-
Paus Leo XIV menyampaikan duka mendalam atas gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT.
-
Gempa bumi NTT menyebabkan sedikitnya 75 orang meninggal dunia dan 907 luka-luka.
-
BNPB mencatat 3.752 gempa susulan dan meminta warga NTT tetap mewaspadai bahaya.
Suara.com - Pemimpin Gereja Katolik Dunia Paus Leo XIV mengirimkan pesan belasungkawa resmi atas musibah gempa bumi magnitudo 7,7 yang meluluhlantakkan Nusa Tenggara Timur. Ungkapan empati tersebut disampaikan langsung kepada pimpinan gereja lokal untuk menguatkan para korban di daerah bencana.
Langkah diplomatik religius ini menjadi sorotan internasional setelah dampaknya merusak berbagai infrastruktur serta menelan puluhan korban jiwa. Kehadiran perhatian dari Vatikan menegaskan bahwa tragedi kemanusiaan di timur Indonesia ini memerlukan penanganan yang sangat serius.
Pesan solidaritas itu disampaikan secara tertulis melalui saluran resmi diplomatik Indonesia untuk negara takhta suci. Informasi mengenai dukungan moral dari Vatikan ini dikonfirmasi publik lewat pernyataan KBRI Vatikan pada Kamis (20/8).
Melalui telegram resmi kepada Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD yang ditandatangani Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin, Paus Leo XIV menyatakan dirinya “sangat sedih” atas kehancuran dan penderitaan yang ditimbulkan oleh bencana tersebut.
Dukungan moral ini diharapkan mampu memberi kekuatan psikologis bagi warga setempat yang sedang berjuang di tengah masa krisis. Takhta Suci memastikan doa terus mengalir untuk keselamatan seluruh penduduk di wilayah terdampak.
“Paus menyampaikan solidaritas dan kedekatan spiritual kepada seluruh masyarakat yang terdampak,” demikian keterangan KBRI Vatikan, mengutip telegram pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia itu.
Selain memberikan penghiburan rohani, Vatikan juga mendorong adanya aksi nyata di lapangan. Pemimpin tertinggi umat Katolik itu meminta semua pihak bahu-membahu dalam menyalurkan bantuan darurat.
Paus Leo XIV juga mendorong para pemimpin Gereja dan otoritas sipil untuk terus memberikan bantuan kemanusiaan, serta menyampaikan doa seraya memohon berkat ilahi berupa penghiburan dan kekuatan bagi seluruh keluarga serta masyarakat yang terdampak.
Seruan tersebut menjadi dorongan moral bagi lembaga sosial dan pemerintah daerah agar tidak melambatkan proses evakuasi. Sinergi antara otoritas sipil dan lembaga keagamaan menjadi kunci utama percepatan pemulihan pascabencana.
Baca Juga: PDIP Kirim Kapal Rumah Sakit ke Flores, Hasto: Bantu Korban Tanpa Lihat Pilihan Politik
Sementara itu, dampak kerusakan dan jatuhnya korban di lapangan terus diverifikasi oleh petugas penanggulangan bencana. Angka kerugian material dan korban jiwa diperkirakan masih bisa berkembang seiring pendataan di area terisolasi.
Gempa bumi tersebut mengakibatkan sedikitnya 75 korban tewas dan 907 orang luka-luka, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Ratusan warga yang terluka kini menjalani perawatan medis darurat di berbagai fasilitas kesehatan yang bertahan. Petugas di lapangan terus mendistribusikan logistik makanan dan obat-obatan ke titik-titik pengungsian.
BNPB mengimbau masyarakat di NTT untuk tetap waspada dan siaga menyusul masih tingginya aktivitas gempa susulan.
Getaran susulan yang mengguncang secara terus-menerus memicu kecemasan warga untuk kembali ke rumah. Banyak penduduk memilih bertahan di tenda darurat karena khawatir bangunan roboh tiba-tiba.
Hingga Kamis pukul 16.00 WIB, tercatat sebanyak 3.752 gempa susulan terjadi di wilayah terdampak. Salah satu gempa susulan yang dirasakan pada Kamis terjadi pada pukul 10.47 waktu setempat dengan kekuatan 5,7 magnitudo.
Bencana alam berskala besar ini bermula ketika guncangan kuat bermagnitudo 7,7 melanda kawasan Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8). Getaran hebat tersebut merobohkan pemukiman warga, merusak fasilitas publik, dan memutus jalur komunikasi di beberapa titik.
Kondisi geologis wilayah yang masih aktif memicu rentetan getaran susulan hingga ribuan kali dalam kurun waktu beberapa hari setelah kejadian utama. Situasi darurat ini memicu gelombang empati global, termasuk respon cepat dari Takhta Suci Vatikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Paus Leo XIV Dorong Pimpinan Gereja Sedunia Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT
-
IHSG Masih Nyaman di Level 6.500 Pagi Ini, COIN dan PACK Meroket
-
Penangguhan Tahanan Nyumarno Cs Ditolak Hakim, Kuasa Hukum Korban Soroti Alasan Permohonan
-
Surut Saat Kemarau, Waduk Gajah Mungkur Disulap Jadi Ladang Padi
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Rumus Volume dan Luas Permukaan Balok: Panduan Lengkap dengan Sifat dan Contoh Soal
-
Rokok dan Miras Ilegal Senilai Rp20,18 M Disita, Negara Terancam Rugi Rp11,81 M
-
Fenomena Slow Dating: Saat Gen Z Tidak Lagi Terburu-buru Menjalin Hubungan
-
Buron ke Singapura, Ini Tampang Bos THM Planet Batam yang Jadi Buruan Bareskrim dan Interpol
-
Rp660 Juta Digelontorkan Untuk Bangun Huntap Bencana Aceh