- Chelsea Verbaas mengajak publik Belanda mengingat kembali sejarah kelam Perang Dunia II di Indonesia.
- Ia menelusuri dokumen keluarga untuk mengenang pengalaman kakeknya yang menjadi pekerja paksa jalur maut.
- Chelsea menyayangkan pendidikan formal di Belanda yang tidak mengajarkan sejarah kolonial Hindia secara menyeluruh.
Suara.com - Seorang perempuan muda di Belanda, Chelsea Verbaas, mengajak publik untuk tidak melupakan makna 15 Agustus 1945, hari berakhirnya Perang Dunia II di Asia Tenggara terutama di Indonesia.
Ia menilai, sejarah kelam di Indonesia pada era kolonia Belanda masih kerap terpinggirkan dalam narasi besar perang.
Chelsea menyuarakan pentingnya mengenang pengalaman komunitas Indo-Belanda yang terdampak perang dan dekolonisasi.
“Tidak semua orang tahu bahwa perang di Asia Tenggara juga menyisakan luka yang sama dalamnya. Ini penting untuk terus diingat,” ujarnya dinukil dari Eenvandaag
Melalui dokumen keluarga seperti surat, foto, dan kartu lama, Chelsea menelusuri jejak masa lalu kakek-neneknya yang bermigrasi ke Belanda pada 1950-an.
Ia menyebut, upaya ini sebagai bentuk penghormatan terhadap generasi sebelumnya.
“Ini bentuk respek saya kepada kakek-nenek,” katanya.
Ia mengaku kecewa karena sejarah Hindia Belanda tidak banyak diajarkan di sekolah.
Bahkan, saat topik koloni Belanda dibahas, fokus hanya diberikan pada Suriname.
Baca Juga: Cara Dapat Cashback Tiket Whoosh Pakai BRImo
“Saya berharap, tapi ternyata sejarah Indonesia tidak dibahas sama sekali,” ungkapnya.
Karena minimnya akses pendidikan formal, Chelsea memilih belajar secara mandiri.
Ia membaca buku, melakukan riset silsilah keluarga, hingga mencoba menggali cerita dari kerabat, meski diakui tidak mudah karena trauma masa lalu.
Salah satu kisah paling membekas adalah pengalaman kakeknya sebagai pekerja paksa di jalur kereta Burma-Siam, yang dikenal sebagai Jalur Kematian.
“Kalau tidak patuh, mereka dipukul. Itu masa yang sangat berat,” tuturnya.
Chelsea juga menyoroti adanya kesalahpahaman di masyarakat Belanda yang menganggap kehidupan di wilayah tropis saat perang lebih ringan.
“Padahal, penderitaan di sana sama mengerikannya,” tegasnya.
Bagi Chelsea, mengenang masa lalu bukan sekadar ritual, melainkan cara memahami identitas dan menghargai perjalanan generasi sebelumnya.
“Kebebasan itu tidak datang begitu saja, dan kita harus terus mengingatnya,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Cara Dapat Cashback Tiket Whoosh Pakai BRImo
-
Jejak Kemerdekaan Indonesia Dibedah di Belanda, Sejarawan Kupas Luka 1945-1949
-
Beli Sepeda Motor Yamaha Baru, Dapat Cashback dan Cicilan 0 Persen dari BRI!
-
Cara Buat QRIS Lewat Aplikasi BRImerchant
-
Timnas Indonesia Gagal Total di Piala AFF 2026, Wakil Rakyat Ingatkan Bahaya Naturalisasi Instan
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- Sepeda Gunung Apa yang Bagus dan Murah? Ini 7 Rekomendasi Terbaik untuk Pemula
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Filosofi STY Bertemu Transformasi Bank Jakarta, Persija Bidik Juara Liga 1
-
Jalur Kematian Orang Indo! Belanda Didesak Sejarah Gelap Kolonial Masuk Kurikulum
-
Detik-detik Kebakaran Mobil Merambat ke Tempat Pengisian BBM di Bogor
-
Riau Sumbang 198 Hotspot, Karhutla di 3 Wilayah Capai 124 Hektare
-
4 OOTD Vacation Chic ala Yeri Red Velvet, Nyaman dan Tetap Stylish!
-
Dipanggil KPK soal Kasus Bansos Beras, Rudy Tanoe Minta Pemeriksaan Diundur
-
Gaet 35 Ribu Fans, aespa Sukses Buka Tur Konser SYNK: COMPLaeXITY di Seoul
-
Karhutla Bromo Sulit Dipadamkan, Tiga Helikopter Sudah 17 Kali Water Bombing
-
Rekan Setim Bongkar Duduk Perkara Konflik Mees Hilgers vs FC Twente, Dua-duanya Kepala Batu
-
Dari Mobil Futuristik hingga Hiburan, Ini Serunya GIIAS 2026