News / Nasional
Senin, 17 Agustus 2026 | 19:36 WIB
Ilustrasi pedagang perlengkapan hari kemerdekaan RI. [AI]
Baca 10 detik
  • Sejumlah pedagang di Tanah Abang mengalami penurunan omzet hingga 75 persen saat menjelang HUT ke-81 RI pada Agustus 2026.
  • Penurunan omzet tersebut disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat serta pergeseran pola belanja konsumen ke toko online.
  • Peneliti CELIOS menyatakan bahwa penurunan pembelian aksesori kemerdekaan mengindikasikan kelesuan ekonomi dan pengereman belanja barang non-urgen.

Suara.com - Kemeriahan menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia masih menyisakan persoalan bagi para pedagang kecil. Di tengah berbagai persiapan perayaan 17 Agustus 2026, sejumlah pedagang aksesori kemerdekaan dan baju adat mengaku mengalami penurunan penjualan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi ekonomi yang dinilai belum stabil serta pergeseran pola belanja masyarakat ke toko online disebut menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi penjualan.

Di kawasan Tanah Abang, Jakarta, salah satu pedagang aksesori kemerdekaan, Arif, mengatakan omzet Toko Agen Aksesori Kemerdekaan Nurmala yang dikelolanya anjlok hingga 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Biasanya, omzet Toko Nurmala dapat menembus lebih dari Rp100 juta setiap momen kemerdekaan. Namun, tahun ini pencapaian tersebut belum terulang.

"Biasanya modal udah balik tanggal-tanggal segini," kata Arif kepada Suara.com, Senin (10/8/2026).

Pada tahun sebelumnya, Arif bahkan harus mengangkut stok bendera dan berbagai pernak-pernik kemerdekaan menggunakan truk hingga lima kali pengiriman. Tahun ini, ia hanya melakukan dua kali pengiriman karena memperkirakan jumlah pembeli akan menurun.

Salah satu lapak pernak-pernik Agustusan di Tanah Abang, Jakarta, Senin (10/8/2026). (Suara.com/Alif Bintang).

Menurut Arif, penurunan penjualan juga dipengaruhi pergeseran konsumen ke toko online. Ia menilai pelaku pasar online mampu menawarkan harga yang jauh lebih murah.

"Sekarang kalau orang datang, nanya ke sini, bilangnya murah di online," kata Arif.

Di tengah kondisi ekonomi yang dinilai semakin tak menentu, Arif mengaku hanya bisa mengandalkan pesanan dari pelanggan setianya di sejumlah daerah.

Baca Juga: HUT RI, Mahasiswa UGM Turunkan Bendera Setengah Tiang: 81 Tahun Merdeka atau Menderita?

Kondisi serupa dirasakan pedagang Toko Hastopa, Riska. Ia mengatakan penjualan bendera Merah Putih di lapaknya turun hingga 75 persen dibandingkan tahun lalu.

Pada tahun sebelumnya, Riska mampu mengantongi omzet sekitar Rp5 juta dari penjualan bendera dalam waktu kurang dari satu bulan. Tahun ini, kondisi tersebut berubah drastis.

"Jauh beda sama tahun sekarang. Buat penurunan 75 persen khusus bendera," kata Riska.

Jika tahun lalu Riska menyediakan stok hingga ratusan bendera, tahun ini ia hanya menyiapkan sekitar 50 bendera. Keputusan tersebut diambil setelah melihat daya beli masyarakat yang dinilainya menurun.

Riska juga menilai maraknya transaksi online turut menekan penjualan pedagang konvensional.

"Kalau kata aku ya online sih, ya, merusak. Soalnya online suka menjatuhkan harga."

Load More