- Presiden Prabowo Subianto menyatakan baru mengetahui besarnya masalah negara saat Sidang Kabinet di Jakarta, Senin (20/7/2026).
- Isnaini Muallidin menilai pernyataan tersebut menunjukkan kelemahan kepemimpinan karena minim konsep penyelesaian dan kajian teknokratik berbasis data.
- Pola komunikasi pemerintah dikhawatirkan mengalihkan perhatian publik dari masalah internal serta berpotensi menggerus tingkat kepercayaan masyarakat.
Suara.com - Pengakuan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku baru mengetahui besarnya persoalan Indonesia setelah menjadi kepala negara justru menuai sorotan.
Alih-alih dinilai sebagai bentuk keterbukaan, pernyataan itu, Prabowo justru disebut memperlihatkan lemahnya kepemimpinan.
Hal itu diungkap Prabowo saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7/2026) lalu. Salah satu yang disebut adalah bocornya kekayaan negara dari sektor perdagangan.
Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Isnaini Muallidin, menilai Prabowo selama ini lebih banyak membangun politik narasi dibanding menyelesaikan akar persoalan yang dihadapi pemerintahannya.
Menurut Isnaini, pernyataan Prabowo memperlihatkan paradoks. Di satu sisi presiden terus berbicara soal kebocoran anggaran dan pentingnya efisiensi.
Namun di sisi lain dinilai tidak memiliki konsep yang utuh untuk menjelaskan penyebab maupun jalan keluar dari persoalan tersebut.
"Beliau itu lebih pada asumsi-asumsi yang dibangun dengan emosional. Sementara apa yang disampaikan dengan apa yang dijanjikan, itu berbeda. Ada gap itu," kata Isnaini kepada Suara.com, Kamis (30/7/2026).
Ia menilai narasi yang disampaikan Prabowo lebih banyak dibangun dari persepsi pribadi ketimbang didukung data dan kajian teknokratik. Padahal, seorang presiden semestinya berbicara berdasarkan fakta, konsep, dan informasi yang diperkuat para pembantunya.
"Narasinya itu narasi emosional dibandingkan konsep. Jadi beliau hanya politik anggaran yang berbasis narasi, bukan berbasis konseptual yang diperkuat oleh data-data," ucapnya.
Baca Juga: Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
Gaya komunikasi Prabowo, kata dia, telah gagal menjalankan fungsi dasar seorang kepala negara, yakni menenangkan masyarakat di tengah banyaknya persoalan. Sebaliknya, hampir setiap pidato justru memantik polemik baru dan memperpanjang perdebatan publik.
"Sebagai presiden itu harusnya dia menenangkan, memberikan perspektif, memberikan jawaban-jawaban yang strategis. Tapi coba dengar dari awal pidato sampai sekarang itu kontroversi saja," ujarnya.
Lebih jauh, Isnaini menduga narasi soal kebocoran negara yang terus diulang bukan sekadar pesan politik biasa.
Menurutnya, isu tersebut bisa dibaca sebagai upaya mengalihkan perhatian publik dari berbagai persoalan besar yang muncul di internal pemerintahan, mulai dari kasus korupsi hingga konflik antarpenegak hukum.
"Presiden ingin mengalihkan itu justru. Dia bernarasi itu ingin membersihkan diri tapi dia sendiri itu tidak mampu untuk melakukan sebuah antisipasi terhadap problem itu," tandasnya.
Menurutnya, persoalan tersebut diperparah oleh lingkaran kekuasaan yang lebih memilih menyenangkan presiden daripada menyampaikan kritik. Akibatnya, evaluasi terhadap berbagai program pemerintah nyaris tidak terdengar meski berulang kali menuai persoalan di lapangan.
"Berarti ada sesuatu yang bermasalah di manajerial Prabowo sendiri," ucapnya.
Ia mengingatkan, jika pola komunikasi yang hanya mengandalkan narasi tanpa solusi terus dipertahankan, maka kepercayaan publik berpotensi terus tergerus.
"Narasi itu kan tidak ada solutif. Justru mengambangkan masalah. Narasi ya sebagai narasi saja yang dia ungkapkan, sehingga banyak kontroversi justru melahirkan sebuah masalah," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Prabowo Jajal Kereta Mewah Nusantara Explorer, Intip Kemewahan Luxury Sleeper Train Buatan KAI
-
Kembali ke Bentuk Asli 1914, Prabowo akan Resmikan Renovasi Cagar Budaya Stasiun Tawang
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Bahas Skandal Asusila Bill Clinton, Deny Indrayana Ingatkan Prabowo Soal 3 Hal Bikin Rezim Runtuh
-
Prajurit TNI dan Pegawai Kemenhan 'Full Senyum', Prabowo Resmi Naikkan Tunjangan Kinerja
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Lahan Sekolah Rakyat Kabupaten Landak Memenuhi Syarat, Pembangunan Ditargetkan Oktober
-
Syarat Motor Listrik Subsidi 2026: Ini Daftar Merk yang Bermutu tapi Lebih Murah dari Honda Beat
-
Wamensos Agus Jabo: Pembangunan Sekolah Rakyat Muna Barat akan Diproses, Bisa Tampung 2 Ribu Siswa
-
Sebut Wartawan Gerombolan Sirkus, Deddy Sitorus Terancam Dipolisikan Jika Tak Minta Maaf 1x24 Jam
-
Tak Lagi Rp10.000, Harga Saham BBCA Ditaksir Hanya Sampai Rp8.600
-
Sering Kecelakaan, Warga Desak Perbaikan Jalan di Ruas Cisaga-Rancah Ciamis
-
Prabowo Jajal Perdana KA Nusantara Explorer, Berkelakar ke Wartawan yang Mau Ikut: Bayar, Ya!
-
Ulasan Film A Beautiful Mind: Perjuangan Seorang Jenius Melawan Skizofrenia
-
RUU Kawasan Industri Segera Disahkan, Menperin Janjikan Aturan Baru yang Pangkas Hambatan Investasi
-
Ada Rival Asnawi! Aston Villa Boyong Pemain Terbaik Saat Kunjungi Indonesia