- Sekretaris Jenderal F-SERBUNDO Lorent Evanggelista menyatakan banyak kasus kekerasan seksual di perkebunan sawit diselesaikan melalui musyawarah.
- Buruh perempuan disabilitas tuna rungu dan tuna wicara berinisial EZ mengalami kekerasan seksual di perkebunan sawit Mandailing Natal.
- F-SERBUNDO berharap momentum ini mendorong perusahaan memperbaiki kebijakan perlindungan buruh serta sistem pencegahan kekerasan seksual.
Suara.com - Kasus kekerasan seksual di perkebunan kelapa sawit dinilai masih seperti fenomena gunung es karena tidak seluruh kejadian berujung pada proses hukum.
Sekretaris Jenderal F-SERBUNDO, Lorent Evanggelista Aritonang, mengatakan banyak kasus justru diselesaikan melalui musyawarah.
“Banyak kekerasan seksual hanya diselesaikan dengan musyawarah,” kata Lorent.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan masih lemahnya mekanisme penanganan kekerasan seksual di lingkungan perkebunan sawit.
Kerentanan tersebut semakin besar bagi buruh perempuan dan penyandang disabilitas yang bekerja di area perkebunan yang luas dan terisolasi.
Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah EZ, buruh perempuan penyandang disabilitas tuna rungu dan tuna wicara yang bekerja sebagai penyemprot (chemist) di perkebunan sawit di Mandailing Natal.
“Korban keterbatasan bicara dan juga keterbatasan mendengar,” ujar Lorent.
Kondisi itu membuat korban membutuhkan mekanisme pelaporan, pendampingan, serta akses layanan yang aman dan inklusif.
Menurut Lorent, persoalan tidak hanya terletak pada kasus yang terjadi, tetapi juga pada minimnya sistem pencegahan di lingkungan kerja.
Baca Juga: Masih Diburu Polisi! Syekh Ahmad Al Misry Cabuli 5 Santri Pakai Iming-iming Kuliah di Mesir
Ia menyebut masih ditemukan perusahaan yang tidak memiliki kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, tidak memberikan pelatihan maupun sosialisasi, serta belum menyediakan mekanisme pengaduan yang aman.
“Kemudian tidak ada mekanisme pengaduan yang aman, jadi buruh akan merasa takut mengadukan apabila tidak ada jaminan,” katanya.
Kondisi tersebut membuat penanganan kasus dapat berjalan lambat dan korban berpotensi tidak segera memperoleh perlindungan.
F-SERBUNDO berharap kasus kekerasan seksual di perkebunan sawit menjadi momentum untuk memperbaiki kebijakan perusahaan sekaligus memastikan hak-hak buruh terpenuhi.
Pemulihan korban, menurut Lorent, harus mencakup aspek psikologis, psikis, hingga keberlanjutan korban dalam pekerjaan.
“Harapannya kita bisa melakukan penanganan dan pencegahan kekerasan seksual di kebun sawit,” ujarnya.
Ia menegaskan perbaikan diperlukan agar persoalan kekerasan seksual tidak terus berlarut karena pada akhirnya dapat memengaruhi citra dan keberlangsungan bisnis sawit Indonesia.
Reporter: Agustin Dwi Anggraini
Tag
Berita Terkait
-
Masih Diburu Polisi! Syekh Ahmad Al Misry Cabuli 5 Santri Pakai Iming-iming Kuliah di Mesir
-
Pelatih Panjat Tebing Jadi Tersangka TPKS 5 Atlet Pelatnas Putri, Terjadi Sejak 2022
-
Lewat Fashion Show Ini, Luka Korban Kekerasan Seksual Diterjemahkan ke Dalam Busana
-
81 Tahun Indonesia Merdeka, Tapi Kemerdekaan Belum Utuh bagi Penyandang Disabilitas Mental
-
Mantan Guru Ngaji Diduga Cabuli Anak di Masjid, Korban Capai 24 Orang dalam 11 Tahun
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Merdeka dari People Pleasing: Mengapa Gen Z Harus Mulai Belajar Berkata 'Tidak'
-
Kekerasan Seksual di Perkebunan Sawit seperti Gunung Es, Perlindungan Buruh Masih Minim
-
Makna Lagu "Great Expectation" Sienna Spiro, Ketika Cinta Tejebak Ekspetasi
-
Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Sudah Sampai Malaysia, Sekolah di Sarawak Ditutup
-
Guns N' Roses Kembali ke Jakarta dan Kenangan Masa Remaja Saya
-
Warga Jakarta Bayar Mahal Udara Kotor, Revisi Aturan Pencemaran Masih Terpinggirkan
-
Rupiah Kian Menguat, Destry Damayanti: Respons Kebijakan Stabilisasi BI
-
Mahasiswa Minta Praperadilan Febrie Ardiansyah Tak Hambat Penelusuran Aset dan Aliran Dana TPPU
-
Belum Tetapkan Tersangka di Kasus Kematian Sutrimo, Polisi Tunggu Hasil Lab Forensik
-
Teriakan Anggota Paskibraka Sayang-sayang Pak Koster Bikin Netizen Geli: Gak Mungkin dari Hati