News / Nasional
Selasa, 28 Juli 2026 | 14:55 WIB
Ilustrasi menu MBG.. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Lembaga SMRC merilis hasil survei nasional yang menunjukkan mayoritas publik merasa tidak puas terhadap program Makan Bergizi Gratis pada Juli 2026.
  • Tingkat kepuasan masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis anjlok drastis menjadi 33,8 persen dari sebelumnya mencapai 62,5 persen pada November 2025.
  • Penurunan kepuasan publik dipicu oleh kasus korupsi pimpinan Badan Gizi Nasional serta berbagai masalah tata kelola dan keracunan.

Penyebab Kepuasan Merosot

Deni membeberkan sejumlah faktor yang menjadi sebab tingkat kepuasan publik terhadap program MBG menurun. Salah satunya terkait dengan kasus korupsi yang menyeret tiga pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN), termsuk bekas ketua Dadan Hindayana.

"Itu juga saya kira sangat mempengaruhi bagaimana warga menilai. Di samping itu tata kelola dari program MBG kan banyak diberitakan cukup banyak ada masalah ya, entah itu dari sisi kasus-kasus keracunan misalnya. Nah itu saya kira itu masih banyak terjadi ya," kata kata Deni.

Metode Survei

Survei dalam rentang waktu 5-19 Juli 2026 menggunakan warga negara Indonesia yang neniliki hak pilih dalam Pemilu sebagai populasi, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Populasi dibagi menjadi dua kelompok atau subpopulasi, yaitu warga negara Indonesia yang punya hak pilih dan memiliki handphone dan warga negara Indonesia yang punya hak pilih dan tidak memiliki handphone.

Masing-masing subpopulasi, sampel dipilih secara random. Pada subpopulasi pemilik HP, sampel sebanyak 605 orang dipilih secara acak dengan metode double sampling dan responden diwawancara lewat telepon.

Pada subpopulasi yang tidak punya HP, sampel sebanyak 144 orang dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling dan responden diwawancara secara tatap muka.

"Jadi kita menggunakan multi-mode atau dua mode dalam survei ini. Kenapa? Karena di dalam populasi itu ternyata ada sekitar 80-an persen warga yang menggunakan telepon seluler, sisanya sekitar hampir 20 persen tidak menggunakan. Dan untuk efisiensi, kita melakukan survei telepon untuk meng-cover sekitar 80 persen itu," kata Deni.

Baca Juga: Hasto Tawarkan 'Mustika Rasa', Solusi MBG Tanpa Kuras Dana Pendidikan

"Nah kemudian sisanya yang enggak punya handphone itu kita approach, kita lakukan survei tatap muka supaya sampel bisa mewakili seluruh populasi," sambung Deni.

Margin of error survei diperkirakan kurang lebih 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Load More