Kabut Asap Karhutla Ancam Asia Tenggara, WMO Dorong ASEAN Berbagi Sumber Daya

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:17 WIB
ilustrasi kabut asap di lanskap hijau. (dok.Pexels/ Carl-Emil Jørgensen)

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali memicu kabut asap lintas negara yang mengancam kualitas udara di Asia Tenggara.

Menghadapi kondisi tersebut, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menggalakkan negara-negara ASEAN untuk memperkuat kerja sama regional, mulai dari berbagi sumber daya pemadaman hingga memperbaiki praktik pengelolaan lahan.

Direktur Kantor Regional WMO untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill, menyampaikan usulan tersebut dalam wawancara dengan The Straits Times pada Jumat (16/10).

Ia menilai penanganan karhutla perlu digencarkan secara kolektif agar negara-negara di kawasan itu dapat mencegah kebakaran semakin meluas dan menekan dampak kabut asap.

Menurut Churchill, periode kabut asap yang tengah berlangsung berisiko bertahan selama berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan.

Hal ini mengakibatkan perubahan arah angin dan datangnya hujan membantu meredakan kebakaran.

ASEAN Perlu Berbagi Sumber Daya Pemadaman

Salah satu solusi yang ditawarkan Churchill adalah mengkombinasikan sumber daya pemadaman kebakaran antarnegara ASEAN.

Kerja sama ini meliputi investasi peralatan yang bisa digunakan bersama, pertukaran keahlian teknis, hingga pengerahan petugas pemadam dari negara tetangga secara cepat begitu dibutuhkan.

Sebagai contoh, Churchill membeberkan mekanisme bantuan timbal balik yang diaplikasikan Australia bersama Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Kanada untuk menangani kebakaran hutan.

Melalui mekanisme tersebut, personel dan peralatan dapat segera dikerahkan dan diintegrasikan dalam operasi pemadaman.

Pendekatan serupa ini diyakini dapat membantu negara-negara ASEAN mengatasi keterbatasan sumber daya ketika menghadapi kebakaran besar.

Ia juga menekankan bahwa kerja sama regional perlu diarahkan untuk mencegah kebakaran berulang, bukan sekadar memadamkan api yang sudah menyebar luas.

Churchill memandang negara-negara tersebut perlu merancang gerakan bersama agar kebakaran ini tidak kembali menimbulkan kabut asap lintas negara dengan dampak separah sekarang.

Peringatan Dini Membantu Masyarakat untuk Bersiap

Alih-alih hanya fokus pada penguatan pemadaman, Churchill juga menyoroti pentingnya koordinasi peringatan dini dan prakiraan cuaca.

Informasi terkait potensi cuaca ekstrem sebaiknya perlu disampaikan kepada berbagai lapisan masyarakat agar mereka dapat mengambil langkah perlindungan lebih awal.

"Kerja sama regional dalam peringatan dini dan prakiraan cuaca akan membantu masyarakat melindungi diri mereka dengan lebih baik," ujar Churchill, dikutip dalam laman The Straits Times, Senin (19/10).

Ia memandang informasi mengenai fenomena cuaca seperti El Nino tidak boleh berhenti di tingkat pembuat kebijakan. Informasi tersebut juga harus menjangkau ke sektor pertanian hingga masyarakat yang bertumpu pada kondisi lahan.

"Setiap orang dapat mengambil tindakan pada tingkat tertentu, baik di tingkat politik, komunitas, petani secara individu, maupun individu itu sendiri," imbuhnya.

Hal ini sekaligus menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai lapisan masyarakat.

Informasi cuaca yang tersedia sejak dini dapat menjadi pondasi untuk menyiapkan ancang-ancang pencegahan sebelum kondisi semakin parah.

Pembenahan Tata Kelola Jadi Kunci

Upaya pencegahan sebaiknya juga harus menyasar pada praktik pembukaan lahan menggunakan api.

Churchill menerangkan bahwa kondisi panas dan kering akibat El Nino ini bertepatan dengan musim kemarau sehingga menciptakan situasi yang memantik kebakaran bertahan lama dan menyebar.

Karena itulah penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar.

Perubahan praktik pengelolaan lahan, penguatan regulasi, serta edukasi kepada petani dan perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran itu juga sangat diperlukan.

"Jika kita menangani masalah ini sejak awal, mengubah praktik yang dilakukan dan melakukan yang terbaik secara kolektif untuk memperbaiki pengelolaan lahan, memperketa regulasi, serta mengedukasi petani dan perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran dapat membantu kita dalam menjaga keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat ASEAN," tekan Churchill.

Melalui perpaduan antara kesiapsiagaan cuaca, kerja sama pemadaman lintas negara, dan pembenahan tata kelola lahan sangatlah dibutuhkan untuk memadamkan karhutla ini.

Sebab, langkah-langkah itu tidak hanya berfokus pada pemadaman, melainkan juga menekan kemungkinan bencana serupa terulang kembali.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com