4 Sekolah Rakyat Raih Penghargaan Mandaya Awards 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 | 09:06 WIB
Apresiasi Penyelenggara Sekolah Rakyat Terbaik dalam ajang Mandaya Awards 2026.(Dok. Kemensos)

Mandaya Awards 2026 merupakan penyelenggaraan kedua dan diikuti lebih dari 2.146 peserta. Kegiatan tersebut juga melibatkan 1.245 mahasiswa yang tergabung dalam 415 tim.

Penghargaan tahun ini diberikan dalam beberapa kategori. Di antaranya pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, pesantren, perguruan tinggi, penggerak pemberdayaan, badan usaha, dan sekolah rakyat.

Sebagai informasi, penghargaan pada kategori Sekolah Rakyat diterima oleh perwakilan dari masing-masing sekolah. Rinciannya, Kepala SRT 1 Kabupaten Takalar, M Jufrianto; Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kurikulum SRT 1 Kabupaten Bogor, Haris; Wakasek Kesiswaan SRMA 14 Bandung Barat, Dimas Mulyana; dan Wali Asrama SRT 1 Kabupaten Kediri, Moh Nursalim.

Kepala SRT 1 Kabupaten Takalar, M Jufrianto mengungkapkan, pihaknya menyediakan program-program pemberdayaan bagi para orang tua murid untuk mendukung kemampuan atau skill dalam peningkatan pendapatan. Salah satunya, pelatihan pembuatan kerupuk maupun makanan ringan lainnya yang digelar bersama dengan Sentra Pangurangi Takalar.

"Dibelikan bahannya, kemudian dibelikan alatnya oleh pihak sentra. Jadi alhamdulillah, mereka sekarang sudah biasa. Ada yang bahkan sudah jual di toko-toko kecil mereka di rumah, buka warung sendiri," ungkap Jufrianto.

Sementara itu, Wakasek Kurikulum SRT 1 Kabupaten Bogor, Haris menyampaikan, pihaknya tidak hanya berfokus dalam melatih kemampuan vokasi para siswa, tetapi juga mengajarkan proses mulai dari hulu hingga ke hilir. Sehingga kelak setelah mereka lulus sekolah, diharapkan mampu mengangkat derajat keluarga.

Adapun program pemberdayaan yang dilakukan di SRT 1 Kabupaten Bogor di antaranya Lelepreuner atau pelatihan pengelolaan budidaya lele hingga bidang kesenian, yakni belajar memainkan dan membuat angklung dengan menggandeng sanggar-sanggar seni lokal.

"Dari mulai penyiapan bahan baku hingga pengemasan produk jadinya dan kemudian bagaimana mereka memasarkan itu. Karena kalau berbicara pendidikan yang dinilai itu bukan instan, satu tahun, dua tahun, tapi jangka panjangnya, proses yang kita nilai," kata Haris.

"Sehingga kita beri siswa itu waktu untuk proses bahwa ketika kalian lulus, ya kalian harus bisa berdaya, kalian harus bisa graduasi menjadi ujung tombak pemutus mata rantai kemiskinan keluarga. Karena yang disiapkan bukan hanya akademik, vokasinya juga disiapkan, dan itu semua dikembangkan di sekolah rakyat," tambahnya.

Wakasek Kesiswaan SRMA 14 Bandung Barat, Dimas Mulyana menjelaskan, pihak sekolah memiliki 15 kegiatan ekstrakulikuler untuk memfasilitasi, memberi ruang bagi para siswa sesuai minat dan bakat nonakademik mereka masing-masing. Mulai dari olahraga, kesenian, keagamaan, hingga organisasi.

"Sehingga, melalui minat dan bakat ini, alhamdulillah, kepercayaan diri anak-anak meningkat melalui minat dan bakat karena kan sering action gitu. Jadi, alhamdulillah, prestasi meningkat, kepercayaan diri meningkat. Akhirnya yang tadi, pemberdayaan itu, yang akan kita (dorong), anak berani jadi juara satu di tingkat provinsi, di tingkat nasional," jelas Dimas.

Kemudian, Wali Asrama SRT 1 Kabupaten Kediri, Moh Nursalim menyebut, pihak sekolah juga fokus pada pendampingan bagi siswa-siswi. Mereka didorong untuk lebih aktif dan berprestasi, baik dalam hal akademik maupun non-akademik.

 "Jadi slogan di kita, tidak ada anak tanpa kegiatan, tidak ada anak tanpa pendampingan," ujarnya.

"Nanti harapannya, ketika lulus, mereka tidak menganggur. Dan itu terbukti, sekarang, di (sekolah) kita sudah ada anak kelas 2 (SMA) yang mereka punya golden ticket ke kuliah, padahal masih kelas 2," pungkas Nursalim.***

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com