Suara.com - Maraknya pertumbuhan kota, pembangunan jalan serta infrastruktur membutuhkan pasir dalam jumlah sangat besar. Namun, pengambilan pasir dari sungai secara berlebihan bisa menyebabkan kerusakan alam.
Fenomena itu mendesak para peneliti di Nanyang Technological University untuk mengkaji lebih mendalam. Mereka menilai bahwa masalah ini bisa dikelola dengan lebih baik jika pemerintah dengan sigap melacak penambangan pasir lebih awal.
Hasil kajian yang terbit di jurnal Reviews of Geophysics membeberkan bahwa penambangan pasir dan kerikil sungai menjadi tantangan yang terus dihadapi hingga saat ini.
Tingginya kebutuhan urbanisasi, pengembangan infrastruktur, degradasi sungai, dan keamanan masyarakat membuat penambangan tersebut terus terjadi.
Mereka menemukan bahwa penambangan pasir dan kerikil dalam jangka tahunan sering kali melebihi dari batas sedimen alami.
Hal itulah yang bisa mengakibatkan dasar sungai menjadi lebih dalam. Selain itu, tepian sungai lebih ringkih sehingga permukaan air tanah menjadi turun.
Rusaknya kualitas sungai juga berdampak pada kualitas air yang dihasilkan. Di sisi lain, batas antara air asin dan air tawar menjadi kabur. Kaburnya batas ini bisa mencemari muara, delta, hingga sumur air bersih milik warga pesisir.
Tak hanya itu, perubahan yang diakibatkan oleh penambangan ini merembet pada kerusakan infrastruktur; jembatan, jalan, dan bangunan. Sementara itu, habitat sungai yang terganggu ini bisa memengaruhi sektor pertanian, perikanan, hingga mata pencaharian.
Ketua Peneliti ini, Edward Park, mengatakan bahwa penambangan pasir sungai memang jadi masalah serius. Tetapi, solusi untuk mengatasi permasalahan ini juga tidak kalah penting.
Baca Juga: Sebulan Tak Diguyur Hujan, Sungai Cisadane Mulai Mengering
“Pasir sangat penting untuk pertumbuhan kota, termasuk di Singapura dan Asia Tengagara, tetapi penambangannya dapat memberi tekanan pada sungai dan masyarakat yang bergantung padanya,” katanya.
Tim NTU mendesak pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini dengan lebih baik, seperti menentukan batas wajar penambangan pasir sungai atau melakukan survei di lapangan.
“Tinjauan kami menunjukkan bahwa pemerintah dapat mengelola hal ini dengan lebih baik dengan memperlakukan penambangan pasir sebagai masalah DAS (Daerah Aliran Sungai), menggunakan pemantauan satelit, survei lapangan, dan analisis neraca sedimen untuk memutuskan di mana penambangan dapat dilakukan, berapa banyak yang dapat diambil, dan area mana yang harus dilindungi,” tambahnya.
Ketimpangan Data dalam Penambangan Pasir
Kebutuhan pasir yang terus meningkat seiring dengan perluasan kota dan pembangunan perumahan, jaringan transportasi, dan perlindungan pantai di berbagai negara.
Namun, masih banyak ditemukan negara yang kekurangan data dasar untuk pengelolaan penambangan pasir sungai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
Terkini
-
Bawa Modal Rp800 Juta Demi 1 Kg Sabu, Pengedar Asal Gunung Batu Diringkus Polres Cimahi
-
Kejagung Rotasi Pejabat, Rinaldi Umar Ditunjuk Jadi Direktur Penyidikan Jampidsus
-
Dibatalkan Sepihak Usai Daftar Ulang, Orang Tua Siswa SMAN 1 Cileungsi Lapor Dedi Mulyadi
-
Tak Sekadar Bersih-Bersih, Mandi Kini Jadi Ritual Relaksasi untuk Jaga Kesehatan Mental
-
Babak Pertama Final AFF Women's Cup 2026: Timnas Putri Indonesia Unggul 1-0
-
BRI Dukung BKKBN Salurkan Bantuan Keluarga Berisiko Stunting di Kepulauan Talaud
-
Diskon Mako Bakery Khusus Nasabah BRI, Makan Enak Bayar Gak Sampai Rp20 Ribu!
-
Jonatan Christie Bersyukur Cepat Beradaptasi, Lolos ke Babak Kedua China Open 2026
-
Promo Terbaru BRI di Marugame Udon, Makan Kenyang Cuma Bayar Rp10 Ribu!
-
Serahkan Dugaan Korupsi MBG ke Penegak Hukum, Kepala BGN Baru Pilih Fokus Kerja