News / Nasional
Kamis, 23 Juli 2026 | 22:54 WIB
Ijtima Ulama di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (23/7/2026). (Suara.com/Cornelius Juan Prawira)
Baca 10 detik
  • DPP PKB menyelenggarakan Ijtima Ulama di Hotel Fairmont Jakarta pada Kamis, 23 Juli 2026.
  • Para ulama merekomendasikan pembenahan PBNU dan pelaksanaan Muktamar ke-35 di Jombang bebas dari praktik transaksional.
  • Ijtima Ulama menyoroti isu krisis lingkungan melalui gagasan Taubatan Ekologi serta pentingnya kepemimpinan PBNU yang visioner.

Suara.com - Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) baru saja menyelenggarakan Ijtima Ulama seluruh Indonesia di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (23/7/2026). 

Salah satu poin krusial yang dihasilkan dalam pertemuan para kiai dan ulama tersebut adalah rekomendasi mendalam terkait pembenahan internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). 

Sekretaris Dewan Syura PKB, Maman Imanulhaq, menyatakan bahwa para ulama merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki arah gerak PBNU ke depan. 

Menurutnya, Ijtima Ulama menginginkan PBNU kembali ke khitahnya sebagai lokomotif civil society. 

"Salah satu rekomendasi dari Ijtima Ulama ini adalah soal tanggung jawab para ulama dan kiai untuk membenahi PBNU. Mereka tetap menginginkan PBNU sebagai lokomotif civil society dalam memberikan kritik yang konstruktif kepada pemerintah, mendampingi umat dalam pemberdayaan ekonomi, serta meningkatkan kualitas pendidikan," ujar Maman. 

Terkait pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang akan digelar di Jombang dalam waktu dekat, Maman menegaskan pesan kuat dari para ulama agar momentum tersebut tidak ternodai oleh kepentingan pragmatis. 

Ijtima Ulama meminta agar Muktamar Jombang menjadi ajang pembersihan organisasi dari praktik-praktik yang tidak sehat. 

"Ijtima Ulama meminta agar Muktamar di Jombang besok betul-betul jauh dari praktik transaksional dan jauh dari praktik yang hanya memanfaatkan PC-PC NU. Sebaliknya, muktamar ini harus melibatkan banyak pihak, memberikan peluang bagi anak muda, serta menonjolkan profesionalisme," tegas Maman. 

Ia menambahkan, Muktamar tersebut harus menjadi ajang untuk merumuskan kembali peran strategis Nahdlatul Ulama sebagai kekuatan penyeimbang bagi kemajuan bangsa. 

Baca Juga: PKB Soroti Ketimpangan Anggaran Pendidikan, Ijtima Ulama Desak Keadilan untuk Pesantren

Selain urusan organisasi, Ijtima Ulama juga menyoroti krisis lingkungan hidup. Maman mengungkapkan bahwa para kiai sangat menaruh perhatian pada gagasan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin) mengenai "Taubatan Ekologi". 

"Banyak masukan dari kiai-kiai, termasuk apa yang dikatakan Gus Muhaimin sebagai 'Taubatan Ekologi'. Bagaimana kita memperbaiki hubungan dengan lingkungan dan menghentikan pola-pola illegal logging. Ini menjadi isu penting yang harus dibawa ke Muktamar NU ke depan," jelasnya. 

Maman menekankan, bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan di tubuh PBNU. Oleh karena itu, sosok yang akan memimpin PBNU ke depan haruslah individu yang paripurna secara keilmuan dan integritas. 

"Muktamar NU ke depan harus dipimpin oleh pemimpin yang amanah, profesional, alim, alamah, dan juga visioner. Bicara soal NU adalah bicara soal Indonesia. Kalau Indonesia ingin baik, maka PBNU harus dipimpin oleh orang-orang yang betul-betul paham ke mana Indonesia akan dibawa," pungkas Maman.

Load More