Suara.com - Krisis air bersih akibat kekeringan di Nusa Tenggara Barat tak hanya menyulitkan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Studi Plan Indonesia menemukan, anak perempuan turut menanggung dampaknya karena harus mengambil air untuk keluarga, sehingga waktu belajar, bermain, dan beristirahat mereka berkurang.
Di sisi lain, keterlibatan anak perempuan dan perempuan muda dalam pertemuan pengelolaan air, sanitasi, dan kebersihan hanya sekitar 3 persen.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Perempuan edisi 2026 melalui penelitian Novika Noerdiyanti dan Herning Tyas Ekaristi dari Plan Indonesia. Penelitian dilakukan melalui survei terhadap 260 rumah tangga di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, serta Kabupaten Manggarai dan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 2024. Peneliti juga melakukan wawancara mendalam dengan anak-anak.
Kekeringan menjadi ancaman iklim yang paling banyak dilaporkan responden. Seluruh responden di Kupang (100 persen) menyebut kekeringan sebagai ancaman, disusul Sumbawa sebesar 87 persen dan Manggarai 83 persen.
Krisis air bersih berlangsung rata-rata dua bulan per tahun, dengan durasi satu hingga 12 bulan dan puncak pada Juni hingga Desember. Sebagian rumah tangga bahkan harus mengeluarkan sedikitnya Rp50.000 per minggu untuk membeli air.
Beban air mengganggu aktivitas anak
Seorang anak perempuan berusia 11 tahun di Kupang bercerita bahwa ia dan kakak perempuannya harus mengambil air setiap pagi dan sore. Dalam sekali mengambil air, ia bisa bolak-balik lima hingga enam kali sambil membawa ember.
Tugas tersebut terkadang membuatnya terlambat ke sekolah. Waktu bermainnya juga bergantung pada penyelesaian pekerjaan rumah tersebut.
"Bapak bilang sorenya boleh bermain setelah selesai mengambil air dulu," ujarnya dalam wawancara yang dikutip penelitian.
Dampak serupa dialami anak-anak di Manggarai. Seorang anak berusia 10 tahun mengaku kelelahan saat belajar karena harus mengambil air pada pagi hari. Sementara itu, anak berusia sembilan tahun mengatakan kerap berangkat tanpa mandi ketika air langka.
Menurut para peneliti, dampak krisis air terhadap pendidikan tidak selalu berupa ketidakhadiran di sekolah. Anak-anak tetap bisa mengikuti pelajaran, tetapi dalam kondisi lelah atau tanpa akses memadai untuk menjaga kebersihan diri.
Krisis air juga menimbulkan risiko keselamatan. Seorang anak berusia 16 tahun dengan disabilitas di Manggarai mengaku takut terjatuh ke sumur karena alat penimba air lebih berat daripada berat badannya. Survei turut mencatat 9 persen perempuan dan anak perempuan merasa malu atau tidak nyaman menggunakan jamban, terutama saat menstruasi.
Partisipasi dalam keputusan masih rendah
Ketimpangan juga terlihat dalam pengambilan keputusan. Hanya 3 persen anak dan perempuan muda yang terlibat dalam pertemuan terkait air, sanitasi, dan kebersihan. Angka yang sama ditemukan pada persepsi masyarakat yang menilai mereka mampu menjadi pemimpin dalam isu tersebut.
Sebagai perbandingan, laporan WHO dan UNICEF pada 2025 menyebut perempuan dan anak perempuan berusia 15 tahun ke atas bertanggung jawab mengambil air di tujuh dari 10 rumah tangga yang tidak memiliki akses air di dalam rumah.
Para peneliti mendorong penyediaan akses air yang lebih dekat dengan rumah serta penguatan mekanisme konsultasi anak, seperti Forum Anak. Dengan begitu, kebijakan adaptasi iklim tidak hanya mengatasi kekeringan, tetapi juga mempertimbangkan beban dan kebutuhan anak perempuan.
Penulis: Inesia Dian