News / Nasional
Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:25 WIB
Pergi Jauh, Tanah Air Tetap Jadi Rumah: Kisah Diaspora Memaknai Indonesia. [AI]
Baca 10 detik
  • Dua diaspora Indonesia, Salsa Erwina dan Sindi Wulandari, tetap mempertahankan status WNI setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri.
  • Salsa Erwina tinggal di Denmark dan Sindi Wulandari menetap di Australia untuk bekerja serta membangun karier profesional.
  • Kedua diaspora tersebut menilai kritik terhadap pemerintah dan kecintaan mendalam terhadap Indonesia tidak saling bertentangan.

Suara.com - Bagi sebagian orang Indonesia yang memilih menetap di luar negeri, kewarganegaraan mungkin pada akhirnya menjadi persoalan administratif. Namun bagi dua diaspora asal Indonesia, menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) menyimpan makna yang jauh lebih dalam.

Salsa Erwina telah menjalani kehidupan sebagai diaspora selama sekitar satu dekade. Empat tahun ia habiskan di Kuala Lumpur, Malaysia, sebelum kemudian pindah ke Aarhus, Denmark, pada 2020.

Sementara Sindi Wulandari sudah 13 tahun tinggal di Sydney, Australia. Sebagian besar kehidupan dewasanya justru ia jalani di negeri kanguru tersebut.

Keduanya telah membangun karier dan kehidupan di negara yang berbeda. Mereka mengenal sistem sosial yang berbeda, bekerja dengan orang dari berbagai latar belakang, serta memiliki kesempatan untuk melihat Indonesia dari jarak ribuan kilometer.

Namun, ada satu hal yang tidak berubah: keduanya masih memilih Indonesia sebagai identitas dan mempertahankan status sebagai WNI.

Pilihan itu menjadi menarik ketika Indonesia tengah menghadapi berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah dan tata kelola negara yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Bagi Salsa dan Sindi, kritik tersebut tidak otomatis membuat kecintaan terhadap Indonesia menghilang. Justru dari kejauhan, rasa memiliki terhadap Indonesia terkadang terasa semakin kuat.

Sepuluh Tahun Merantau, Semakin Jauh Justru Semakin Dekat dengan Indonesia

Salsa meninggalkan Indonesia pada 2016, ketika baru sekitar satu setengah tahun bekerja setelah lulus kuliah.

Ia memilih mencari kesempatan kerja di Kuala Lumpur. Di Malaysia, karier profesionalnya berkembang dari Content Marketing Executive hingga menduduki posisi Head of Business Development.

Baca Juga: Fantastis! Klub Arab Saudi Bidik Pemain Keturunan Indonesia, Siapkan Dana Rp1 Triliun

Pada 2020, Salsa pindah ke Aarhus, Denmark. Setelah sempat bekerja secara remote untuk perusahaan pendidikan di Indonesia, ia kemudian bergabung dengan Vestas, perusahaan energi terbarukan asal Denmark, sebagai Agile Portfolio Specialist.

Sepuluh tahun hidup sebagai diaspora membuatnya memiliki perspektif yang berbeda terhadap Indonesia.

Menurut Salsa, tinggal di luar negeri membuat seseorang dapat melihat cara institusi bekerja, pemerintah memberikan pelayanan, pajak dikembalikan kepada masyarakat, hingga bagaimana akuntabilitas dijalankan.

Dari kesadaran itu kemudian muncul pertanyaan yang membuatnya teringat dengan negaranya sendiri.

"Kenapa hal yang sama tidak bisa kita perjuangkan untuk Indonesia?" tutur Salsa saat dihubungi suara.com.

Daya kritis yang telah ia asah sejak berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) justru menguat selama dirinya menjadi diaspora. Sikap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang ditunjukkan di media sosial, Salsa tegaskan sebagai bentuk kepedulian terhadap tanah airnya sendiri.

Load More