News / Metropolitan
Kamis, 03 September 2026 | 09:35 WIB
Illustrasi kabut polusi udara Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Kualitas udara Jakarta pada Kamis, 3 September 2026, mencapai angka 160 dengan kategori tidak sehat.
  • Dinkes DKI Jakarta mengimbau kelompok rentan memakai masker dan membatasi aktivitas luar ruangan.
  • Dampak polusi udara tersebut berpotensi memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut di masyarakat.

Suara.com - Kualitas udara di wilayah Jakarta, Kamis (3/9/2026) terpantau masuk dalam kategori tidak sehat dengan angka indeks kualitas udara (AQI) mencapai 160.

Polutan utama PM2.5 yang menyelimuti langit Jakarta kini berada pada level yang sangat riskan bagi kesehatan masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati meminta warga untuk kembali mengenakan masker saat beraktivitas.

Imbauan ini ditujukan terutama bagi kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak paparan udara buruk.

“Yang paling penting terutama untuk kelompok rentan, bayi, balita, lansia, harus lebih berhati-hati,“ ujar Ani dalam keterangan resminya.

Dinkes menyarankan masyarakat agar membatasi mobilitas di luar ruangan jika tidak ada keperluan mendesak.

“Kalau memang ketika kondisi udara nggak bagus, kalau bisa tidak keluar, sebaiknya tidak keluar,“ tutur Ani.

Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di area terbuka, penggunaan alat pelindung diri menjadi hal yang wajib dilakukan.

“Kalau pun harus beraktivitas, kalau kondisinya sedang tidak baik, boleh pakai pelindung seperti masker,“ tambah Ani.

Baca Juga: Musim Kemarau dan Polusi Udara Tingkatkan Risiko ISPA, Ini Saran Dokter

Paparan polusi yang pekat ini dikhawatirkan memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di tengah masyarakat.

“Memang salah satu kemungkinan penyakit yang muncul beriringan dengan kondisi udara adalah ISPA,“ jelas Ani.

Masyarakat diminta segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila mulai merasakan gangguan pada saluran pernapasan.

“Langsung datang aja ke faskes, supaya bisa dapat pertolongan dengan cepat,“ kata Ani.

Selain proteksi fisik, menjaga imunitas dan menerapkan pola hidup bersih sehat (PHBS) menjadi kunci utama menghadapi polusi.

“Daya tahan tubuh, PHBS (perilaku hidup bersih sehat), itu tetap,“ tegas Ani.

Dinkes juga memberikan peringatan khusus bagi warga yang memiliki riwayat penyakit medis tertentu, terutama yang berhubungan dengan pernapasan.

Kondisi udara yang kusam dan berdebu ini dapat memperparah kondisi pasien yang sudah mengidap gangguan paru kronis.

“Itu akan diperburuk pada orang yang memang sudah punya penyakit penyerta, seperti misalnya punya asma atau sakit paru-paru,“ tutup Ani.

Load More