News / Internasional
Minggu, 09 Agustus 2026 | 11:43 WIB
ilustrasi kapal tanker melintasi Selat Hormuz (Google Gemini)
Baca 10 detik
  • Sekretaris SNSC Iran Mohammad Bagher Zolghadr menegaskan Selat Hormuz ditutup untuk Amerika Serikat pada Minggu (9/8/2026).
  • Iran menuntut pencabutan sanksi, penghentian operasi militer, penarikan pasukan AS, dan pembayaran kompensasi ekonomi sebagai syarat pembukaan selat.
  • Iran dan Oman menyepakati rute pelayaran Selat Hormuz pada Rabu (5/8) untuk memperkuat koordinasi keamanan navigasi regional.

Suara.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum juga reda. Situasi kembali memanas setelah Teheran mengeluarkan pernyataan tegas terkait jalur perdagangan vital dunia, Selat Hormuz.

Iran menyatakan tidak akan membuka Selat Hormuz bagi kepentingan Amerika Serikat sebelum Washington memenuhi serangkaian syarat yang sangat berat.

Disitat dari Antara yang mengutip Sputnik, Minggu (9/8/2026), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menegaskan bahwa posisi Iran saat ini adalah bentuk pertahanan diri terhadap tekanan ekonomi dan militer yang terus dilancarkan oleh Amerika Serikat.

Menurutnya, stabilitas di kawasan tersebut sangat bergantung pada perubahan perilaku AS terhadap kedaulatan Iran.

"Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai AS memperbaiki sikapnya dan berhenti mengancam Republik Islam," katanya seperti dikutip Press TV.

Syarat Berat Iran untuk Amerika Serikat

Tuntutan yang diajukan oleh Teheran bukan sekadar retorika politik. Pejabat senior Iran tersebut merinci poin-poin krusial yang harus dipenuhi oleh Gedung Putih jika ingin melihat Selat Hormuz kembali beroperasi secara normal tanpa hambatan militer.

Syarat-syarat tersebut mencakup aspek keamanan, ekonomi, hingga kedaulatan wilayah.

Syarat-syarat yang disampaikan oleh pejabat senior Iran itu juga mencakup penghentian operasi militer terhadap Iran dan sekutunya, pencabutan sanksi serta blokade laut, penarikan pasukan AS dari wilayah di sekitar Iran, dan pembayaran kompensasi.

Baca Juga: Dua Warga Ditangkap Gegara Komentar Pidato Nuklir Prabowo, Amnesty: Negara Kembali Represif

Tuntutan pembayaran kompensasi menjadi poin yang paling disorot, mengingat kerugian ekonomi yang dialami Iran akibat sanksi sepihak yang dijatuhkan AS selama beberapa tahun terakhir.

Selain itu, kehadiran militer AS di perairan sekitar Teluk Persia dianggap sebagai ancaman langsung yang memicu ketidakstabilan rute pelayaran internasional.

Klaim Donald Trump

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan yang sedikit berbeda.

Trump mengklaim bahwa dirinya telah mengambil langkah mundur dari konfrontasi militer demi mengedepankan jalur diplomasi.

Ia menyebut adanya rintisan kesepakatan damai yang bisa menjadi solusi bagi kedua belah pihak.

Load More