- Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan pada Agustus 2026 menyebabkan ribuan titik panas serta kabut asap pekat.
- Anggota Komisi XII DPR RI mendesak evaluasi sistem antisipasi, percepatan pemadaman, dan modifikasi cuaca secara masif.
- Pemerintah harus menegakkan hukum tanpa pandang bulu serta melindungi kesehatan warga yang terserang ISPA.
Suara.com - Kondisi lingkungan di Pulau Kalimantan kembali memasuki fase kritis seiring dengan meluasnya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Anggota Komisi XII DPR RI, H. Ridwan Andi Wittiri, menyatakan keprihatinan mendalam atas bencana tahunan yang kembali melanda tiga provinsi prioritas, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Krisis ini telah memicu kemunculan ribuan titik panas yang mengancam ekosistem dan kesehatan masyarakat luas.
Berdasarkan pantauan terkini, situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang sangat mengkhawatirkan.
Ridwan Andi Wittiri mengungkapkan bahwa sebaran api kini tidak lagi terkendali di beberapa titik tertentu saja, melainkan sudah mengepung wilayah pemukiman dan pusat kota.
“Data terbaru menunjukkan lebih dari 2.000 titik panas terpantau di seluruh Kalimantan, dengan konsentrasi tertinggi di Kalimantan Tengah dan ini terus bertambah. Kabut asap sudah menyelimuti Palangka Raya sejak pertengahan Agustus, jarak pandang di beberapa titik anjlok hingga di bawah satu kilometer, dan ribuan warga mulai terserang ISPA. Ini bukan lagi soal cuaca, ini soal nyawa dan hak hidup sehat rakyat kita,” ujar Ridwan dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).
Evaluasi Total Sistem Antisipasi Karhutla
Persoalan karhutla di Kalimantan bukanlah isu baru, melainkan masalah sistemik yang telah berulang sejak tahun 1996.
Ridwan Andi Wittiri menyoroti bahwa pola kejadian tahunan ini menunjukkan adanya kelemahan mendasar dalam kesiapsiagaan dini pemerintah dan instansi terkait.
Baca Juga: Soal Karhutla, PKB Sentil Menhut: Jangan Cuma 'Cosplay Damkar'
Ia menekankan bahwa faktor alam tidak bisa terus-menerus dijadikan alasan utama atas kegagalan pencegahan kebakaran.
Menurutnya, sistem deteksi dini dan mitigasi harus dirombak secara total agar tidak hanya bersifat reaktif saat api sudah membesar.
Kesiapan menghadapi musim kemarau seharusnya sudah matang jauh sebelum titik panas pertama muncul di satelit.
“Kalau setiap tahun ceritanya sama, El Nino dan kemarau dijadikan kambing hitam, maka ada yang salah dengan sistem antisipasi kita, bukan cuma dengan alamnya,” ujarnya.
Percepatan Operasi Pemadaman dan Modifikasi Cuaca
Dalam upaya memadamkan api yang terus menjalar, Ridwan memberikan apresiasi terhadap kerja keras personel gabungan di lapangan, mulai dari TNI, Polri, BNPB, hingga tim Manggala Agni.
Berita Terkait
-
Soal Karhutla, PKB Sentil Menhut: Jangan Cuma 'Cosplay Damkar'
-
Kalimantan Disebut Setengah Neraka, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional Karhutla
-
Asap Karhutla Mengancam, Wakil Ketua Komisi X DPR Usul Sekolah Diliburkan
-
Penerbangan di Kalimantan Kacau Balau, Penumpang Terlantar Hingga Pembatalan
-
Karhutla Kalimantan Kian Parah, DPR Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional
Terpopuler
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
- Kunjungi Korban Gempa di NTT Hari Ini, Gus Miftah Gelontorkan Bantuan Rp500 Juta
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Kalimantan Membara, Ridwan Andi Wittiri Desak Evaluasi Total Karhutla: Ini Soal Nyawa Rakyat
-
Viral Kuskus Waigeo di Atas Pohon Tumbang: Saat Hutan Habitat Satwa Endemik Papua Menyusut
-
Bung Ropan Ubah Pernyataan soal Rizky Ridho, Peluang ke Timnas Indonesia Masih Terbuka
-
Sempat Ingin Berhenti demi Orang Tua, Kasman Kini Jadi Jembatan Bahasa di Industri Nikel Obi
-
Siapkan 1.000 Pengacara dan Digitalisasi Data, PPP Mulai Panaskan Mesin Hadapi Pemilu 2029
-
Hadirkan CFX Cryptalk dan CFX Seaside Mixer, Ekosistem CFXM Dorong Sinergi Industri Aset Digital
-
Seorang Relawan Gempa Flores Dikabarkan Gugur saat Bantu Korban Bencana
-
Saat Membeli Rumah, Mengapa Jejak Karbon Sering Tak Jadi Pertimbangan?
-
Gelar Serpong Warrior Challenge Run 2026, BRI Buka Promo Diskon Tiket 50 Persen di BRImo
-
Soal Karhutla, PKB Sentil Menhut: Jangan Cuma 'Cosplay Damkar'