News / Metropolitan
Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:55 WIB
Gubernur Pramono Anung di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (19/8/2026). [Suara.com/Adiyoga]
Baca 10 detik
  • Pemprov DKI Jakarta melaksanakan rekayasa modifikasi cuaca untuk menghasilkan hujan buatan pada Rabu, 19 Agustus 2026.
  • Gubernur Pramono Anung menyatakan langkah tersebut dilakukan untuk menyiasati musim kemarau dan meredakan polusi udara Jakarta.
  • Hujan buatan tersebut terbukti berhasil menyegarkan udara ibu kota meskipun belum sepenuhnya maksimal karena keterbatasan awan.

Suara.com - Jakarta diguyur hujan pada Rabu (19/8/2026), saat wilayah ibu kota tengah dilanda cuaca kering akibat musim kemarau.

Hujan tersebut diklaim bukan terjadi secara alami, melainkan hasil dari rekayasa atau modifikasi cuaca yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, pemerintah daerah akan selalu memanfaatkan setiap awan yang muncul untuk diubah menjadi hujan buatan.

"Berkali-kali saya sampaikan bahwa Pemerintah DKI Jakarta, ketika begitu ada awan, sekecil apa pun awan itu, akan kami buat untuk hujan buatan," ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta.

Ia kemudian menjelaskan pola hujan yang terjadi hari ini di Jakarta.

"Memang tadi sempat dua kali. Hujan, break kurang lebih 30 menit, hujan lagi," kata Pramono.

Menurutnya, pola hujan seperti ini berbeda dari hujan yang biasa terjadi pada musim penghujan.

"Ini kan kelihatan banget, bukan sesuatu hujan yang seperti pada musim hujan. Ini adalah hujan yang memang ada modifikasi cuaca," klaim eks Sekretaris Kabinet itu.

Meski hanya turun sebentar, Pramono menyebut hujan buatan hari ini setidaknya membawa dampak positif meski belum sepenuhnya maksimal.

Baca Juga: Kabar Baik Persija! Radovan Pankov Hampir Pulih, Shin Tae-yong Siap Turunkan Benteng Serbia

"Minimal, ini membuat (udara) ada lebih segar sedikit walaupun belum maksimal, karena memang awannya nggak ada. Problem-nya itu," tegas dia.

Upaya modifikasi cuaca sendiri menjadi salah satu langkah Pemprov DKI Jakarta untuk menyiasati minimnya curah hujan alami akibat kemarau.

Selain untuk mengatasi cuaca kering, modifikasi cuaca juga dilakukan untuk meredakan polusi udara di Jakarta yang belakangan ramai disorot.

Hujan di Jakarta terakhir kali turun pada 4 Agustus 2026 lalu, yang oleh BMKG diklaim sebagai fenomena alam murni dan bukan hasil rekayasa ilmiah.

Load More