News / Nasional
Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:25 WIB
Ilustrasi botol miras. [Presisi.co]
Baca 10 detik
  • Festival musik The Sounds Project di Jakarta Utara pada Agustus 2026 mengecam tindakan penyelenggara promosi minuman beralkohol Newport.
  • Penyelenggara mengadakan tantangan hafalan Surah Ad-Dhuha berhadiah minuman keras yang dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap kesucian agama.
  • Anggota DPR RI Maman Imanul Haq menuntut penyelenggara dan promotor bertanggung jawab serta melakukan evaluasi total atas insiden tersebut.

Suara.com - Aksi promosi minuman beralkohol merek Newport dalam acara festival musik The Sounds Project di Jakarta Utara menuai kecaman tajam.

Pasalnya, penyelenggara mengadakan tantangan (challenge) hafalan Surah Ad-Dhuha dengan hadiah sebotol minuman keras (miras).

Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB, Maman Imanul Haq, menilai tindakan tersebut sebagai perbuatan yang sangat tercela.

Menurutnya, menjadikan ayat suci Al-Qur’an sebagai bagian dari aktivitas promosi minuman beralkohol merupakan bentuk penghinaan terhadap kesucian agama.

"Saya mengecam keras tindakan tersebut. Menjadikan hafalan Surah Ad-Dhuha sebagai tantangan untuk mendapatkan hadiah minuman keras merupakan tindakan yang sangat tercela. Ayat suci Al-Qur’an tidak boleh dijadikan alat permainan atau gimmick untuk kepentingan promosi produk,” ujar Maman kepada wartawan, Selasa (11/8/2026).

Maman menegaskan, bahwa kreativitas dalam promosi sebuah acara hiburan tidak boleh mengabaikan etika dan norma agama yang berlaku di masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan mulia bagi umat Islam yang harus dihormati dalam situasi apa pun.

“Promosi tentu boleh dilakukan, tetapi harus tetap beretika dan menghormati norma agama. Jangan sampai kreativitas justru berubah menjadi tindakan yang merendahkan atau menyinggung kesucian agama,” tegasnya.

Lebih lanjut, politikus asal Dapil Jawa Barat IX ini meminta pihak penyelenggara maupun pihak promotor minuman tersebut untuk memberikan pertanggungjawaban atas insiden ini. Ia mendesak adanya evaluasi total agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Baca Juga: Ojol Bakal Jadi UMKM, Maman Bantah Isu Pengemudi Bakal Kena Pajak

"Penyelenggara dan pelaku promosi harus bertanggung jawab. Harus ada evaluasi dan penjelasan yang terbuka mengenai bagaimana kegiatan seperti ini bisa terjadi,” katanya.

Maman berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan dan penyelenggara acara dalam melakukan pemasaran di ruang publik.

Ia menekankan agar nilai-nilai agama tidak dikorbankan hanya demi mencari popularitas atau viralitas di media sosial.

"Jangan sampai demi mengejar perhatian publik dan viralitas, nilai-nilai agama dikorbankan. Ini harus menjadi pembelajaran bagi semua pihak bahwa kegiatan promosi yang tidak beretika dan melanggar norma agama tidak boleh terjadi lagi,” pungkasnya.

Load More