- Komisi XIII DPR RI mencecar Kalapas Cibinong nonaktif Wisnu Hani Putranto dalam RDP di Senayan, Jakarta, Senin.
- Yanuar Arif Wibowo mempertanyakan hilangnya fasilitas mewah dan bingkai foto koruptor Jimmy Masrin setelah sidak Ombudsman.
- Wisnu mengakui memerintahkan pemindahan barang tersebut karena bukan milik negara dan menyebut Kasi Kamtib sebagai penanggung jawab.
Ia juga menyoroti perbedaan kondisi fasilitas saat sidak Ombudsman dan peninjauan Menteri Imipas.
"Kenapa baru kemarin? Setelah Ombudsman datang ke sana?," tanya Yanuar.
"Siap. Mohon izin, Bapak, karena memang kami tidak pernah silaturahmi atau masuk ke rumah anggota kami, Bapak," jawab Wisnu lagi.
"Bapak jangan bohonglah. Enggak, ini disaksikan oleh semua publik, Pak," kata Yanuar.
Atas jawaban tersebut, Wisnu lebih banyak merespons dengan kata siap.
"Ya, melihat peristiwa kemarin Pak Menteri datang ke sana dengan situasi yang berbeda, Anda bukan cuman bohongin Pak Menteri, Anda bohongin seluruh rakyat Indonesia, Pak," kata Yanuar.
"Siap," jawab Wisnu.
"Ini enggak bisa dibenarkan," Yanuar terus mencecar.
"Siap," jawab Wisnu lagi.
"Ya, jadi Bapak mendingan jujur, terbuka di sini. Itu mungkin bisa meringankan. Jadi jangan main-main dengan kecerdasan publik, Pak," kata Yanuar.
"Siap," ucap Wisnu.
Selain itu, Yanuar juga mengkritik alasan pemindahan AC yang diklaim mengalami kerusakan.
"Jangan bilang AC rusak, kemudian dicopot. Di mana pernah ada AC rusak dicopot, Pak? Ya kan diperbaiki, diservis. Jangan bikin kebohongan lagi, Pak. Ya, Anda 3 tahun loh di sana loh. Itu untuk ukuran Pak UPT itu terlalu lama," katanya.
"Siap," jawab Wisnu singkat.
"Dan ini nanti Pak Dirjen ini tanggung jawab. Terhadap fungsi pengawasan, Pak Irjen nanti juga harus masuk ke situ," kata Yanuar.
"Siap," ucap Wisnu.
Sorotan rapat turut mengemuka saat membahas temuan bingkai foto narapidana kasus korupsi, Jimmy Masrin, di lokasi tersebut.
"Ya. Kemudian saya ingin tanya, Pak. Ini di sini di catatan dari progres ya, yang disampaikan tadi oleh Pak Dirjen, itu ada figura ya, bingkai foto atas nama Jimmy Masrin. Iya, kan? Ini ada di rumah siapa, Pak Kalapas?" kata Yanuar.
"Siap, di rumah Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban, Bapak," jawab Wisnu.
Ketika diminta menghadirkan Kasi Kamtib untuk dimintai penjelasan, Wisnu menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak hadir karena sakit demam.
"Pak Kalapas, jangankan Kasi, Menteri kalau diundang di Komisi III wajib hadir, Pak, kecuali Menteri dipanggil Presiden, baru bisa izin. Ini urusan penting. Ya. Jadi jangan main-main, Pak, dengan publik. Jangan main-main dengan pengawasan. Di sini ditulis ada yang mengaku punya sofa, punya ini, punya ini. Ya. Bagaimana cerita figuranya Jimmy Masrin itu bisa ada dalam ruang rumah dinas? Pertanyaan saya, Pak Kalapas, Anda 3 tahun di sana, sudah berapa lama Anda tahu Pak Jimmy Masrin ada di situ?" ujar Yanuar.
Wisnu berdalih bahwa foto tersebut didapat dari hasil razia petugas pada 22 September di blok hunian.
"Mohon izin menjelaskan, Bapak, bahwa figura tersebut setelah kami tanya ke Kasi Kamtib, Bapak, bahwa pada hari Selasa tanggal 22, tim Kamtib melakukan razia ke blok hunian, Bapak. Lalu menemukan beberapa barang terlarang, Bapak," Kata Wisnu.
"Pak, saya ingatkan ya. Jangan tutupi kebohongan dengan kebohongan, nih rakyat lihat," balas Yanuar.
"Siap, Bapak," jawab Wisnu.
Di akhir cecaran, Yanuar mempertanyakan ketiadaan kamera pengawas (CCTV) di area klaster mewah tersebut selama masa kepemimpinan Wisnu.
"Maka saya tanya, sejak kapan figura itu ada? Sejak kapan kulkas itu ada? Sejak kapan sofa-sofa itu ada di situ?," ujar Yanuar.
"Siap, Bapak," kata Wisnu.
"Ini barang gede, Pak. Pertanyaan sedikit saya, Pak. Di area situ ada CCTV enggak, Pak?," lanjut Yanuar.
"Tidak ada, Bapak," jawab Wisnu.
Wisnu menjelaskan, bahwa CCTV hanya terpasang di area blok dalam, meski ia mengakui keberadaan CCTV di area klaster tersebut sejatinya penting.
"Menurut Anda penting enggak ada CCTV di situ untuk pengamanan?" kata Yanuar.
"Penting, Bapak," ucap Wisnu.
"Kenapa enggak dipasang?," tanya Yanuar lagi.
"Siap, Bapak," jawab Wisnu.
"Hah? Apa hanya untuk menutup-nutupi memberikan fasilitas kepada warga binaan?" ucap Yanuar.
"Tidak, Bapak," jawab Wisnu.
Yanuar pun menilai ketiadaan pengajuan anggaran CCTV selama tiga tahun masa jabatan Kalapas sebagai hal yang tidak masuk akal.
"Kan aneh, Anda 3 tahun di sana, ada 3 periodik anggaran, Anda tidak mengajukan untuk pemasangan CCTV. Kan konyol namanya ini," tegas Yanuar.
"Padahal kalau itu ada, selesai kok. Kita tahu siapa yang keluar masuk di situ, siapa yang angkat-angkat barang di sana. Iya, kan? Ini kita harus jelaskan ke publik, Pak, sejelas-jelasnya, seterang-terangnya," tambahnya.
"Siap, Bapak," jawab Wisnu lagi.