- Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin mengusung gagasan Green Democracy di Gedung Parlemen Jakarta pada Jumat (14/8/2026).
- Konsep tersebut bertujuan mengatasi demokrasi mahal, bonus demografi, serta ancaman perubahan iklim melalui pembangunan berkelanjutan yang berwawasan ekologis.
- Paradigma baru ini diharapkan mengubah populasi usia produktif menjadi aset demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Suara.com - Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin mengusung gagasan Green Democracy sebagai paradigma untuk menghadapi sejumlah tantangan yang dihadapi Indonesia, mulai dari mahalnya biaya demokrasi, bonus demografi hingga ancaman perubahan iklim.
Sultan mengatakan Indonesia saat ini menghadapi sejumlah tantangan besar yang harus dijawab melalui pendekatan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.
"Saat ini Indonesia dihadapkan dengan berbagai tantangan, demokrasi yang mahal, bonus demografi yang besar dan ancaman perubahan iklim," kata Sultan dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, Green Democracy merupakan gagasan yang berupaya menyeimbangkan pembangunan politik dengan keberlanjutan sosial, ekonomi dan ekologi.
"Untuk menjawab tantangan tersebut, DPD RI mengusung gagasan Green Democracy. Sebagai sebuah gagasan yang menyeimbangkan pembangunan politik dengan keberlanjutan sosial, ekonomi dan ekologi," ujarnya.
Sultan menekankan pembangunan yang dilakukan saat ini tidak boleh menghasilkan beban ekologis bagi generasi mendatang.
Tak hanya persoalan lingkungan, konsep tersebut juga diarahkan untuk memperbaiki sistem demokrasi Indonesia. Sultan ingin demokrasi Indonesia dapat berjalan lebih efisien dan tidak membutuhkan biaya besar.
"Green Democracy juga harus mendorong agar demokrasi kita dapat lebih efisien, tidak berbiaya mahal, dan melahirkan lebih banyak negarawan," ujarnya.
Sultan kemudian mengaitkan gagasan Green Democracy dengan bonus demografi yang sedang dan akan dihadapi Indonesia.
Baca Juga: Rezim Tumbang Tak Cukup, Demokrasi Indonesia Harus Dibangun Ulang
Menurutnya, jumlah penduduk usia produktif yang besar harus dipandang sebagai modal untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, bukan justru menjadi persoalan baru.
"Melalui paradigma Green Democracy, kami ingin memastikan bonus demografi kita yang besar tidak menjadi beban atau liability, tapi ia harus menjadi opportunity sekaligus asset dalam membentuk generasi Indonesia Emas 2045," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
Terkini
-
Jangan Sampai Kehabisan! Promo Tiket Kereta Api 17 Persen Spesial HUT RI Sudah Bisa Dibeli
-
KPK Bongkar Jejak Restitusi Pajak Rp 48,3 Miliar dalam Kasus Suap KPP Banjarmasin
-
Punya Potensi Besar, Mengapa Ketahanan Pangan Indonesia Belum Optimal?
-
Prabowo Kecam Keras Korupsi MBG, Sebut Pelakunya Orang-Orang Biadab
-
Novel White Wedding: Ketika Warna Putih Menjadi Simbol Luka dan Kebahagiaan
-
Susunan Acara Malam Tirakatan 17 Agustus, Lengkap dan Mudah Dipraktikkan
-
SBY Absen di Sidang Tahunan 2026, AHY Ungkap Kondisi Kesehatan Sang Ayah di Luar Negeri
-
Prabowo: Indonesia Anggota G20, Tak Pantas Masih Ada Rakyat yang Lapar
-
Hadapi Demokrasi Mahal dan Krisis Iklim, DPD Usung Gagasan Green Democracy
-
Beda Sepeda Frame Alloy dan Hi-Ten Steel: Mana yang Lebih Ringan dan Tangguh?