News / Internasional
Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:35 WIB
Ilustrasi pistol kaliber 45 (Wikipedia)
Baca 10 detik
  • Siswa SMP di Zamboanga City tewas menembak rekannya sebelum akhirnya memilih mengakhiri hidupnya.

  • Penembakan ini memperpanjang insiden kekerasan di sekolah yang melibatkan pelajar dan senjata api.

  • Pemerintah Asia Tenggara mulai memperketat aturan media sosial dan gim kekerasan bagi remaja.

Suara.com - Insiden penembakan maut kembali mengguncang institusi pendidikan di Filipina setelah seorang pelajar SMP Katolik menembak mati teman sekolahnya lalu bunuh diri. Pelaku dengan leluasa membawa pistol kaliber 45 saat jam belajar mengajar di Zamboanga City masih berlangsung.

Kejadian ini menambah deretan panjang aksi kekerasan remaja yang disinyalir kuat terpengaruh konten media digital berunsur kekerasan. Rekaman visual yang beredar luas di media lokal memperlihatkan sudut pandang orang pertama layaknya permainan video saat penembak menyusuri koridor sekolah.

Sorotan publik kini tertuju pada ancaman pembiasaan aksi kekerasan di dunia nyata akibat konsumsi media interaktif tanpa pengawasan.

Ilustrasi penembakan

Wali Kota Zamboanga City, Khymer Adan Olaso, mengonfirmasi kronologi awal kejadian saat berbicara kepada stasiun radio lokal.

"Terduga pelaku sempat melepaskan tembakan ke arah guru yang sedang duduk di mejanya, tetapi meleset," kata Olaso dikutip dari BBC, Selasa (18/8/2026).

"Setelah itu, terduga pelaku pindah ke ruang kelas lain dan menembak seorang siswa yang kemudian meninggal dunia," lanjut Olaso.

Aparat kepolisian memastikan area sekolah telah sepenuhnya steril dan tidak ada ancaman penembak aktif lain di lokasi. Proses penanganan darurat langsung dilakukan untuk menenangkan puluhan siswa yang trauma akibat letusan senjata.

Tragedi Zamboanga ini meletus hanya dua bulan pascainsiden berdarah di Tacloban City yang merenggut tiga nyawa siswa dan melukai 20 korban lainnya. Kepolisian mengidentifikasi dua remaja laki-laki sebagai pelaku, di mana salah satunya diketahui intens memainkan gim kekerasan ekstrem.

Pemerintah Filipina merespons kejadian tersebut dengan memblokir gim Gorebox serta meluncurkan penyelidikan Senat terkait dampak gim komputer terhadap perilaku pemuda. Negara-negara di Asia Tenggara kini semakin gencar mengkaji pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur demi menekan bahaya dampak negatifnya.

Baca Juga: Fakta Mengerikan di Balik Penembakan Thailand: Pelaku Sudah Belajar Senjata 2 Tahun

Kasus serupa belum lama ini juga terjadi di Thailand ketika seorang remaja menewaskan delapan orang sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri di sekolah. Otoritas Thailand menegaskan bahwa pelaku bertindak kejam akibat kerap mengonsumsi konten-konten kekerasan secara bebas di internet.

Load More