- Pakar politik UGM Wawan Masudi menilai wacana penghapusan wakil kepala daerah layak dipertimbangkan pada Sabtu (8/8/2026).
- Konflik politik dan persaingan antarpejabat sering terjadi serta mengganggu efektivitas pelayanan publik di pemerintahan daerah.
- Pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh guna mengoptimalkan efisiensi anggaran dan struktur perangkat daerah yang ada.
Suara.com - Pakar Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Wawan Masudi, menyoroti wacana penghapusan posisi wakil kepala daerah dalam pilkada.
Menurutnya wacana itu layak dipertimbangkan dengan berbagai evaluasi yang harus dilakukan.
Menurut Wawan, keberadaan wakil kepala daerah selama ini tidak selalu efektif dalam membantu kepala daerah menjalankan pemerintahan.
Bahkan, relasi kepala daerah dan wakilnya kerap memunculkan ketegangan yang justru mengganggu fungsi pemerintahan.
"Jadi memang sebenarnya ini wacana yang menurut pendapat saya juga patut untuk dipertimbangkan," kata Wawan, kepada Suara.com, Sabtu (8/8/2026).
Ia bilang evaluasi diperlukan untuk melihat apakah keberadaan wakil kepala daerah benar-benar dibutuhkan dalam menjalankan fungsi dasar pemerintahan. Sebab, konflik antara kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat berdampak pada pelayanan publik hingga kondisi birokrasi.
"Bahkan sering kali melahirkan ini ya, hubungan-hubungan yang tidak perlu ya, ketegangan-ketegangan yang tidak perlu antara kepala daerah dan wakil kepala daerah," ujarnya.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM itu menilai persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari karakter kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagai jabatan politik.
Terlebih jika keduanya berasal dari kekuatan politik berbeda, hubungan pemerintahan berpotensi berubah menjadi arena kontestasi dan persaingan.
Baca Juga: 15 Kepala Daerah Hasil Pilkada 2024 Kena OTT KPK, Ongkos Politik Mahal Jadi Pemicu?
"Kalau mereka berasal dari kekuatan politik yang berbeda, ya pasti nuansa kontestasi, persaingan, itu sangat mungkin," ucapnya.
Persaingan itu menjadi persoalan serius apabila berlangsung ketika masa kepemimpinan masih berjalan.
Kontestasi politik yang masuk ke dalam pemerintahan berpotensi menciptakan ketegangan dan membuat fungsi pemerintahan tidak efektif.
"Bahayanya kan kalau kontestasi persaingan terjadi di tengah-tengah masa kepemimpinan toh. Itu yang membuat kemudian ketegangan muncul, tidak efektif, dan seterusnya tadi," tuturnya.
Selain persoalan konflik, kata dia, efisiensi pemerintahan menjadi alasan lain mengapa wacana tersebut layak dikaji. Setiap jabatan politik membawa konsekuensi terhadap anggaran negara, mulai dari penggajian hingga berbagai fasilitas dan program yang melekat pada jabatan tersebut.
"Tentu efisiensi pemerintahan juga menjadi kata kunci yang lain ya," imbuhnya.
Berita Terkait
-
Tanggapi Usulan Pilkada Tanpa Wakil, Ganjar Pranowo Desak DPR Segera Bentuk Pansus Pemilu
-
Nasdem Tolak Usulan Pilkada Tanpa Wakil, Ingatkan Risiko Konsentrasi Kekuasaan
-
Wacana Hapus Wakil Kepala Daerah Menguat, PAN: Sudah Tepat Dievaluasi
-
Dody Hanggodo Ngaku Tak Tahu Soal Doxing Dosen UGM: Demi Allah!
-
15 Kepala Daerah Hasil Pilkada 2024 Kena OTT KPK, Ongkos Politik Mahal Jadi Pemicu?
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung