-
Donald Trump mengajukan rancangan kesepakatan teknologi nuklir sipil dengan Arab Saudi ke Kongres AS.
-
Syarat utama kesepakatan mencakup keikutsertaan Arab Saudi dalam normalisasi hubungan melalui Abraham Accords.
-
Pakar nonproliferasi mengkritik kesepakatan karena berpotensi memicu risiko penyebaran senjata nuklir di kawasan.
Suara.com - Presiden Donald Trump menyerahkan dokumen kerja sama teknologi nuklir sipil bersama Arab Saudi kepada Kongres Amerika Serikat pada Senin lalu. Dokumen yang dipimpin Kementerian Energi AS ini secara formal membuka pintu investasi teknologi atom Amerika ke wilayah kerajaan tersebut.
Langkah politis ini menandai dimulainya proses evaluasi wajib oleh badan legislatif AS sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Keputusan ini berpotensi merombak peta kekuatan energi sekaligus keamanan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa pengajuan kesepakatan ini telah sejalan dengan Undang-Undang Energi Atom yang berlaku di Amerika Serikat. Namun, pihak Gedung Putih menegaskan bahwa kerja sama strategis ini baru bisa berjalan sepenuhnya jika Riyadh bersedia menandatangani Abraham Accords.
Media The Wall Street Journal melaporkan perihal penyerahan berkas tersebut pada Selasa berikutnya. Kesepakatan berdurasi 30 tahun yang tercapai sejak Juli ini membuka jalan bagi korporasi Amerika untuk menggarap proyek reaktor nuklir senilai puluhan miliar dolar.
Proyek pembangunan reaktor AP1000 tersebut diproyeksikan bakal memberi keuntungan finansial besar bagi perusahaan Westinghouse. Perusahaan teknologi nuklir itu saat ini dimiliki bersama oleh Cameco asal Kanada dan Brookfield Asset Management.
Bagaimana Prosedur Peninjauan Kesepakatan Nuklir Ini di Kongres AS?
Sesuai aturan Undang-Undang Energi Atom, Kongres AS memiliki waktu selama 90 hari masa sidang beruntun untuk meninjau seluruh item perjanjian. Kerja sama transfer teknologi nuklir sipil ini akan otomatis berlaku efektif apabila tidak ada pembatalan atau veto dari para legislator.
Trump mengklaim aturan dalam dokumen tersebut dirancang sangat ketat untuk mencegah pengayaan uranium secara mandiri oleh pihak kerajaan.
“Tidak akan ada pengayaan bahan!” kata presiden dalam unggahan media sosial bulan lalu, seraya menambahkan bahwa perjanjian tersebut sepenuhnya tunduk pada bergabungnya Arab Saudi ke dalam Abraham Accords yang sangat dihormati dan sukses.
Baca Juga: Perang di Gaza, Warga Palestina Gunakan Toilet Darurat Zaman Purba
Namun, penolakan keras mulai berdatangan dari kalangan politisi Partai Demokrat serta para pengamat anti-proliferasi senjata nuklir. Mereka menilai klausul perjanjian tersebut sangat lemah karena tidak menyertakan larangan permanen terkait pengayaan maupun pemrosesan ulang bahan bakar.
Sebagai gantinya, kesepakatan tersebut justru mengusulkan pembangunan fasilitas pengayaan yang dioperasikan AS di Arab Saudi setelah studi kelayakan dua tahun. Celah regulasi ini dinilai memicu kekhawatiran karena dapat melonggarkan standar pengawasan konversi teknologi sipil menjadi militer.
“Washington benar untuk memperkuat hubungannya dengan Riyadh, tetapi mereka tidak boleh melakukannya dengan mengorbankan standar nonproliferasi senjata nuklir yang efektif,” ujar Matthew Kroenig, senior fellow di think tank Atlantic Council yang berbasis di Washington pada Juli lalu.
Kroenig memprediksi bahwa studi kelayakan selama dua tahun tersebut seharusnya menyimpulkan agar Arab Saudi bergantung penuh pada impor bahan bakar nuklir. Menurutnya, “Ini akan menjadi hasil yang jauh lebih baik daripada mengindikasikan kapabilitas pembuatan bom ke negara tambahan di kawasan yang sudah gejolak.”
Apa Bahaya Kesepakatan Ini Bagi Stabilitas Keamanan Global?
Para pakar menilai kesepakatan berani ini hadir di tengah rapuhnya tatanan ketertiban nuklir global yang selama ini dipimpin oleh Amerika Serikat. Prosedur baru yang diterapkan Trump dinilai menabrak tradisi ketat AS dalam melakukan ekspor teknologi energi sensitif ke luar negeri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Polisi Bubarkan Massa Aliansi Pati yang Galang Donasi di Depan DPR
-
Kemenag Bantah Nasaruddin Umar Mundur dari Menag: Isu Bursa Caketum PBNU Itu Spekulasi Liar
-
Menag Nasaruddin Umar Bantah Mundur: Itu Ada Orang yang Panik
-
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
-
Dari Pengumpul Data Hingga Perantara, Bagaimana DSI Bekerja
Terkini
-
5 Sunscreen Tanpa Niacinamide untuk Kulit Kering dan Sensitif
-
3 Zodiak Paling Dibenci, Benarkah Punya Sifat Menyebalkan?
-
Ada Demo Besar di Jakarta, Disdik Kota Tangerang Wajibkan Orang Tua Jemput Siswa 27-28 Agustus
-
Daftar Demo dan Lokasi Aksi Massa Hari Ini 27 Agustus 2026
-
Viva Milk Cleanser Cucumber untuk Kulit Apa? Ini Cara Pakai dan Review Pengguna
-
Dugaan Penyebab Bencana Banjir di Tibet, Ratusan Orang Meninggal Dunia
-
Detik-detik Banjir Bandang Terjang Nepal, 157 Nyawa Melayang dan Ratusan Orang Hilang
-
Rekening Warga Pati yang Sempat Diblokir telah Pulih, Transaksi Kembali Normal
-
Masa Sulit Berakhir, 4 Shio Ini Siap Sambut Peruntungan Baru pada 27 Agustus 2026
-
Nilai Strategis Selat Hormuz Semakin Terkikis, Iran di Ujung Tanduk