- Lembaga SMRC merilis hasil survei nasional yang menunjukkan mayoritas publik merasa tidak puas terhadap program Makan Bergizi Gratis pada Juli 2026.
- Tingkat kepuasan masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis anjlok drastis menjadi 33,8 persen dari sebelumnya mencapai 62,5 persen pada November 2025.
- Penurunan kepuasan publik dipicu oleh kasus korupsi pimpinan Badan Gizi Nasional serta berbagai masalah tata kelola dan keracunan.
Suara.com - Tingkat kepuasan publik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami penurunan. Berdasarkan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 5-19 Juli 2026, mayortias publik menyatakan tidak puas. Hanya 33,8 persen yang sangat puas dan cukup puas.
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menyampaikan tingkat keterkenalan publik terhadap program MBG pada Juli 2026, mencapai 95,4 persen. Angka tersebut tidak relatif berubah pada survei November 2025 di angka 95 persen.
"Jadi relatif tidak berubah ya, sudah hampir semua warga sudah tahu program ini gitu ya," kata Deni saat memaparkan hasil survei di kanal YouTube SMRCTV, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya wajar bila program unggulan pemerintah tersebut sangat populer. Mengingat Presiden Prabowo Subianto sudah sejak kampanye mengenalkan program tersebut.
"Iya, bahkan BGN itu kan dibentuknya sebelum pemerintahan Prabowo dilantik ya, masa-masa Jokowi. Jadi sangat wajar kalau popularitasnya sangat tinggi, kedikenalannya sangat tinggi," kata Deni.
Dari 95,4 persen warga yang mengetahui program MBG, SMRC menanyakan kepada mereka menyoal tingkat kepuasan terhadap program tersebut.
Hasilnya sebanyak 6,2 persen sangat puas, 27,6 persen cukup puas, 31 persen kurang puas, 30,6 persen tidak puas sama sekali, dan ada 4,6 persen yang tidak punya pendapat.
Deni menyederhanakan menjadi dua kategori dengan proporsi 33,8 persen yang sangat atau cukup puas. Sedangkan yang kurang atau tidak puas sama sekali berjumlah 61,6 persen.
"Artinya, mayoritas masyarakat yang tahu program ini merasa kurang atau tidak puas dengan pelaksanaan dari program MBG. Jadi menarik ya, sudah sangat populer tetapi dalam sisi tingkat evaluasi itu saya kira sentimen masyarakat terhadap program MBG ini relatif kurang positif atau negatif ya," tutur Deni.
Baca Juga: Hasto Tawarkan 'Mustika Rasa', Solusi MBG Tanpa Kuras Dana Pendidikan
Padahal, SMRC mencatat berdasarkan hasil jajak pendapat pada November 2025, penilaiajn publik terhadap program MBG sangat positif, yakni mayoritas masyarakat sebanyak 62,5 persen menyatakan sangat puas atau cukup puas.
Saat ini, penilaian publik terhadap program MBG berbalik. Pada Juli 2025, mayoritas publik justru tidak puas.
"Berbalik, yang tidak puas justru proporsinya menjadi 61,6 persen. Jadi sekarang mayoritas tidak puas, sementara yang sangat atau cukup puas bersikap positif terhadap pelaksanaan MBG menurun dari 62,5 persen menjadi 33,8 persen. Ini menarik ya karena kalau kita lihat selisih perubahannya 62,5 persen menjadi 33,8 persen itu perubahannya kurang lebih 29 persen," kata Deni.
Peneliti SMRC Saidiman Ahmad mengatakan penurunan kepuasan publik terhadap program MBG hampir menyerupai dengan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto.
Pada November 2025, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo menyentuh angka 81,2 persen. Tetapi dalam sembilan bulan, pada Juli 2026, tingkat kepuasannya merosot 30 persen ke angka 51,1 persen.
"Ini juga rupanya perubahan penurunan approval rate terhadap presiden itu ya mirip ya sama gitu ya kurang lebih sama dengan penurunan approval terhadap pelaksanaan program MBG," kata Deni menanggapi Saidiman.
Berita Terkait
-
Hasto Tawarkan 'Mustika Rasa', Solusi MBG Tanpa Kuras Dana Pendidikan
-
BGN Siapkan Sistem Digital, Orang Tua Bisa Pantau Menu MBG
-
Sudaryono Tegaskan Tak Ada Lagi Rapat Rahasia Terkait Program MBG
-
Kepala BGN: MBG Bukan Makan Enak Gratis!
-
Masyarakat Diminta Lapor Jika Temukan Dapur MBG Pakai Minyakita hingga Gas Melon, Ini Sanksinya!
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
- 5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim
-
Kebakaran Lahan Meluas ke Pemukiman, BPBD Cianjur Minta Warga Waspadai Puntung Rokok
-
140 Titik di Banten Darurat Air Bersih
-
Gurita Pungli Dinas ESDM Jatim: Kabid Geologi Jadi Tersangka, Peras 217 Pemohon
-
Buka 31 Formasi Jabatan, Bupati Bogor Jamin Proses Seleksi ASN Transparan dan Bebas Orang Dalam
-
Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan: Mengapa Amuk Massa Terus Berulang?
-
Dari Made in Indonesia ke Made by Indonesia, Mendorong Produk Lokal Naik Kelas