- Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk anjlok 14 persen hingga masuk Auto Rejection Bawah.
- Penurunan tersebut terjadi akibat implementasi aturan Bursa Efek Indonesia yang mengubah batas harga minimum saham menjadi Rp1.
- Analis menilai kondisi ini merupakan risiko volatilitas jangka pendek, sementara fundamental perusahaan masih menunjukkan perbaikan kinerja.
Suara.com - Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) langsung merosot setelah kebijakan batas harga saham Rp1. Bahkan, langsung masuk Auto Rejection Bawah (ARB) pada perdagangan hingga sesi I, Senin, 28 September 2026.
Mengutip Data Stockbit, Saham GOTO anjlok 14 persen atau 7 poin ke level Rp43 per lembar saham. Bahkan, investor juga masih mengantre jual saham saham GOTO.
Adapun, antrean jual GOTO menembus hingga 1 miliar lot saham hingga sesi I tadi.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji mengatakan penjualan saham ini dikarenakan pascaimplementasi aturan BEI mengenai batas harga minimum saham dari sebelumnya Rp 50 menjadi Rp 1. Sebelumnya, saham GOTO telah tertahan di level gocap sejak 5 Mei 2026.
"ARB saham GOTO pada perdagangan hari ini lebih tepat dilihat sebagai risiko volatilitas jangka pendek akibat proses price discovery setelah batas minimum Rp50 dihapus, bukan semata-mata sebagai indikasi fundamental perusahaan memburuk,” ujar Nafan saat dihubungi Suara.com.
Menurut dia, sisi fundamental, perbaikan kinerja GOTO tetap menjadi faktor yang dapat menjadi katalis stabilisasi apabila tekanan jual mulai mereda.
Namun, kondisi ARB tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa GOTO akan terus mengalami kerugian.
"Tekanan tersebut lebih bersifat teknikal akibat terbukanya ruang penurunan harga, sehingga investor sebaiknya mencermati keseimbangan supply-demand dan pembentukan support baru,"bebernya.
Nafan menambahkan, investor perlu mencermati sejumlah indikator teknikal dalam melihat pergerakan saham GOTO selanjutnya. Beberapa di antaranya adalah perkembangan bid-offer, volume transaksi, serta kemampuan harga saham dalam membentuk level support baru.
Di sisi fundamental, dia menyebut kinerja GOTO masih menunjukkan perbaikan. Hal itu antara lain tercermin dari laba bersih sebesar Rp252 miliar pada kuartal II 2026 serta adjusted EBITDA yang telah menembus Rp1 triliun.
"Jadi, ARB saat ini lebih tepat dipandang sebagai sinyal bahwa risiko volatilitas meningkat, sementara peluang pemulihan baru dapat dinilai lebih objektif setelah tekanan jual mulai mereda dan price discovery terbentuk," pungkasnya.