-
Putri pendiri NU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid meninggal dunia di Jakarta pada usia 82 tahun.
-
Almarhumah dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
-
Almarhumah merupakan Mustasyar PBNU yang memelopori gerakan dakwah majelis taklim perempuan Indonesia.
Suara.com - Nahdlatul Ulama berduka atas wafatnya Mustasyar PBNU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid pada Minggu malam di Jakarta. Putri sulung pahlawan nasional sekaligus pendiri NU KH Abdul Wahab Chasbullah ini menghembuskan napas terakhir pada usia 82 tahun.
Kepergian almarhumah mengakhiri dedikasi panjang ulama perempuan yang konsisten menjembatani dakwah pesantren dan panggung politik nasional. Jenazah dijadwalkan bertolak dari Ibu Kota untuk dimakamkan di tanah kelahirannya, Jombang.
Kabar duka tersebut disampaikan secara langsung oleh perwakilan keluarga almarhumah kepada publik. Seluruh warga nahdliyin turut menyampaikan belasungkawa mendalam atas berpulangnya sang ulama.
"Innalillahi wainna ilaihi roojiun. Allahumaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha. Telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang Ibu Nyai Hj. Mahfudhoh Aly Ubaid binti KH. Abdul Wahab Chasbullah pada malam ini, Ahad, 4 Oktober 2026 di Jakarta," demikian pesan ini dikonfirmasi langsung oleh keluarganya, Wafa, dikutip dari NU Online.
Pihak kerabat mendoakan agar seluruh amalan masa hidup almarhumah diterima dengan sempurna. Keikhlasan serta ketabahan diharapkan menyertai seluruh keluarga besar yang ditinggalkan.
"Insyaallah almarhumah almaghfurlaha berpulang dalam keadaan husnul khotimah, diampuni segala khilaf dan dosa, diterima segala amal kebaikan, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah Ta’ala. Semoga keluarga besar yg ditinggalkan juga tabah, sabar, dan sabar," tulisnya.
Kompleks Pemakaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas menjadi tempat peristirahatan terakhir almarhumah. Prosesi pemakaman berlangsung pada Senin di Jombang, Jawa Timur.
Lahir pada 12 Maret 1944, almarhumah tumbuh dalam lingkungan keluarga pejuang dan ulama besar tanah air. Pasangan KH Wahab Chasbullah dan Nyai Sa'diyah mendidiknya menjadi sosok pembawa perubahan sejak usia muda.
Pernikahan dengan KH Aly Ubaid pada 1962 semakin memperkuat komitmen dakwahnya di tengah masyarakat. Kehidupan rumah tangga tersebut kemudian membawanya menetap di wilayah Tebet, Jakarta Selatan.
Meskipun memegang jabatan politik di Jakarta, keterikatan almarhumah dengan dunia pesantren tidak pernah terputus. Sejak 1994, ia membagi waktu secara rutin untuk mengasuh santri di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Perhatian almarhumah terhadap pembinaan kurikulum pengajian dan kepengurusan pesantren sangat tinggi. Kedatangannya saban bulan selalu dimanfaatkan untuk membakar semangat para santriwati.
Jejak kepemimpinan almarhumah membentang dari organisasi kepemudaan hingga pucuk kepengurusan badan otonom NU. Ia pernah memimpin Pimpinan Pusat Fatayat NU selama dua dekade kepengurusan.
Inovasi dakwahnya terwujud lewat pendirian Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim Muslimat NU Pusat. Lembaga ini sukses menyatukan gerakan dakwah berbasis majelis taklim perempuan di berbagai daerah.
Pengakuan atas kapasitas keilmuannya mengantarkan almarhumah menduduki jajaran jajaran Mustasyar PBNU. Position strategis ini membuktikan kesetaraan otoritas ulama perempuan dalam struktur tertinggi organisasi.
Sebelum menjabat Mustasyar, almarhumah lebih dulu mengabdi sebagai A'wan atau Dewan Pakar PBNU. Dedikasi tersebut menjadi warisan berharga bagi generasi penerus ulama perempuan di Indonesia.