- Mahasiswa UGM bersama jaringan gerakan sipil menggelar aksi protes di Bundaran UGM pada Senin, 17 Agustus 2026.
- Massa menurunkan bendera Merah Putih menjadi setengah tiang sebagai simbol duka cita atas matinya kedaulatan sipil di Indonesia.
- Aksi tersebut dilakukan untuk meluapkan kekecewaan terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua tahun terakhir.
Suara.com - Aksi simbolis perlawanan digelar oleh kolektif mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama jaringan gerakan sipil di Bundaran UGM pada Senin (17/8/2026) sore. Aksi ini digelar bertepatan dengan perayaan kemerdekaan RI sebagai bentuk unjuk rasa atas kondisi demokrasi dan kepemimpinan nasional.
Sebagai bentuk protes, massa aksi melakukan tindakan simbolis dengan menurunkan bendera Merah Putih dari posisi penuh menjadi setengah tiang di lokasi aksi.
Langkah ini diambil sebagai simbol duka cita mendalam atas apa yang mereka sebut sebagai matinya kedaulatan sipil dan merosotnya penegakan hukum di Indonesia.
Sejumlah spanduk bernada kritik tajam terhadap penguasa turut dibentangkan di lokasi. Spanduk-spanduk tersebut di antaranya bertuliskan "81 Tahun Merdeka atau Menderita", "Di Atas Kertas Demokrasi, di Jalanan Penuh Represif", dan "81 Tahun Diopresi, Saatnya Sipil Berdikari".
Ada pula karangan bunga bertuliskan "Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya Kedaulatan Sipil".
Massa menegaskan gerakan ini lahir dari keputusasaan rakyat atas penguasa yang dinilai acuh terhadap karut-marut negara.
"Aksi hari ini menjadi luapan, deruan keputusasaan, deruan kekecewaan. Penting selain merayakan, kita harus merefleksikan apakah Indonesia merdeka selama 81 tahun ini sudah betul-betul merdeka atau belum," kata Akhdan Lutfi, salah satu perwakilan mahasiswa UGM, ditemui di lokasi aksi, Senin sore.
Dalam kesempatan ini, Lutfi turut membedah tata kelola negara di bawah dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ia menyoroti soal komersialisasi pendidikan, program makan bergizi gratis (MBG) yang dinilai terus memakan korban, penguasaan lahan oleh elite, hingga pengalokasian anggaran yang tidak tepat sasaran seperti proyek KDMP serta maraknya represivitas terhadap suara kritis masyarakat.
Baca Juga: Prabowo Bakal Habiskan Rp4000 Triliun di 2027, Ini Perusahaan yang Bakal Cuan Besar
"Kita merdeka dari apa jika anggaran pendidikan dinomorduakan? Kita merdeka dari apa jika makanan bergizi yang katanya gratis dan bergizi justru membuat anak-anak kita menjadi korban? Kita merdeka dari apa ketika tanah yang menjadi sumber daya dan sumber kehidupan Indonesia justru dikeruk habis hanya untuk segelintir elit?" tegasnya.
Perwakilan mahasiswa UGM lainnya, Gabriel Jogodamai Warella, menambahkan bahwa aksi ini sengaja menghadirkan mimbar bebas lintas sektor. Hal itu ditujukan untuk menampung akumulasi kemarahan rakyat terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai irasional.
"Ya kita harus merefleksikan ulang, kemudian mengkaji ulang juga apakah kita benar-benar merdeka selama 81 tahun atau kita ini justru menderita bukannya merdeka. Ini luapan-luapan kemarahan yang selama ini terakumulasi selama 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran," kata Gabriel.
Tag
Berita Terkait
-
Prabowo Bakal Habiskan Rp4000 Triliun di 2027, Ini Perusahaan yang Bakal Cuan Besar
-
Tak Pasang Bendera hingga Ogah Ikut Lomba, Alasan Warga di Balik Sepinya Euforia Kemerdekaan
-
Momen Haru Presiden Prabowo Berkaca-kaca Saat Lagu 'Bagimu Negeri' Menggema di Istana Merdeka
-
Makna Kemerdekaan di Pondok Labu, Warga Ciptakan Sirine Pendeteksi Banjir
-
Sudah Seperti Bestie, Istana Ungkap Rahasia di Balik Posisi Duduk Jokowi-Prabowo-Gibran
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
HUT RI, Mahasiswa UGM Turunkan Bendera Setengah Tiang: 81 Tahun Merdeka atau Menderita?
-
Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
-
Semangat Kemerdekaan, Bank Sumsel Babel Perkuat Komitmen Membangun Daerah yang Berdaulat dan Makmur
-
BMW Puncaki Daftar Penjualan Mobil Mewah Meski Pasar Premium Sedang Lesu
-
4 Rekomendasi Obat Totol Flek Hitam Paling Ampuh, Ada yang Hasilnya Kelihatan dalam 7 Hari
-
Eks Member JKT 48 Tegur Keras Anak Buah Erick Thohir: Jujur Aku Kecewa!
-
Solidaritas dengan Korban Gempa Flores, Pemerintah Tunda Pesta Kembang Api di Monas
-
Bukan Sekadar Mediasi, KPAI Minta Pemulihan Korban Bullying SMPN 1 Blora Jadi Prioritas
-
Ulasan Drama Mother and Mom: Kritik terhadap Obsesi Menjadi Ibu Ideal
-
Parade Bendera Merah Putih di Bawah Laut Meriahkan HUT RI ke-81