News / Internasional
Jum'at, 07 Agustus 2026 | 13:28 WIB
Logo Mossad
Baca 10 detik
  • Direktur Mossad memecat dua pejabat senior akibat kegagalan rencana penumbangan pemerintahan Iran.

  • Operasi rahasia bersama Amerika Serikat tersebut terhenti dan dibatalkan pada tahap awal.

  • Eskalasi konflik kawasan terus memanas seiring buntunya negosiasi keamanan di Selat Hormuz.

Suara.com - Direktur Mossad Israel Roman Gofman mendepak 2 pimpinan intelijen senior setelah strategi rahasia untuk menggulingkan pemerintahan Iran gagal dieksekusi. Langkah tegas ini memicu perombakan besar-besaran di tubuh lembaga intelijen luar negeri Israel tersebut.

Dua pejabat yang kehilangan posisi kunci itu mencakup kepala direktorat intelijen serta pimpinan divisi Iran. Keputusan pemecatan mendadak ini langsung menjadi sorotan hangat di kalangan pengamat keamanan kawasan.

Kegagalan skenario penggulingan kekuasaan ini membuka tabir perselisihan internal yang meruncing di jajaran kepemimpinan Mossad. Retaknya hubungan kerja sama tersebut sejatinya sudah berlangsung sejak awal pimpinan anyar itu dilantik.

Ilustrasi agen dinas rahasia Israel, Mossad. [Shutterstock]

Rencana operasi rahasia tersebut sebenarnya dirancang bersama pihak Amerika Serikat guna memicu perlawanan domestik di Iran. Skenario penumbangan ini juga menyiapkan dukungan bagi kelompok oposisi di bawah naungan perlindungan udara militer.

Berbagai penilaian intelijen mengindikasikan bahwa kalkulasi strategis tersebut akhirnya macet total di tahap awal sebelum sempat beroperasi. Akibatnya, seluruh draft perencanaan terpaksa diarsipkan dan pihak pimpinan operasi dituntut bertanggung jawab.

Laporan internasional turut membeberkan bahwa skenario awal sempat mencakup pemetaan calon pengganti rezim Tehran. Namun, ketidakpastian politik luar negeri membuat koordinasi tahap pasca-rezim bersama pejabat Amerika Serikat menjadi berantakan.

Sejauh ini otoritas resmi Israel memilih bungkam dan belum memberikan tanggapan terkait perombakan kepemimpinan di tubuh Mossad. Sikap diam ini memperkuat spekulasi adanya pergeseran prioritas keamanan nasional Israel terhadap ancaman Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri sebelumnya sudah mengisyaratkan keraguan atas keberhasilan upaya penumbangan kekuasaan di Tehran.

“Belum tentu hal ini akan terjadi,” ujar Netanyahu pada 13 Maret lalu saat mengakui rumitnya meruntuhkan rezim Iran.

Baca Juga: Israel Makin Jauh dari Amerika, Benjamin Netanyahu Mau Serang Iran Sendiri

Latar belakang perseteruan ini bermula dari serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari. Aksi tempur dahsyat tersebut menelan korban jiwa hingga lebih dari 3.000 orang.

Iran membalas gempuran itu secara masif melalui serangan rudal dan armada drone ke basis militer Amerika serta wilayah Israel. Kontak senjata terbuka tersebut memicu jatuh korban jiwa dan kerusakan signifikan di kedua belah pihak.

Meski Washington dan Tehran sempat menandatangani kesepakatan kerangka kerja pada 18 Juni, negosiasi damai justru menemui jalan buntu. Kedua negara saling berlawanan pendapat mengenai jaminan keamanan serta navigasi bebas di Selat Hormuz.

Situasi keamanan kawasan Timur Tengah kembali membara menyusul gelombang Serangan udara terbaru dari Amerika Serikat ke Iran bulan lalu. Tehran langsung membalas gempuran tersebut dengan meluncurkan aksi balasan melintasi Yordania, Bahrain, hingga Kuwait.

Load More