- Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 151 ribu kasus ISPA akibat kebakaran hutan dan lahan di tujuh provinsi hingga pertengahan September 2026.
- Pemerintah menyiagakan 1.898 tenaga kesehatan serta mendistribusikan jutaan masker, tabung oksigen, dan obat-obatan ke wilayah terdampak.
- Fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit disiagakan untuk memprioritaskan perlindungan kesehatan bagi kelompok rentan masyarakat.
Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menyebabkan lebih dari 151 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tercatat hingga pertengahan September 2026.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kasus tersebut tersebar di tujuh provinsi dengan total 63 kabupaten/kota yang terdampak karhutla.
Besarnya kasus gangguan pernapasan itu membuat Kemenkes menyiagakan 1.898 tenaga kesehatan ke tujuh provinsi terdampak. Tenaga kesehatan tersebut dikerahkan untuk memperkuat layanan kesehatan sekaligus mendekatkan akses pengobatan kepada masyarakat yang terpapar dampak karhutla.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati mengatakan pengerahan tenaga kesehatan dilakukan karena fasilitas kesehatan di daerah juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya risiko gangguan kesehatan selama karhutla.
“Langkah ini kami ambil untuk mendekatkan pertolongan medis langsung kepada masyarakat terdampak, sekaligus menopang serta memperkuat tenaga kesehatan di daerah yang telah bekerja keras sejak awal,” ujar Widyawati di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Kemenkes memperkirakan pengerahan tersebut dapat memperkuat perlindungan kesehatan bagi lebih dari 13 juta masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
Penanganan dampak karhutla juga membuat kebutuhan fasilitas kesehatan tidak berhenti pada penyediaan masker.
Hingga 16 September 2026, Kemenkes telah mendistribusikan 1.927.554 masker ke wilayah terdampak. Selain itu, pemerintah mengirimkan 280 unit oxygen concentrator atau mesin pemekat oksigen dan 36 tabung oksigen.
Peralatan tersebut diprioritaskan untuk fasilitas pelayanan kesehatan di daerah dengan dampak karhutla yang dinilai paling berat, di antaranya Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Riau.
Kemenkes juga mendistribusikan 328 dus makanan tambahan, disertai obat-obatan dan vitamin untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak.
Pengiriman mesin oksigen menjadi salah satu bentuk antisipasi terhadap kebutuhan layanan kesehatan, terutama ketika gangguan pernapasan meningkat akibat paparan asap karhutla.
Selain mengirim tenaga kesehatan dan logistik, Kemenkes menyiagakan jaringan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak.
Sebanyak 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) disiapkan untuk mendukung penanganan medis serta pengujian kualitas udara.
Dengan demikian, respons kesehatan akibat karhutla tidak hanya diarahkan pada pengobatan warga yang sudah mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan jika jumlah pasien meningkat.
Kemenkes menyatakan distribusi logistik medis akan terus dioptimalkan selama situasi karhutla berlangsung.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan tetap menggunakan masker, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Kelompok rentan menjadi perhatian khusus karena memiliki risiko lebih besar mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap.
“Kelompok rentan, seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit bawaan, seperti asma dan jantung menjadi prioritas utama dalam penanganan dan perlindungan kesehatan selama masa tanggap karhutla ini,” kata Widyawati.