News / Internasional
Selasa, 28 Juli 2026 | 12:48 WIB
Universitas Islam Gaza (Al Jazeera)
Baca 10 detik
  • Universitas Islam Gaza mendirikan lima cabang darurat untuk melanjutkan kegiatan perkuliahan mahasiswa.

  • Mahasiswa kedokteran menjalani pelatihan praktikum langsung di ruang perawatan darurat rumah sakit.

  • Blokade impor peralatan medis memicu tantangan besar dalam merekonstruksi fasilitas laboratorium kampus.

Ketiadaan alat praktikum di kelas menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pengelola laboratorium kampus. Koordinator Laboratorium, Yassin al-Nounou, menyoroti lebarnya jurang antara teori dan praktik saat ini.

Al-Nounou mengenang masa sebelum konflik meluas ketika fasilitas kampus masih lengkap.

"Mahasiswa dulu mempelajari alat tersebut, memahami detailnya, cara kerjanya, dan cara menggunakannya, sehingga mereka mampu bekerja dengannya saat memasuki pasar kerja. Hari ini, tidak ada peralatan dan tidak ada laboratorium seperti yang ada sebelumnya," tegasnya.

Para mahasiswa sempat dilanda kecemasan menghadapi dunia kerja tanpa memegang alat laboratorium langsung.

"Selama periode ini, mahasiswa mulai merasa cemas karena mereka bertanya: 'Bagaimana kita akan bekerja dengan sesuatu yang belum pernah kita lihat secara nyata? Bagaimana kita akan menangani alat yang belum pernah kita berdirikan di depannya atau gunakan dengan tangan kita sendiri?'" kata al-Nounou.

Pihak kampus menyiasati kecemasan tersebut lewat kerja sama erat bersama rumah sakit lokal. Mahasiswa mendapat akses praktikum lapangan langsung untuk menyeimbangkan pemahaman teori yang didapat secara daring.

Pendirian lima cabang kampus darurat menjadi solusi praktis memangkas bahaya perjalanan mahasiswa. Strategi ini membantu menembus keterbatasan mobilitas di seluruh titik Jalur Gaza.

Kendati demikian, pemulihan total sistem pendidikan masih terhambat blokade impor peralatan medis. Bahan bangunan dan suku cadang sulit menembus pintu masuk menuju Gaza.

Penilaian Kementerian Pendidikan Palestina bersama UNESCO mencatat hancurnya mayoritas perguruan tinggi Gaza sejak 2023. Ratusan laboratorium spesialis kehilangan fungsi operasional akibat hancurnya sarana pendukung.

Baca Juga: Soal Kasus Eks Jampidsus, Akademisi dan Mahasiswa Kompak Ingatkan Jaga Rasa Keadilan Publik

Semangat membangun kembali sumber daya manusia tetap menjadi pilar utama pemulihan Gaza.

"Berinvestasi dalam pendidikan hari ini adalah investasi dalam pemulihan, karena membangun kembali manusia tidak kalah pentingnya daripada membangun kembali batu."

Load More