- Kapal supertanker minyak meledak di Selat Hormuz akibat menabrak ranjau laut Iran.
- IRGC menegaskan kapal yang mematikan sistem navigasi otomatis dianggap sebagai kapal musuh.
- Konflik navigasi terus memanas meski AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman.
Suara.com - Sebuah kapal supertanker berkapasitas 2 juta barel minyak memicu ledakan hebat di bagian ruang mesin usai menabrak ranjau saat nekat menerobos Selat Hormuz. Kelompok militer Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa insiden krusial tersebut terjadi pada Minggu (11/10).
Pelayaran ilegal tanpa mengaktifkan sistem pelacak navigasi menjadi penyebab utama armada raksasa itu menghantam ranjau di kawasan rawan konflik tersebut. Kejadian ini menandai kasus ketiga kapal armada komersial yang hancur akibat ranjau di sepanjang jalur terlarang sejak Sabtu lalu.
Otoritas IRGC memilih untuk menyembunyikan identitas resmi, bendera negara, maupun kewarganegaraan dari pemilik kapal tanker tersebut.
"Kapal-kapal yang mematikan sistem navigasinya saat melintasi selat tersebut akan dikategorikan sebagai kapal musuh," tegas Angkatan Laut IRGC dalam pernyataan resminya.
Langkah tegas Tehran ini muncul tepat setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim telah membersihkan ranjau Iran dan membuka kembali jalur navigasi internasional pada akhir Agustus. Namun, pemerintah Iran memblokir kembali kawasan strategis tersebut sejak 12 Juli sebagai respons atas rentetan agresi militer pihak lawan pada 8 Juli.
Ancaman serius terus dilayangkan Iran terhadap seluruh kapal asing yang berani berlayar di luar koridor resmi tanpa mengantongi izin tertulis.
"AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari," yang kemudian dibalas Tehran lewat hujan rudal serta serangan drone beruntun.
Aksi saling balas serangan tersebut secara efektif melumpuhkan total aktivitas lalu lintas perairan vital yang menjadi urat nadi minyak dunia. Sebagai tindakan balasan atas penutupan jalur perairan, militer Amerika Serikat menerapkan blokade laut secara ketat di seluruh pelabuhan utama milik Iran.
Guna meredakan tensi konflik, diplomasi sempat terbangun ketika AS dan Iran menyepakati nota kesepahaman terkait kebebasan navigasi pada Juni lalu. Sayangnya, realisasi kesepakatan damai di lapangan terus menemui jalan buntu akibat perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan di Selat Hormuz.