News / Internasional
Minggu, 09 Agustus 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi Era Penjajahan (Unsplash/nypl)
Baca 10 detik
  • Chelsea Verbaas mengajak publik Belanda mengingat kembali sejarah kelam Perang Dunia II di Indonesia.
  • Ia menelusuri dokumen keluarga untuk mengenang pengalaman kakeknya yang menjadi pekerja paksa jalur maut.
  • Chelsea menyayangkan pendidikan formal di Belanda yang tidak mengajarkan sejarah kolonial Hindia secara menyeluruh.

Suara.com - Seorang perempuan muda di Belanda, Chelsea Verbaas, mengajak publik untuk tidak melupakan makna 15 Agustus 1945, hari berakhirnya Perang Dunia II di Asia Tenggara terutama di Indonesia.

Ia menilai, sejarah kelam di Indonesia pada era kolonia Belanda masih kerap terpinggirkan dalam narasi besar perang.

Chelsea menyuarakan pentingnya mengenang pengalaman komunitas Indo-Belanda yang terdampak perang dan dekolonisasi.

“Tidak semua orang tahu bahwa perang di Asia Tenggara juga menyisakan luka yang sama dalamnya. Ini penting untuk terus diingat,” ujarnya dinukil dari Eenvandaag

Melalui dokumen keluarga seperti surat, foto, dan kartu lama, Chelsea menelusuri jejak masa lalu kakek-neneknya yang bermigrasi ke Belanda pada 1950-an.

Jejak Kemerdekaan Indonesia Dibedah di Belanda, Sejarawan Kupas Luka 1945-1949 [Java Post]

Ia menyebut, upaya ini sebagai bentuk penghormatan terhadap generasi sebelumnya.

“Ini bentuk respek saya kepada kakek-nenek,” katanya.

Ia mengaku kecewa karena sejarah Hindia Belanda tidak banyak diajarkan di sekolah.

Bahkan, saat topik koloni Belanda dibahas, fokus hanya diberikan pada Suriname.

Baca Juga: Cara Dapat Cashback Tiket Whoosh Pakai BRImo

“Saya berharap, tapi ternyata sejarah Indonesia tidak dibahas sama sekali,” ungkapnya.

Karena minimnya akses pendidikan formal, Chelsea memilih belajar secara mandiri.

Ia membaca buku, melakukan riset silsilah keluarga, hingga mencoba menggali cerita dari kerabat, meski diakui tidak mudah karena trauma masa lalu.

Salah satu kisah paling membekas adalah pengalaman kakeknya sebagai pekerja paksa di jalur kereta Burma-Siam, yang dikenal sebagai Jalur Kematian.

“Kalau tidak patuh, mereka dipukul. Itu masa yang sangat berat,” tuturnya.

Chelsea juga menyoroti adanya kesalahpahaman di masyarakat Belanda yang menganggap kehidupan di wilayah tropis saat perang lebih ringan.

“Padahal, penderitaan di sana sama mengerikannya,” tegasnya.

Bagi Chelsea, mengenang masa lalu bukan sekadar ritual, melainkan cara memahami identitas dan menghargai perjalanan generasi sebelumnya.

“Kebebasan itu tidak datang begitu saja, dan kita harus terus mengingatnya,” pungkasnya.

Load More