- Sosiolog UGM Andreas Budi Widyanta memperingatkan bahwa aksi main hakim sendiri berpotensi meluas secara masif.
- Penyebaran video kekerasan di media sosial berisiko memicu efek peniruan masyarakat sehingga kekerasan dianggap sebagai solusi penyelesaian masalah.
- Negara harus segera melakukan pembenahan sistem hukum secara menyeluruh guna mengatasi kekecewaan publik serta mencegah konflik horizontal.
Suara.com - Aksi main hakim sendiri berpotensi meluas ke berbagai daerah apabila negara gagal memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, mengingatkan kasus kekerasan yang terus berulang dan tersebar luas melalui media sosial dapat memicu efek peniruan hingga melahirkan lebih banyak aksi vigilantisme.
Menurut Abe sapaan akrabnya, media sosial memiliki dua sisi dalam penyebaran kasus kekerasan. Platform digital dapat menjadi ruang untuk mengungkap ketidakadilan.
Namun di sisi lain pemberitaan yang memperlihatkan aksi main hakim sendiri juga berisiko membentuk anggapan bahwa kekerasan massa merupakan cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan.
"Nah ini juga perlu diantisipasi bahwa sosial media itu juga ingin memberitakan ketidakadilan itu, tapi pemberitaan atau di sosial media tentang ketidakadilan itu bisa memberi contoh, malah jadi role model yang bisa ditiru oleh banyak orang juga," kata Abe kepada Suara.com, Rabu (29/7/2026).
Ia memperingatkan, risiko meluasnya vigilantisme akan semakin besar ketika kekerasan tidak lagi dipandang sebagai tindakan menyimpang, melainkan menjadi pola yang dianggap dapat dibenarkan.
Dalam situasi tersebut, satu kasus dapat memicu kasus lain dan membentuk rantai kekerasan yang sulit dikendalikan.
"Kalau sudah menjangkau massa yang sangat banyak dan punya pola pikir yang sama, hampir bisa dipastikan jumlah kasus itu akan bertambah semakin banyak ke depan," ujarnya.
"Apalagi kalau elit-elit politiknya hanya memikirkan perut mereka sendiri masing-masing, kepentingan mereka sendiri masing-masing," katanya menambahkan.
Baca Juga: Polisi Tetapkan 5 Tersangka Pengeroyokan Pria yang Diduga Curi Ayam di Tabanan
Abe menyebut negara tidak cukup hanya merespons setiap kasus secara terpisah melalui penindakan hukum terhadap pelaku. Pemerintah perlu melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem hukum untuk mencegah ketidakpercayaan publik berkembang menjadi kekerasan yang semakin meluas.
"Kalau tidak ada upaya sistematis dari negara untuk melakukan pembenahan secara radikal atas sistem hukum kita, ya lagi-lagi konflik horizontal lah yang kemudian akan terjadi," tandasnya.
Jika dibaca dari sudut pandang lebih luas, menurut dia, aksi main hakim sendiri merupakan gejala dari akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap negara.
Tekanan ekonomi, menyusutnya ruang kerja, serta ketidakpuasan terhadap penegakan hukum dapat memperbesar kemarahan publik dan mendorong warga mencari saluran pelampiasan di luar mekanisme hukum.
"Implikasinya ya ini betul-betul kayak samsak. Di pengadilan jalanan yang betul-betul itu kayak dia warga ini berhadapan dengan samsak yang bisa jadi tempat pelampiasan untuk membuang seluruh kekesalannya terhadap negara yang tidak hadir," tuturnya.
Menurutnya, vigilantisme berkaitan dengan represi psikologis yang menumpuk akibat persoalan struktural yang tidak diselesaikan.
"Ini bukan soal lalu kemudian mereka enggak punya rasa kemanusiaan ya. Ini kan mentalitas yang sebetulnya sudah penuh dengan kegilaan, represi psikis yang sangat serius," tandasnya.
Berita Terkait
-
Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan: Mengapa Amuk Massa Terus Berulang?
-
Amnesty International: Kejahatan Harus Dilawan dengan Hukum, Bukan Penghakiman Massa
-
Sosiolog UGM: Aksi Main Hakim Sendiri Cermin Brutalitas Elite dan Krisis Hukum
-
Polisi Tetapkan 5 Tersangka Pengeroyokan Pria yang Diduga Curi Ayam di Tabanan
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
Terkini
-
Pemerintah Apresiasi Kinerja BRI sebagai Motor Utama Penyaluran KUR Perumahan Program 3 Juta Rumah
-
Detik-detik Plt Bupati Sukoharjo Diperiksa KPK Setelah OTT Kasus Pemerasan
-
Young K Temukan Kedamaian dalam Kesendirian di Lagu Comeback Shut the Door
-
Jika Negara Gagal Pulihkan Kepercayaan Publik, Vigilantisme Diprediksi Kian Meluas
-
Dimyati Natakusumah Keturunan Siapa? Dinasti Politik Keluarganya Viral di X
-
Lampung Guyur 12 Kabupaten dengan Bibit Cabai Senilai Rp925 Juta
-
Tak Lagi Harmonis, 2 Pembalap Aprilia Perang Dingin Sejak GP Hungaria
-
5 Bupati di Jawa Tengah yang Terjaring OTT KPK dari Januari hingga Juli 2026
-
Nenek 78 Tahun Lolos dari Kepungan Api yang Hanguskan Dapur di Situbondo
-
Pengobatan 'Nikah Batin', Kakek di Inhu Cabuli Wanita Bersuami Berulang Kali