktu tiga minggu setelah penandatanganan. Trump menyatakan gencatan senjata "berakhir" menyusul insiden saling serang kapal di Selat Hormuz yang kembali memicu pertempuran terbuka.

Load More