News / Internasional
Senin, 27 Juli 2026 | 11:17 WIB
Serangan pemukim Israel membakar dua masjid dan memperkeruh situasi keamanan di Tepi Barat. (BBC)
Baca 10 detik
  • Pemukim Israel membakar dua masjid di Tepi Barat dan menyemprotkan grafiti rasis.

  • Pasukan militer Israel menggelar penangkapan massal terhadap puluhan warga Palestina di Tepi Barat.

  • Aksentuasi kekerasan di Tepi Barat terus meningkat signifikan sejak pecahnya perang Gaza.

Suara.com - Aksi brutal kelompok pemukim Israel membakar dua masjid di Tepi Barat memicu keprihatinan mendalam atas keselamatan warga Palestina. Gelombang teror ini menandai eskalasi aksi intoleransi yang secara langsung menyasar simbol keagamaan di wilayah pendudukan.

Insiden tersebut membuktikan bahwa warga lokal kini menghadapi ancaman ganda dari agresi militer dan aksi perusakan dari pemukim radikal. Kondisi ini menuntut langkah perlindungan internasional mendesak untuk mencegah kehancuran fasilitas publik dan tempat ibadah.

Perusakan fasilitas ibadah ini terjadi secara beruntun di dua lokasi berbeda dalam kurun waktu yang berdekatan. Kejahatan ini dinilai sebagai upaya provokasi sistematis untuk merusak kondusivitas wilayah Tepi Barat.

Serangan pemukim Israel membakar dua masjid dan memperkeruh situasi keamanan di Tepi Barat. (BBC)

Kelompok pemukim radikal menerobos area Qusra di bagian selatan Nablus dan membakar bangunan masjid yang tengah dibangun. Api dengan cepat membesar hingga merusak konstruksi fisik dan area depan bangunan.

Wali Kota Qusra, Abdel Azim Wadi membongkar dampak kerusakan parah yang dialami fasilitas ibadah tersebut.

"Api menghancurkan pintu masuk masjid dan bahkan merusak bangunan batunya," kata Wadi dikutip dari Al Jazeera, Senin (27/7/2026).

Pelaku juga meninggalkan coretan grafiti berbahasa Ibrani berisi pesan ancaman di tembok bangunan. Tulisan tersebut secara terang-terangan memuat pesan bernuansa kebencian dan aksi pembalasan.

Pihak tentara Israel mengklaim telah mengutus personel mereka menuju kawasan Qusra usai menerima laporan perusakan. Namun para pelaku pembakaran sudah lebih dulu melarikan diri sebelum petugas tiba di lokasi.

"Para tentara mencari tersangka yang melarikan diri sebelum kedatangan mereka dan mengidentifikasi tanda-tanda pembakaran dan grafiti di tempat kejadian," kata pernyataan itu, menambahkan bahwa polisi Israel akan menyelidiki dan mengumpulkan bukti.

Baca Juga: 4 Warga Palestina Tewas Ditembak dengan Brutal oleh Pemukim Israel, 3 Orang Kritis

Gelombang perusakan tempat ibadah berlanjut ke wilayah Tulkarem dengan skema serangan yang serupa. Kelompok pemukim kembali membakar fasilitas masjid di Desa Kour serta mencoretkan tulisan rasisme.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengutuk keras aksi penyerangan bertubi-tubi terhadap tempat ibadah tersebut.

Kementerian tersebut mengatakan bahwa "kelompok pemukim membakar sebuah masjid di desa Kour di provinsi Tulkarem dan menulis slogan-slogan rasis di dindingnya".

Aksi pembakaran ini terjadi di tengah gelombang penangkapan massal yang dilancarkan tentara Israel terhadap warga Palestina. Otoritas militer menyisir berbagai kawasan permukiman usai bentrokan berdarah di Desa Tell.

Sebanyak 30 warga ditangkap di Desa Tal, 14 di Ramallah, lima di Jenin, delapan di Hebron, tiga di Bethlehem, dan enam di Tulkarem. Operasi penangkapan skala besar ini menyasar puluhan permukiman di seluruh provinsi Tepi Barat.

Ketegangan di Tepi Barat terus melonjak tajam sejak meletusnya perang Gaza pada 7 Oktober 2023. Eskalasi militer yang berkepanjangan memicu maraknya aksi kekerasan bersenjata dan perusakan properti warga Palestina.

Bentrokan sengit di Desa Tell sebelumnya merenggut nyawa empat warga Palestina dan dua tentara Israel. Peristiwa berdarah tersebut memicu operasi militer skala besar di Nablus dan kota-kota sekitarnya.

Load More