- Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menutup ratusan dapur dan memecat ratusan pegawai terkait masalah program Makan Bergizi Gratis.
- Dosen UGM menilai penunjukan pengelola dapur sarat KKN sehingga program tidak adil dan membebani anggaran negara.
- Pemerintah didesak mereformasi rantai pasok pangan lokal serta merampingkan anggaran program untuk wilayah tertinggal.
Suara.com - Gebrakan awal Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, yang menutup 833 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta memecat 261 pegawai non-ASN dinilai belum menyentuh akar masalah.
Langkah tersebut dipandang baru sekadar pintu masuk awal untuk merombak total pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini carut-marut.
"Semoga ini menjadi pembuka jalan untuk terus membenahi carut marutnya program MBG," kata Dosen Manajemen Kebijakan Publik (MKP) UGM, Agustinus Subarsono, Rabu (29/7/2026).
Sorotan tajam mengarah pada tata kelola dan proses seleksi penunjukan pengelola dapur SPPG yang kental dengan benturan kepentingan. Selama ini, mekanisme seleksi yang tertutup dinilai memicu praktik nepotisme, hingga menjadikan dapur penyedia makanan sebagai ajang bagi-bagi lapak bagi kelompok pemilik kekuasaan.
"Aroma KKN terasa kental dalam proses penunjukan SPPG. Dengan demikian, banyak Dapur SPPG dimiliki oleh TNI, Kepolisian, Parpol dan mereka yang memiliki jejaring dengan politisi atau penguasa," ujarnya.
Selain masalah transparansi dapur, Subarsono menyoroti soal skema pendistribusian program MBG yang dianggap mencederai rasa keadilan sosial dan membebani anggaran negara.
Kebijakan yang memperlakukan sama antara siswa dari keluarga mampu dan tidak mampu dinilai sebagai langkah yang tidak rasional di tengah kondisi keuangan negara yang terbatas.
"Pemerintah melakukan praktik ketidakadilan ketika memperlakukan sama antara murid yang berbeda kondisi sosial ekonominya dengan anggaran negara," tuturnya.
Untuk menekan pembengkakan defisit anggaran APBN, pemerintah didesak melakukan langkah efisiensi ekstrem. Program MBG disarankan tidak lagi dijalankan penuh selama lima hari kerja, melainkan dipangkas dan difokuskan hanya pada wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) serta kelompok miskin di perkotaan.
Baca Juga: Survei SMRC: Popularitas MBG Tinggi, Tapi Kepuasan Publik Merosot
"Mengingat APBN kita mengalami defisit fiskal, maka tidak ada salahnya melakukan perampingan progran MBG dari 5 hari menjadi 3 hari di samping hanya menyasar murid daerah 3T, dan untuk wilayah kota hanya untuk murid dari keluarga miskin," ujarnya.
Perbaikan turut dialamatkan pada sistem rantai pasok bahan pangan yang dinilai masih melenceng jauh dari misi pemberdayaan ekonomi rakyat.
Sehingga dapur SPPG tidak kemudian lebih memilih berbelanja di pasar modern atau supermarket ketimbang menyerap hasil panen petani lokal, UMKM, maupun BUMDes.
"Kepala BGN perlu membuat regulasi agar semua dapur SPPG mempraktekan rantai pasok dengan petani local atau pengusaha lokal atau UMKM atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga akan menghidupkan ekonomi lokal," tegasnya.
Oleh karena itu, BGN di bawah kepemimpinan baru dituntut segera menjalankan reformasi kelembagaan secara menyeluruh. Hal ini mencakup pembentukan lembaga pengawas independen untuk memantau standar SOP dapur serta pengujian model SPPG baru berbasis kantin sekolah dan UMKM.
"Dengan demikian, jalan masih panjang untuk kita mewujudkan program MBG yang ideal. Namun harus dimulai dari sekarang, di bawah Kepala BGN yang baru," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
Terkini
-
Anti Geser! 5 Hybrid Sunscreen Ringan yang Cocok Dipakai di Bawah Makeup
-
Mantan Terpidana Korupsi Jadi Kandidat Gubernur BI, Siapa Sosoknya?
-
Dibalik OTT Bupati Pemalang, Camat Turut Diangkut: KPK Sabar Tunggu Rapat Sampai Selesai
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, 21 Orang Diamankan di 3 Kota
-
Bagaimana Cara Menghadapi Pasangan Berzodiak Scorpio Saat Mereka Sedang Marah atau Ngambek?
-
Sudaryono Tutup 833 Dapur MBG, Tapi Akar Masalahnya Belum Tersentuh
-
Profil Risya Azzahra Natakusumah, Anak Wakil Gubernur Banten yang Viral di X
-
Apakah Cushion OMG Cocok untuk Kulit Berjerawat? Kenali Klaimnya sebelum Membeli
-
Krisis Iklim Sebabkan Warga Indonesia Kehilangan 84 Jam Tidur per Tahun: Apa Dampaknya?
-
Beli Pulsa dan Paket Data Indosat di BRImo Dapat Cashback 10 Persen