- Guru Besar ITS I Ketut Aria menduga KM Virgo Transport 8 terbalik karena pergeseran muatan atau air laut.
- Tragedi pada Selasa (15/8/2026) di laut tersebut terjadi tanpa adanya peringatan cuaca buruk dari BMKG sebelumnya.
- KNKT harus menginvestigasi kelayakan kapal impor Jepang serta penyebab utama hilangnya stabilitas kapal secara pasti.
Suara.com - Guru Besar Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan ITS, I Ketut Aria Pria Utama, menduga KM Virgo Transport 8 terbalik akibat pergeseran muatan kendaraan atau air laut yang masuk ke dalam kapal.
Dugaan itu muncul usai informasi dari BMKG yang menyatakan bahwa tidak ada peringatan cuaca buruk saat tragedi berlangsung, sesuai dengan pernyataan KSOP Tanjung Perak beberapa waktu lalu.
Ikap sapaan akrabnya menilai penyebab kapal terbalik perlu ditelusuri dari kondisi muatan dan stabilitas kapal.
Menurut dia, kondisi gelombang sekitar dua meter lebih sedikit tidak otomatis menjelaskan kapal dapat kehilangan keseimbangan. Gelombang tetap dapat menggoyang kapal, tetapi faktor lain seperti distribusi muatan dan air yang masuk perlu diperiksa.
"Menurut ilmu kami, dugaan saya itu ya kalau tidak, ada air masuk, juga mungkin ada pergeseran muatan itu," kata Ikap saat dihubungi Suara.com, Selasa (15/8/2026).
Disampaikan Ikap, kendaraan yang diangkut kapal harus diamankan menggunakan sistem pengikat atau lashing. Apabila pengikatan tidak memadai atau terlepas saat kapal bergoyang, kendaraan dapat bergeser dan mengubah distribusi berat kapal.
"Jadi itu mengangkut kendaraan, mungkin tidak di-lashing atau kalau di-lashing, lashing-nya copot, tidak diikat dengan bagus gitu lho," ungkapnya.
Selain pergeseran muatan, ia menduga air laut dapat masuk melalui bukaan kapal yang tidak tertutup rapat. Salah satu bagian yang perlu diperiksa adalah pintu ramp, yakni akses untuk kendaraan keluar-masuk kapal.
"Jangan-jangan pintu rampanya tidak tertutup rapat, jangan-jangan tapi ya tetap saya ndak tahu pasti sampai penyelidikan KNKT," ujarnya.
Air yang masuk dalam jumlah besar dapat bergerak mengikuti guncangan kapal. Pergerakan air tersebut, menurut Ikap, dapat memperparah kemiringan dan mengganggu stabilitas kapal.
"Jadi air itu kan selalu bergerak gitu. Nah karena dia mengisi ruangan-ruangan itu, dia bergerak kan menggoyang dia jadinya. Ini dalam namanya istilah dari perkapalan sloshing namanya," tuturnya.
Ia menduga air yang masuk dan pergeseran muatan dapat saling memperparah kondisi kapal. Air yang terus masuk dan tidak dapat keluar berpotensi membuat kapal semakin miring, sementara kendaraan yang bergeser mengganggu keseimbangan.
Selain itu, Ikap turut menyoroti kemungkinan ruang mesin dan akses di bawah dek kendaraan tidak tertutup rapat ketika kapal berlayar. Jika air masuk melalui pintu ramp, air tersebut dapat mengalir ke bagian dalam kapal dan menambah beban sekaligus mengganggu stabilitas.
"Jangan-jangan itu terbuka, ada air masuk lewat pintu rampah lalu masuk ke dalam dalam jumlah banyak, itu menggoyang kapal," imbuhnya.
Selain dugaan pergeseran muatan, ia meminta pemeriksaan terhadap jumlah kendaraan yang diangkut kapal. Penataan kendaraan yang terlalu rapat atau melebihi kapasitas dapat menjadi persoalan keselamatan apabila tidak sesuai ketentuan.