Menteri Leng: Tenang, Harga Listrik Singapura Tak Naik Buntut Indonesia Sunat Pasokan Gas

Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:16 WIB
Presiden Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong (kiri) saat kunjungan resmi untuk menghadiri Leaders Retreat di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/hma/rwa]
BACA 10 DETIK
  • Pemangkasan ekspor gas Indonesia kurang dari 2 persen tidak memengaruhi tarif listrik Singapura.

  • Singapura memiliki cadangan LNG darurat serta pasokan diesel untuk menjaga keandalan energi nasional.

  • Pemerintah Singapura meminta para mitra dagang tetap menghormati kontrak komersial gas yang berlaku.

Suara.com - Singapura memastikan pemangkasan pasokan gas alami dari Indonesia tidak merusak stabilitas harga listrik dalam negeri dalam jangka pendek. Volume gas yang dikurangi Indonesia tidak mencapai 2 persen dari total konsumsi harian Negeri Singa.

Pemerintah Singapura menegaskan bahwa fluktuasi biaya energi nasional lebih terikat pada dinamika pasar internasional dibanding gangguan pipa regional. Diversifikasi sumber energi dan cadangan LNG darurat menjadi benteng utama kelancaran pasokan listrik domestik.

Insiden ini dipicu oleh kebijakan Indonesia yang mengalihkan sebagian pasokan gas demi memenuhi lonjakan kebutuhan listrik dalam negerinya. Meskipun demikian, otoritas Singapura mengimbau masyarakat tetap tenang karena skenario darurat energi sudah diantisipasi sejak jauh hari.

"Dalam jangka pendek, harga tidak akan terlalu terpengaruh. Bahkan, jika ada pengaruh, kita seharusnya melihat harga dunia karena banyak gas kita, harga satuannya sebenarnya dipatok pada pergerakan beberapa indeks global utama," ujar Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura Tan See Leng, dikutip dari CNA.

"Kami selalu melihat energi sebagai bagian yang sangat kritis dari seluruh ekonomi, keberlanjutan, dan juga kelangsungan hidup negara kami. Energi bersifat eksistensial bagi kita semua, jadi kami telah menerapkan langkah-langkah kontinjensi, langkah-langkah asuransi, untuk memastikan pasokan energi kita terdiversifikasi," lanjut Dr Tan.

Diversifikasi gas impor serta fasilitas cadangan LNG yang siap pakai menjadi tumpuan utama Singapura saat menghadapi disrupsi pasokan dari luar. Setiap perusahaan pembangkit listrik domestik bahkan diwajibkan mengantongi cadangan bahan bakar diesel cadangan untuk mengantisipasi potensi krisis yang lebih besar.

"Saya ingin mengimbau seluruh sesama warga Singapura: tetap tenang dan lanjutkan aktivitas. Kita telah menangani pengurangan seperti ini dengan lancar di masa lalu tanpa insiden apa pun, dan pemerintah akan terus memastikan keandalan serta ketahanan pasokan energi Singapura," kata Dr Tan.

Di luar gas bumi, Singapura memperluas opsi energi masa depan melalui pengembangan biomassa, panas bumi, surya, hingga kajian mendalam tentang tenaga nuklir. Pemerintah Singapura juga menuntut seluruh mitra dagang untuk patuh pada kesepakatan komersial yang sudah ditandatangani.

Perdana Menteri Lawrence Wong menegaskan bahwa importir gas Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan mereka. Langkah hukum atau remediasi teknis akan diserahkan sepenuhnya kepada Gas Supply Private Limited (GSPL) sebagai badan usaha pengimpor.

"Dari sudut pandang pemerintah, dalam hal membangun reputasi, kepercayaan, saya pikir penghormatan terhadap kontrak ini ... adalah dasarnya," tegas Dr Tan.

Pengurangan pasokan sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari atau setara 17 miliar BTU per hari ini dijadwalkan berlangsung selama 18 hari. Langkah pengalihan ini diambil Indonesia murni untuk menutupi defisit daya listrik di wilayah domestiknya sendiri.

Singapura selama ini mengandalkan impor gas pipa dari Indonesia dan Malaysia, serta pengapalan LNG dari berbagai produsen global. Data 2025 mencatat pasokan gas pipa menyumbang 43 persen dari total impor Singapura, sedangkan 57 persen sisanya dipasok melalui LNG.

Penurunan pengiriman gas oleh Indonesia bukan pertama kali terjadi, sebab perbaikan jaringan pipa sebelumnya juga pernah memicu pembatasan serupa. Otoritas Singapura menilai dinamika ini sebagai keputusan internal Indonesia dan memilih untuk tidak berspekulasi lebih jauh.

Hubungan diplomatik tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan PM Lawrence Wong dipastikan tetap solid di tengah kendala teknis pengiriman energi ini. Singapura memaklumi adanya kendala pasokan dalam negeri yang dialami tetangganya dan akan terus memantau perkembangan situasi secara berkala.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com