- Ekonom UGM Yudistira Hendra Permana menyoroti tantangan Menkeu baru Suahasil menghadapi ruang fiskal sempit pada Rabu (16/9/2026).
- Pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen dinilai rapuh akibat hilirisasi terkonsentrasi pada sektor tertentu dan belum terdiversifikasi.
- Alokasi transfer ke daerah dalam APBN 2026 turun menjadi sekitar Rp690 triliun, terutama pada dana bagi hasil.
"Ini kan penurunan terbesar ini ada di DBH. Nah, ini bagaimana ini bisa memicu pertumbuhan pembangunan di daerah-daerah, provinsi-provinsi, kabupaten, kayak gitu," ucapnya.
Yudistira kemudian menyoroti kenaikan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebagai salah satu komponen yang mengompensasi penerimaan fiskal. Kenaikan PNBP tersebut dinilai perlu ditelaah lebih jauh untuk mengetahui apakah berasal dari penguatan penerimaan yang berkelanjutan atau faktor eksternal.
"Ya, tetapi ini kok belum saya tuh melihat berita narasi tentang ini hasil dari yang memang perusahaan-perusahaan itu kuat dari hasil apa istilahnya? Ada reformasi penerimaan begitu. Tetapi ya windfall saja, windfall komoditas, commodity windfall," ujarnya.
"Ini yang kemudian mengkhawatirkannya adalah ya pada akhirnya tahun ini mungkin masih bisa selamat gitu ya dengan windfall tersebut," imbuhnya.
Tantangan berikutnya ialah penyusunan RAPBN 2027. Yudistira menilai pergantian Menkeu pada September membuat ruang manuver kebijakan fiskal semakin terbatas karena proses penyusunan anggaran tahun depan sudah berjalan.