-
Universitas Islam Gaza mendirikan lima cabang darurat untuk melanjutkan kegiatan perkuliahan mahasiswa.
-
Mahasiswa kedokteran menjalani pelatihan praktikum langsung di ruang perawatan darurat rumah sakit.
-
Blokade impor peralatan medis memicu tantangan besar dalam merekonstruksi fasilitas laboratorium kampus.
Ketiadaan alat praktikum di kelas menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pengelola laboratorium kampus. Koordinator Laboratorium, Yassin al-Nounou, menyoroti lebarnya jurang antara teori dan praktik saat ini.
Al-Nounou mengenang masa sebelum konflik meluas ketika fasilitas kampus masih lengkap.
"Mahasiswa dulu mempelajari alat tersebut, memahami detailnya, cara kerjanya, dan cara menggunakannya, sehingga mereka mampu bekerja dengannya saat memasuki pasar kerja. Hari ini, tidak ada peralatan dan tidak ada laboratorium seperti yang ada sebelumnya," tegasnya.
Para mahasiswa sempat dilanda kecemasan menghadapi dunia kerja tanpa memegang alat laboratorium langsung.
"Selama periode ini, mahasiswa mulai merasa cemas karena mereka bertanya: 'Bagaimana kita akan bekerja dengan sesuatu yang belum pernah kita lihat secara nyata? Bagaimana kita akan menangani alat yang belum pernah kita berdirikan di depannya atau gunakan dengan tangan kita sendiri?'" kata al-Nounou.
Pihak kampus menyiasati kecemasan tersebut lewat kerja sama erat bersama rumah sakit lokal. Mahasiswa mendapat akses praktikum lapangan langsung untuk menyeimbangkan pemahaman teori yang didapat secara daring.
Pendirian lima cabang kampus darurat menjadi solusi praktis memangkas bahaya perjalanan mahasiswa. Strategi ini membantu menembus keterbatasan mobilitas di seluruh titik Jalur Gaza.
Kendati demikian, pemulihan total sistem pendidikan masih terhambat blokade impor peralatan medis. Bahan bangunan dan suku cadang sulit menembus pintu masuk menuju Gaza.
Penilaian Kementerian Pendidikan Palestina bersama UNESCO mencatat hancurnya mayoritas perguruan tinggi Gaza sejak 2023. Ratusan laboratorium spesialis kehilangan fungsi operasional akibat hancurnya sarana pendukung.
Baca Juga: Soal Kasus Eks Jampidsus, Akademisi dan Mahasiswa Kompak Ingatkan Jaga Rasa Keadilan Publik
Semangat membangun kembali sumber daya manusia tetap menjadi pilar utama pemulihan Gaza.
"Berinvestasi dalam pendidikan hari ini adalah investasi dalam pemulihan, karena membangun kembali manusia tidak kalah pentingnya daripada membangun kembali batu."
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
Terkini
-
Mazda Akhirnya Produksi Mobil di Indonesia, CX-30 Jadi Model Pertama yang Dirakit Lokal
-
Sekda Sulsel Dorong OPD Perkuat Pelayanan Publik Jelang Penilaian Ombudsman 2026
-
5 Lipstik Lokal untuk Bibir Hitam di Bawah Rp50 Ribu, Pigmentasinya Juara!
-
Merek Apparel Bandung Rabbit & Wheels Berhasil Ekspansi ke Luar Negeri
-
Luncurkan OJA 3140 di Inagritech 2026, Mahindra Dukung Mekanisasi Pertanian Nasional
-
Paradoks Ekspor Bioenergi Indonesia ke Rusia di Tengah Transisi Energi
-
Dasco Damaikan Ketua PWI dan Hotman Paris, Laporan Polisi Dugaan Menghina Wartawan Bakal Dicabut
-
Bekasi Salurkan 2,78 Juta Liter Air ke Warga Terdampak Kekeringan
-
Paperbag hingga Koper, Begini Cara Sindikat Internasional Sembunyikan 8.698 Etomidate di Jakarta
-
Ratusan Pro Palestina Demo saat Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih: Stop Bantuan Amerika ke Israel!