Satu Tahun Sekolah Rakyat Rangkul 44 Ribu Siswa, Gus Ipul: Negara Hadir Memutus Rantai Kemiskinan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:29 WIB
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan arahan Presiden Prabowo dalam acara peringatan satu tahun Sekolah Rakyat di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026). [Dok. Kemensos]
BACA 10 DETIK
  • Kementerian Sosial mencatat program Sekolah Rakyat gagasan Presiden Prabowo telah menjangkau 44 ribu siswa di 182 titik selama satu tahun.
  • Pemerintah memberikan pendidikan, bantuan sosial, perbaikan rumah, serta modal usaha guna memutus rantai kemiskinan antargenerasi di berbagai daerah.
  • Siswa program tersebut berhasil meraih ratusan prestasi nasional maupun internasional serta melanjutkan pendidikan tinggi melalui beasiswa penuh.

Suara.com - Kementerian Sosial (Kemensos) mencatat program Sekolah Rakyat telah menjangkau 44 ribu siswa di 182 titik sekolah setelah berjalan satu tahun. Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini juga menyasar keluarga siswa melalui bantuan sosial, perbaikan rumah, hingga pemberian modal usaha untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, Sekolah Rakyat merupakan wujud kehadiran negara untuk memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.

"Di Sekolah Rakyat, ketiga pasal itu bertemu dalam satu tubuh: seorang anak," ujar Gus Ipul saat peringatan satu tahun Sekolah Rakyat di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026).

Ia merujuk pada Pasal 31, Pasal 34 ayat (1), dan Pasal 33 UUD 1945 sebagai landasan konstitusional program tersebut.

Gus Ipul menegaskan, kemiskinan tidak boleh diwariskan dari orang tua kepada anak. Karena itu, pemerintah berupaya membuka akses pendidikan sekaligus memperbaiki kondisi keluarga siswa.

"Kalau bapaknya pemulung, anaknya tidak boleh jadi pemulung. Kalau bapaknya tukang becak, anaknya tidak perlu harus jadi tukang becak," tegas Gus Ipul mengutip arahan Presiden Prabowo.

Dalam pelaksanaannya, Sekolah Rakyat menerapkan sistem penjangkauan berbasis data, bukan pendaftaran reguler. Para pendamping sosial mendatangi keluarga kurang mampu secara langsung di 497 kabupaten/kota.

Dari proses penjangkauan tersebut, pemerintah menemukan lebih dari 180 ribu anak usia sekolah telah bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

Setelah dijangkau, siswa menjalani pemeriksaan kesehatan, pemulihan psikologis, matrikulasi, serta pemetaan bakat melalui Talent DNA. Dari 11 ribu anak yang telah dipetakan, empat dari 10 anak diketahui memiliki bakat kuat di bidang sains dan teknologi.

Gus Ipul mengatakan, pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga penguatan kesehatan fisik, mental, kepercayaan diri, dan karakter siswa.

Saat ini, proses pembelajaran dan pengasuhan didukung hampir 5.000 guru, 7.000 wali asuh, serta lebih dari 2.000 wali asrama.

“Mereka bukan sekedar pendidik dan pengasuh. Mereka adalah ayah dan ibu kedua bagi anak-anak,” ucap Gus Ipul.

Siswa Sekolah Rakyat asal Papua menampilkan tarian Papua dalam acara peringatan satu tahun Sekolah Rakyat di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026). [Dok. Kemensos]

Prestasi

Kemensos mencatat, dari 100 titik Sekolah Rakyat permanen, sebanyak 93 titik telah beroperasi dan tujuh lainnya masih dalam pembangunan. Selain itu, terdapat 82 Sekolah Rakyat rintisan sehingga totalnya mencapai 182 titik dengan 44 ribu siswa.

Dalam satu tahun, siswa Sekolah Rakyat juga meraih 11 prestasi internasional dan lebih dari 200 prestasi nasional. Lebih dari 1.100 siswa tercatat berprestasi di bidang olahraga, seni, dan sains.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com