- Polisi Malaysia menggerebek sarang penipuan kripto internasional yang menempati kawasan sepi Forest City.
- Megaproyek mangkrak memberikan privasi dan fasilitas bagi sindikat kejahatan digital untuk bersembunyi.
- Jaringan penipu global terus bermigrasi dan berkembang menyerupai organisasi perusahaan profesional modern.
Suara.com - Penggerebekan besar-besaran kepolisian Malaysia membongkar alih fungsi kawasan megaproyek Forest City menjadi pusat operasi penipuan kripto jaringan internasional. Pembongkaran dua sindikat skala besar ini membuktikan bagaimana proyek perumahan mangkrak dapat dengan mudah beralih fungsi menjadi sarang kejahatan terorganisasi.
Kegagalan pemasaran proyek properti bernilai US$100 miliar ini secara langsung memicu ruang kosong yang dimanfaatkan kelompok kriminal untuk beroperasi secara sembunyi-sembunyi. Dari target awal menampung ratusan ribu jiwa, tingkat okupansi riil yang tidak mencapai lima persen menciptakan iklim kerja sempurna bagi para penipu.
Operasi senyap para pelaku penipuan investasi dan asmara ini berhasil berkulit rapi di balik citra kawasan komersial modern yang legal. Pengawasan lingkungan yang minim membuat aktivitas ilegal berjalan berdampingan tanpa kecurigaan dari segelintir warga lokal yang menghuni apartemen.
Polisi menyita ratusan perangkat komputer serta menyegel belasan unit properti saat menangkap 335 terpidana dari berbagai negara. Penggerebekan ini juga mengungkap pergeseran strategi sindikat kejahatan global yang mulai mengadopsi struktur manajemen korporasi modern.
Aparat mengidentifikasi pergerakan massif ribuan pelaku penipuan yang bermigrasi dari kawasan Asia Tenggara lain menuju Johor. Pengetatan aturan hukum di Kamboja mendorong eksodus besar-besaran jaringan kejahatan digital ke lokasi-lokasi baru yang lebih aman.
Mengapa Sindikat Internasional Memilih Forest City Sebagai Markas Operasi?
"Pada 2016 mereka menggambarkan tempat ini sebagai kota emas; sangat, sangat indah," kata Jason Deng, investor berusia 56 tahun yang termasuk salah satu pembeli pertama di Forest City, dikutip dari BBC.
"Kalau saya tahu tempat ini tidak begitu bagus, saya tidak akan membeli begitu banyak apartemen," katanya sekarang.
"Saya dulu pikir tempat ini akan jauh, jauh lebih baik."
Baca Juga: Terungkap, Rahasia Pilot Malaysia Bawa Narkoba Rp160 M Lolos Pemeriksaan KLIA
Kondisi fisik bangunan yang terbengkalai dan minim pengawasan sipil menjadi alasan utama para penipu kripto menetap di sini. Ketersediaan infrastruktur komunikasi tingkat tinggi yang berpadu dengan sepinya penghuni memberi perlindungan privasi yang sangat optimal.
"Kenyataannya adalah banyak organisasi seperti ini sekarang lebih menyerupai perusahaan multinasional daripada jaringan kejahatan terorganisasi atau geng tradisional," kata John Wojcik, analis di TRM Labs, yang menyelidiki kejahatan terkait kripto.
"They have dedicated recruitment teams, IT departments, money laundering specialists, and infrastructure."
Bagaimana Kejahatan Terorganisasi Beradaptasi Dengan Tren Rekrutmen Profesional?
"Saat berbicara dengan klien atau pelanggan, perusahaan mengajari kami untuk mengatakan 'kami sudah memiliki 23.000 penduduk yang tinggal di kawasan ini'," kata Kevin.
"Kurang dari 5.000."
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi
-
5 Sabun Cuci Muka untuk Bruntusan di Dahi dan Pipi, Lengkap dengan Ulasan Pengguna