News / Metropolitan
Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:15 WIB
Suasana pengolahan sampah di Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta, Selasa (25/2/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak menyebut RDF sebagai “solusi palsu” karena menurutnya teknologi tersebut tidak menyelesaikan persoalan sampah dari sumbernya.

“Selain tidak menyelesaikan akar masalah, proses RDF juga menghasilkan polusi udara yang signifikan, yang semakin memperburuk kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” kata Leonard.

Greenpeace menyoroti ketimpangan antara jumlah sampah yang masuk ke sistem pengelolaan Jakarta dan kapasitas RDF.

Sampah yang diterima Jakarta disebut dapat mencapai sekitar 7.500 hingga 8.000 ton per hari. Sementara teknologi RDF, menurut Greenpeace, hanya mampu mengolah sekitar 1.500 hingga 2.000 ton sampah per hari.

Artinya, kapasitas RDF masih jauh dari cukup untuk menangani seluruh timbulan sampah Jakarta.

Persoalan lain muncul dari komposisi sampah yang masuk ke fasilitas tersebut.

Mengacu pada riset International Pollutants Elimination Network (IPEN), Greenpeace menyebut sampah yang dikelola dalam sistem RDF dapat mengandung rata-rata sekitar 50% plastik campuran.

Material tersebut kemudian digunakan sebagai bahan bakar.

Greenpeace menilai kondisi ini berisiko menimbulkan persoalan pencemaran, terutama jika pengolahan dan pembakaran tidak disertai pengendalian emisi yang memadai.

Baca Juga: Pemerintah Diskon 50% Iuran JKK-JKM untuk Pekerja di Sektor Sampah

Sampah plastik dan persoalan dari hulu

Bagi Greenpeace, persoalan utama Jakarta bukan sekadar bagaimana mengolah sampah yang sudah terkumpul. Masalahnya dimulai jauh sebelum sampah masuk ke fasilitas pengolahan.

Juru Kampanye Isu Plastik dan Perkotaan Greenpeace Indonesia Ibar Akbar mengatakan pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan fasilitas berteknologi tinggi untuk menyelesaikan persoalan sampah.

“Pemerintah harus serius dalam menerapkan regulasi pengurangan plastik sekali pakai, termasuk insentif untuk sistem guna ulang (reuse) sebagai langkah serius untuk mengurangi dampak limbah plastik,” kata Ibar.

Menurut Greenpeace, pengurangan sampah dari sumbernya harus berjalan bersamaan dengan sistem pemilahan dan pengolahan yang lebih berkelanjutan.

Organisasi tersebut juga menyoroti transparansi mengenai pelibatan masyarakat serta perlunya kajian yang lebih mendalam mengenai dampak fasilitas pengolahan sampah terhadap lingkungan dan warga sekitar.

Penulis: Chairunisa

Load More