News / Nasional
Selasa, 18 Agustus 2026 | 13:57 WIB
Seorang penjual bendera merah putih hingga umbul-umbul jelang hari kemerdekaan di salah satu sudut Jakarta. (ist)
Baca 10 detik
  • Putri dan warga Cirebon berjualan atribut kemerdekaan di Asemka Jakarta sejak akhir Juli hingga pertengahan Agustus.
  • Sisa bendera tak terjual dibawa pulang oleh Putri untuk disimpan atau dibagikan gratis di kampung halamannya.
  • Warga Pondok Labu menyimpan dekorasi kain di pos RT agar dapat digunakan kembali hingga rusak.

Thomas, warga RT 04 RW 08 Pondok Labu, Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa dekorasi berbahan kain seperti bendera dan umbul-umbul justru menjadi inventaris yang dirawat dan disimpan.

"Iya, ini kan inventaris punya RT. Disimpan lagi di pos, ada tempat buat nyimpan bendera-bendera ini," jelasnya.

Bendera-bendera tersebut tidak serta-merta diganti setiap tahun, melainkan terus dipakai hingga benar-benar rusak.

"Nggak, dipakai sampai serusaknya benderanya aja," tegas Thomas, sambil menjelaskan bahwa hiasan lampu saja yang dipakai sesuka hati tanpa aturan khusus penyimpanan.

Praktik menyimpan dan mendaur pakai atribut kemerdekaan seperti yang dilakukan warga Pondok Labu ini sesungguhnya menjadi secercah harapan di tengah kekhawatiran soal sampah visual pascaperayaan.

Sayangnya, tidak semua elemen dekorasi bernasib sama beruntung. Sebab barang-barang berbahan plastik sekali pakai seperti balon dan sebagian stiker cenderung sulit didaur ulang maupun disimpan kembali.

Kondisi pasar tahun ini pun turut memengaruhi volume atribut yang beredar, seiring pengakuan Putri bahwa penjualan mengalami penurunan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Tahun ini kurang sih," ungkap Putri singkat, sebelum menambahkan bahwa penurunan penjualan tahun ini mencapai sekitar 40 persen dibanding musim sebelumnya.

Penurunan permintaan ini, di satu sisi, bisa dibaca sebagai berkurangnya potensi sampah dekorasi yang akan dihasilkan pascaperayaan.

Baca Juga: 78 Tahun Berkarya, OT Group Gelar Upacara Kemerdekaan Demi Wujudkan Semangat Kebangsaan

Namun di sisi lain, hal tersebut juga mencerminkan tantangan ekonomi yang dihadapi para pedagang musiman rantauan seperti Putri, yang menggantungkan penghasilan tahunan mereka dari sekitar satu setengah bulan masa jual di Ibu Kota.

Kisah dari Asemka dan Pondok Labu ini pada akhirnya menyisakan renungan bagi masyarakat luas, bahwa kemeriahan tujuh belasan tak melulu harus berakhir sebagai tumpukan sampah plastik dan kain di tepi jalan.

Menyimpan bendera untuk dipakai kembali, sebagaimana dicontohkan warga RT 04 RW 08 Pondok Labu, maupun kebiasaan pedagang yang membawa pulang dan membagikan sisa stok, menjadi bukti bahwa perayaan kemerdekaan sejatinya bisa dirayakan tanpa harus menyisakan beban baru bagi lingkungan.

Load More