-
Bareskrim Polri mengusut perekrutan 58 WNI yang dijanjikan gaji tinggi namun dijadikan tentara Rusia.
-
Jaringan perdagangan orang ini berkoordinasi dengan intelijen luar negeri dan instansi diplomatik terkait.
-
Dua WNI dilaporkan gugur di medan perang setelah terbujuk informasi pekerjaan logistik palsu.
Suara.com - Bareskrim Polri membongkar sindikat perdagangan orang yang menjebak 58 warga negara Indonesia atau WNI ke dalam medan perang Rusia sebagai tentara bayaran Rusia melawan Ukraina. Para korban awalnya diiming-imingi tawaran pekerjaan di sektor logistik hingga penjaga benteng pertahanan dengan gaji mencapai Rp50 juta tiap bulan.
Penyidik kini memproses lima laporan polisi guna membongkar tuntas akar jaringan perekrutan internasional tersebut. Sindikat ini memaksa para buruh menandatangani kontrak militer tak lama setelah mereka tiba di wilayah konflik.
Nilai imbalan tinggi dipakai para pelaku untuk memikat calon korban yang tidak menyadari risiko dikirim ke garis depan. Polri menjalin komunikasi intensif dengan kepolisian Moskow serta melibatkan Kementerian Luar Negeri untuk melacak keberadaan para korban.
Langkah diplomatik dan hukum terus dimaksimalkan demi menghentikan alur pengiriman warga Indonesia ke zona tempur.
“Kami berkoordinasi melalui Divisi Hubungan Internasional Polri dan Kementerian Luar Negeri. Semuanya masih dalam pendalaman lebih lanjut. Tentu akan kami sampaikan perkembangan terbaru apabila ada informasi baru,” tutur Nurul kepada CNA, Selasa (3/11/2026).
Penetapan status hukum narasumber dan penelusuran dokumen perjalanan terus diintensifkan oleh penyidik di lapangan.
Pemerintah berkomitmen memberikan perlindungan maksimal bagi seluruh warga negara dari bentuk eksploitasi berbahaya di luar negeri.
Laporan dinas intelijen luar negeri Ukraina sebelumnya mendeteksi manuver Kremlin yang memanfaatkan tenaga asing demi menutupi krisis personel militer.
Dokumen visa dan berkas identitas resmi mengungkap keberadaan setidaknya delapan WNI yang sudah memasuki area tempur.
Beberapa mantan anggota instansi keamanan domestik tercatat ikut terperangkap dalam skema perekrutan berisiko tinggi tersebut.
Seorang bekas prajurit Marinir bernama Satria Arta Kumbara sempat meminta pertolongan Presiden Prabowo Subianto melalui rekaman video saat dirinya terluka.
Jejak keberadaan Satria mendadak hilang tanpa kabar sejak pertengahan Agustus 2025 lalu.
Nasib tragis juga menimpa mantan anggota Brimob Muhammad Rio yang terkonfirmasi ikut bergabung dalam jajaran pasukan tempur.
Dua warga Indonesia lainnya dilaporkan gugur setelah terjebak di tengah kecamuk pertempuran darat.
Taufiq Muhammad asal Sorong tewas dalam laga pertamanya usai terbujuk tawaran kerja dari agen penyalur.