News / Nasional
Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:30 WIB
Rumah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok. (Suara.com/Adiyoga)
Baca 10 detik
  • Petani Djiauw Kie Siong meminjamkan rumah kayunya secara mendadak kepada rombongan Soekarno-Hatta pada peristiwa Agustus 1945.
  • Lokasi rumah yang terpencil di hutan Rengasdengklok dipilih PETA karena aman dari patroli militer Jepang.
  • Keluarga pemilik rumah harus mengungsi agar rapat perumusan proklamasi Indonesia berjalan aman tanpa diketahui musuh.

"Masih sepi juga, penduduknya jarang," kata Lany menambahkan.

Rumah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok. (Suara.con/Adiyoga)

Faktor lokasi di tepi sungai pun tak lepas dari pertimbangan taktis, sebab posisi tersebut memungkinkan rombongan untuk segera melarikan diri apabila sewaktu-waktu musuh datang menyerang.

"Kalau ada musuh datang, bisa lari naik perahu," jelas Lany, mengenai pertimbangan keamanan yang melatari pemilihan rumah tersebut.

Keluarga Djiauw Kie Siong sendiri terpaksa mengungsi demi menjaga kerahasiaan rombongan, sebuah pengorbanan kecil yang jarang disorot dalam catatan resmi sejarah proklamasi.

Alasan di balik pengosongan rumah juga tak lepas dari kekhawatiran keluarga terhadap ancaman Jepang, yang jika mengetahui keberadaan rombongan tersebut bisa berujung petaka bagi seluruh anggota keluarga.

"Ketahuan Jepang bisa mati kita dibredel," ujar Lany, mengenai risiko besar yang dihadapi keluarganya kala itu.

Di ruang tengah rumah yang telah dikosongkan tersebut, rapat penyusunan konsep perumusan proklamasi berlangsung.

Dari rumah petani sederhana di tengah hutan itulah, langkah menuju kemerdekaan Indonesia mulai dirumuskan, sebelum akhirnya rombongan Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta dan menuntaskan proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Baca Juga: Profil B.M Diah: Tokoh Pers dan Pahlawan yang Selamatkan Draf Asli Teks Proklamasi

Load More