Lifestyle / Female
Senin, 17 Agustus 2026 | 11:49 WIB
ilustrasi ISPA pada anak (freepik.com)
Baca 10 detik
  • Dokter Feni Fitriani menyatakan musim kemarau meningkatkan debu dan polusi yang memicu infeksi saluran pernapasan.
  • Kementerian Kesehatan mencatat kunjungan pasien infeksi saluran pernapasan mencapai 676.404 kasus pada Januari hingga Juli 2026.
  • Masyarakat diimbau menjaga kesehatan, menghindari pembakaran sampah, serta memakai pelindung saat beraktivitas di luar rumah.

Suara.com - Musim kemarau tidak hanya membawa cuaca panas, tetapi juga dapat memperburuk kualitas udara akibat meningkatnya debu dan polusi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan.

Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked menjelaskan, debu dan polutan yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan. Iritasi tersebut kemudian dapat memicu peradangan dan menurunkan daya tahan saluran napas.

"Iritasi tersebut dari debu, akan menurunkan daya tahan saluran nafas, menyebabkan inflamasi, sehingga mudah terkena ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas," kata Feni seperti dikutip SUARA.COM dari ANTARA, Senin (17/8/2026).

Dosen Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengatakan, masyarakat dengan daya tahan tubuh rendah memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan kesehatan ketika terpapar polusi udara, terutama saat musim kemarau.

Untuk menjaga daya tahan tubuh, Feni menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat, mulai dari mencukupi kebutuhan istirahat hingga menjaga asupan nutrisi.

"Nah trik-triknya bagaimana kalau untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tentu butuh vitamin, istirahat yang cukup, pola hidup bersih sehat intinya," katanya.

Pola makan bergizi seimbang juga penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh. Asupan tersebut dapat diperoleh dari buah-buahan, sayuran, serta makanan yang mengandung berbagai vitamin.

Menurut Feni, konsumsi suplemen vitamin dan antioksidan dapat menjadi pertimbangan ketika kualitas udara memburuk, meski kebutuhan setiap orang dapat berbeda.

Hindari Menambah Polusi

Selain melindungi diri dari paparan polusi, masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas yang dapat memperburuk kualitas udara di lingkungan sekitar.

Baca Juga: Warga Jakarta Diminta Beralih ke Transportasi Umum untuk Tekan Polusi Udara

"Dari kita sendiri supaya tidak terjadi menambah polusi udara ya tidak ikut-ikutan membakar sampah, atau tidak merokok," kata dr. Feni, yang berpraktik di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur.

Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat juga disarankan memilah aktivitas di luar rumah berdasarkan tingkat kepentingannya. Kegiatan yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi untuk membatasi paparan polutan.

Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah saat cuaca panas dan kualitas udara buruk, Feni menyarankan penggunaan kacamata serta pelindung wajah untuk mengurangi risiko iritasi pada mata dan saluran pernapasan.

"Kalau memang harus keluar rumah, ya gunakan alat-alat proteksi yang tadi dan sesegera mungkin kembali ke rumah untuk menghindari pajanan debu," kata dr. Feni.

Khusus bagi penderita penyakit pernapasan kronis, seperti asma, ia mengingatkan agar obat-obatan rutin tetap dikonsumsi sesuai anjuran dokter ketika kualitas udara memburuk.

Kunjungan ISPA Capai 676.404

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman sebelumnya menyampaikan bahwa jumlah kunjungan pasien ISPA di rumah sakit mencapai 676.404 kunjungan sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Load More