News / Nasional
Rabu, 22 Juli 2026 | 16:30 WIB
Tingginya kebutuhan urbanisasi, pengembangan infrastruktur, degradasi sungai, dan keamanan masyarakat membuat penambangan pasir dan kerikil di sungai terus terjadi (dok.Unsplash/Mukovhe Mavhungu)

Berdasarkan peninjauan dari studi ini, hanya ditemukan sekitar 27 persen yang mengukur besarnya penambangan. Pada sisi lain, hanya 24 persen yang meninjau faktor pendorong permintaan dan 69 persen yang fokus ke dampak.

“Anda tidak dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat Anda lihat. Ketika penambangan pasir tidak dipantau dengan baik, pemerintah sering kali baru menanggapi setelah sungai telah berubah dan masyarakat telah terkena dampaknya,” ujarnya.

Sebagai contohnya, tim memperkirakan jumlah pasir di Sungai Mekong mencapai 50 juta lebih metrik ton telah diekstraksi. Padahal jumlah yang diizinkan hanya sekitar 20 juta metrik ton. Sekitar 60 persen dari total jumlah tersebut dikeruk secara illegal.

“Data yang lebih baik akan membantu regulator bertindak lebih awal, mulai dari menetapkan batasan ekstraksi dan menegakkan izin hingga mengidentifikasi penambangan illegal atau tidak berkelanjutan sebelum kerusakan menyebar,” tambahnya.

Penambangan Pasir Harus Dikelola pada Skala DAS

Tidak sampai di situ, para peneliti mengembangkan model baru untuk kerangka kerja penambangan pasir dan kerikil yang berkelanjutan.

Hal ini menghubungkan permintaan pasir dengan lokasi penambangan, seperti ekosistem sungai dan sekitarnya itu terpengaruh dan upaya pemerintah dalam mengatasi masalah ini.

Namun, hasilnya tidak sesuai skala. Permintaan sering kali didesak oleh pasar konstruksi regional dan global, sedangkan dampaknya dirasakan oleh sungai dan warga lokal setempat. Bahkan dalam beberapa kasus, dampak ini bisa menyebar luas melampaui lokasi pertambangan.

Para peneliti menegaskan bahwa seharusnya penambangan pasir dikelola pada skala DAS untuk menetapkan Batasan ekstrasi berdasarkan neraca sedimen, yang memprediksi kebutuhan pasir dan kerikil yang bisa disuplai dan digantikan secara alami oleh sungai dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Sebulan Tak Diguyur Hujan, Sungai Cisadane Mulai Mengering

Pemantauan Multimetode Membantu Mengelola Penambangan Pasir

Sistem pemantauan harus menggabungkan citra satelit, survei drone, pemetaan sonar, survei lapangan, dan pemodelan sungai.

Citra satelit berfungsi untuk mendeteksi kapal pengeruk, gumpalan sedimen, dan area penambangan aktif di seluruh jaringan sungai yang besar dan terpencil sekalipun.

Sementara, survei drone dan citra udara beresolusi tinggi bisa memetakan lokasi penambangan yang lebih kecil yang sering kali sulit dideteksi.

Pemetaan batimetri—mengukur bentuk dan kedalaman dasar perairan menggunakan teknologi hidroakustik —dapat mendeteksi bekas pengerukan.

Dengan survei sonar berulang kali dapat membantu pemerintah mengukur banyaknya sedimen yang rusak dan dasar sungai yang mengalami perubahan seiring waktu.

Data tersebut bisa dikombinasikan dengan model sungai untuk memproyeksi respons sungai pada berbagai tingkatan ekstraksi.

Kombinasi teknologi tersebut bisa membantu regulator dalam mengidentifikasi area penambangan secara lebih terkontrol agar area yang rawan erosi bisa terlindungi.

Mereka mengatakan bahwa sumber pengadaan yang lebih transparan dan penggunaan pasir yang lebih bertanggung jawab sangat penting dalam keberlanjutan pembangunan infrastruktur dan perlindungan pantai di berbagai negara.

Sebagai langkah pembenahan, tim NTU juga telah mengembangkan teknologi pemanenan pasir berkelanjutan dalam membantu proses identifikasi pasir dan kerikil yang bisa diekstraksi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dan sosial.

Penulis: Chairunisa

Load More